Selasa, 24/03/2026, 14:05:00
WFA dan Sekolah Online 2026: Cara Malas Pemerintah 'Merumahkan' Rakyat Demi Menutup Borok Krisis BBM
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

Ilustrasi

PanturaNews – Keputusan pemerintah untuk memberlakukan kembali Work From Anywhere (WFA) dan Sekolah Daring secara masif mulai April 2026 dengan dalih efisiensi BBM adalah sebuah lonceng kematian bagi produktivitas nasional. 

Kebijakan ini bukan sekadar inovasi digital, melainkan pengakuan dosa yang dibungkus rapi: pemerintah gagal mengelola kedaulatan energi dan kini rakyat yang harus memikul bebannya dengan cara "dikurung" di rumah.

Solusi Instan yang Malas

Menghemat BBM dengan cara menghentikan mobilitas warga adalah logika yang sangat dangkar. Menyuruh jutaan pekerja dan siswa tinggal di rumah hanya untuk menekan angka konsumsi bensin adalah bentuk "penyerahan diri" pemerintah terhadap spekulan energi dan ketidakmampuan mengamankan stok nasional. Ini adalah kebijakan malas yang mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi menyelamatkan muka APBN yang bocor.

Ironi "Makan Bergizi Gratis" di Tengah Jalan yang Sepi

Yang paling mengusik nalar adalah rencana program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan dengan cara "menjemput" siswa ke sekolah. 

Mari kita hitung logikanya: Jika sekolah daring bertujuan menghemat BBM, namun ribuan armada jemputan pemerintah tetap harus keliling setiap hari hanya untuk mengantar-jemput anak demi satu porsi makan, di mana letak penghematannya? Ini adalah paradoks birokrasi yang nyata. Pemerintah menghemat subsidi BBM di satu kantong, tapi membuang-buang anggaran logistik di kantong yang lain. 

Apakah bensin yang digunakan armada jemputan pemerintah berbeda dengan bensin rakyat? Ini bukan penghematan energi, ini hanya pengalihan beban operasional dari sektor privat ke sektor publik yang rawan korupsi dan inefisiensi.

Menghancurkan Ekonomi Akar Rumput

Pemerintah seolah buta terhadap ekosistem ekonomi yang hidup dari mobilitas manusia. Jutaan pedagang kantin, pemilik warteg di area perkantoran, driver ojek online, hingga pelaku UMKM alat tulis akan kehilangan nafas seketika.

Saat pemerintah berdalih "digitalisasi", mereka lupa bahwa kompor di dapur rakyat kecil tidak bisa menyala hanya dengan koneksi internet. Biaya listrik rumah tangga akan membengkak, kuota internet menjadi beban baru, sementara penghasilan mereka yang mengandalkan keramaian fisik dipaksa terjun bebas.

Perjudian Masa Depan: Ancaman Learning Loss Jilid II

Indonesia belum sepenuhnya pulih dari trauma akademik akibat pandemi COVID-19, namun kini pendidikan anak bangsa kembali terancam dijadikan tumbal kebijakan instan. 

Perlu ditegaskan bahwa sekolah bukan sekadar proses transfer data melalui layar Zoom atau Google Meet, melainkan sebuah ruang sosial bagi pembentukan karakter. Memaksa anak-anak kembali ke balik monitor demi "menghemat bensin" adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di masa depan.

Kebijakan ini memicu risiko berat berupa Learning Loss, sebuah kondisi hilangnya pengetahuan dan keterampilan akademik, baik secara spesifik maupun umum. Fenomena ini menciptakan kesenjangan kemajuan akademik yang lebar akibat jeda panjang atau proses pembelajaran yang tidak efektif. 

Secara konkret, learning loss mengakibatkan penurunan kemampuan literasi, numerasi, serta pemahaman konsep siswa yang dipicu oleh interaksi jarak jauh yang tidak optimal.

Mengapa Learning Loss Adalah Ancaman Serius?