Selasa, 30/06/2026, 22:45:40
Dari Puisi karya Sudirman Said: Pejabat Tanpa Rem Moral
OLEH: KHEYRA KANEISHIA
.

PUISI “Ngerém Kabongan” merupakan alih wacana dari puisi berjudul “Kendalian Diri” karya Sudirman Said yang terangkum dalam buku Bergerak dengan Kewajaran: Antologi Kedua Pemikiran Sudirman Said, halaman 216, cetakan ketiga tahun 2024. Buku ini termasuk buku laris, menarik, dan aos dalam cara penulisannya. Isi buku tersebut memuat berbagai gagasan, refleksi, serta pandangan Sudirman Said mengenai bangsa, kepemimpinan, dan moralitas publik.

Buku ini layak dimiliki, terutama oleh para pengambil kebijakan: pejabat tingkat daerah, provinsi, pusat, hingga anggota dewan. Sebab, kekuasaan tanpa kendali diri kerap berubah menjadi alat pemuas ambisi pribadi. Jabatan yang semestinya menjadi amanah sering kali justru dipakai untuk memperkaya diri sendiri dengan mengesampingkan kepentingan rakyat.

Salah satu hal menarik dari buku itu, pemikiran Sudirman Said tidak hanya dituangkan dalam artikel, wawancara, atau pandangan yang disampaikan dalam sesi berita. Beberapa pemikirannya juga dilabuhkan dalam bentuk puisi. Melalui puisi, gagasan yang berat justru terasa lebih padat, reflektif, dan menghunjam kesadaran pembaca.

Salah satu di antaranya adalah puisi “Kendalian Diri” ditulis di Jakarta, 26 Januari 2017 oleh Sudirman Said, dialihwacanakan ke dalam basa Tegalan menjadi “Ngerém Kabongan” oleh Lanang Setiawan. Alih wacana ini membuat pesan puisi terasa lebih membumi, lebih dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari, dan justru terasa tajam dengan daya kritiknya yang menggigit. Ungkapan ngerém kabongan sendiri sangat kuat secara makna: tembun ini bukan sekadar menahan diri, tetapi mengerem kerakusan, ketamakan, keserakahan, dan hawa nafsu yang melampaui batas. Berikut ini puisinya secara lengkap.

NGERÉM KABONGAN

Cukup,

kuwé dudu perkara sapira sing nyong sampéyan duwéni,

tapi perkara suasané ati.

Lan, awaké nyong sampéyan sing ngukur déwék

 

Rampung,

kuwé dudu perkara sapira adohé nyong sampéyan mlaku

tapi perkara suasané ati.

Lan, awaké nyong sampéyan sing bisa ngrasakna déwék

 

Pinter,

kuwé dudu perkara sapira gelar sarjana sing enyong sampéyan nduwéni,

tapi perkara suasané ati.

Lan, awaké nyong sampéyan sing bisa naker déwék

 

Kuwat,

kuwé dudu perkara sapira duwuré jabatan lan gedéné kuwasa,

tapi perkara ati.

Lan, awaké nyong sampéyan sing bisa ngendalikna déwék

 

Nyong sampéyan sokan takon,

kenangapa akéh wong sugih porét, jembar ilmuné,

duwur jabatané, lan gedé kuwasané,

tapi kok ya mégin nyolong uga.

 

Kuwé perkara moh ngerém kabongan

Tegal, 30 Juni 2026

Puisi ini dibangun dengan pola repetitif melalui empat kata kunci: cukup, rampung, pinter, dan kuwat. Keempatnya menjadi pintu masuk untuk membedah satu persoalan besar dalam hidup manusia: pengendalian diri.

Pada bait pertama, kata "cukup" tidak dimaknai sebagai jumlah materi yang dimiliki seseorang. Puisi ini menegaskan bahwa cukup adalah perkara suasana hati. Ada orang yang hartanya melimpah, rumahnya megah, mobilnya banyak, rekeningnya gemuk, tetapi tetap 'makmak',  merasa kurang. Sebaliknya, ada orang sederhana yang hidupnya pas-pasan, namun batinnya tenang karena tahu batas antara kebutuhan dan keserakahan. Dengan kata lain, rasa cukup lahir dari hati yang terdidik, bukan dari dompet yang tebal.

Bait kedua berbicara tentang "rampung". Selesai ternyata bukan semata-mata soal seberapa jauh perjalanan yang sudah ditempuh. Banyak orang telah melangkah jauh, meraih banyak pencapaian, bahkan sampai puncak karier, tetapi batinnya tetap kosong. Ia tampak berhasil di mata dunia, namun gagal menemukan ketenangan dalam dirinya. Puisi ini mengingatkan bahwa makna perjalanan hidup bukan hanya pada jarak tempuh, tetapi pada kualitas batin selama menjalani perjalanan itu.

Bait ketiga tentang "pinter" merupakan kritik keras terhadap cara masyarakat memuja gelar akademik. Kita sering menganggap orang berpendidikan tinggi otomatis bijak dan bermoral. Nyatanya tidak demikian. Gelar sarjana, magister, doktor, bahkan profesor tidak menjamin seseorang punya integritas. Banyak kejahatan justru dilakukan oleh orang-orang yang cerdas, terdidik, dan memahami sistem. Mereka tahu hukum, tetapi juga tahu celah untuk memanipulasinya. Kecerdasan tanpa nurani hanya melahirkan kelicikan yang lebih rapi.

Lalu bait "kuwat" menjadi puncak penegasan. Kekuatan bukan soal jabatan tinggi atau kekuasaan besar. Kekuatan sejati adalah kemampuan menahan diri ketika kesempatan untuk menyalahgunakan wewenang terbuka lebar. Di sinilah ukuran moral seseorang diuji. Orang yang terlihat kuat karena berkuasa bisa jadi sebenarnya sangat lemah bila ia tak mampu menolak godaan uang, fasilitas, dan pujian.

Bait terakhir adalah hantaman paling telak. Penyair mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ada dalam benak masyarakat: mengapa banyak orang kaya raya, ilmunya luas, jabatannya tinggi, dan kekuasaannya besar, tetapi masih mencuri?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menampar keras ke muka penjahat. Karena mereka tidak mampu ngerém kabongan.

Kabongan di sini dapat dipahami sebagai kerakusan yang tumbuh dari ego yang membesar. Ketika seseorang merasa dirinya penting, merasa punya kuasa, merasa kebal hukum, maka lahirlah mental “boleh mengambil lebih.” Dari sanalah keserakahan tumbuh. Rem moral perlahan rusak. Hati yang semula peka menjadi tumpul.

Puisi ini sangat relevan dengan realitas sosial-politik Indonesia hari ini. Kita berkali-kali menyaksikan pejabat bergaji besar, fasilitas lengkap, rumah mewah, tetapi tetap korupsi. Mereka mencuri bukan karena lapar. Mereka mencuri karena rakus. Yang dirampok bukan uang pribadi seseorang, melainkan hak rakyat.

Ada yang menggerogoti dana bantuan sosial. Ada yang memainkan anggaran pembangunan. Ada yang mempermainkan proyek pengadaan barang. Ada yang sengaja menaikkan harga melalui mark up agar selisihnya masuk kantong pribadi. Ada yang menjadikan tender sebagai bancakan kelompok. Ada pula yang bermain dalam regulasi harga jual kebutuhan publik sehingga rakyat kecil dipaksa membeli dengan harga yang tidak masuk akal. Mencekik leher.

Ironisnya, pelaku kejahatan seperti ini sering tampil rapi dengan jas mahal, bicara tentang etika di podium, dan tersenyum di depan kamera. Mereka terlihat terhormat, padahal sesungguhnya bangsa belis, yang sedang merampok secara sistematis.

Inilah mengapa puisi “Ngerém Kabongan” terasa begitu penting. Ia tidak menawarkan teori rumit. Ia hanya mengingatkan satu hal mendasar: manusia harus punya rem batin. Tanpa rem itu, ilmu berubah menjadi alat tipu daya, jabatan berubah menjadi alat pemerasan, dan kekuasaan berubah menjadi mesin perampokan.

Para pengambil kebijakan perlu bercermin pada puisi ini. Jangan mencuri uang rakyat. Jangan mark up pembelian barang dan proyek. Jangan korupsi. Jangan memainkan harga jual demi keuntungan kelompok. Jangan semena-mena memperdagangkan kebijakan seolah jabatan adalah milik pribadi.

Rakyat mungkin tidak selalu tahu bagaimana permainan angka dilakukan di balik meja rapat, tetapi rakyat tahu saat sedang dibohongi. Dan sejarah selalu punya cara untuk menelanjangi para pencuri berdasi.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang justru orang pintar yang punya rem moral. Sebab kehancuran sebuah negeri sering bukan karena kebodohan, melainkan karena kecerdasan yang kehilangan nurani.

Pada akhirnya, pesan puisi ini sangat gamblang: jabatan setinggi apa pun tidak membuat seseorang mulia jika hatinya busuk. Sebaliknya, orang biasa dengan hati bersih jauh lebih terhormat daripada pejabat korup yang hidup dari uang rakyat.

Karena itu, sebelum menyalahkan sistem, hukum, atau keadaan, setiap orang—terutama yang memegang kekuasaan—perlu bertanya pada dirinya sendiri: apa rem moral dalam diri ini masih berfungsi, atau justru sudah blong?

Sebab ketika rem itu blong, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita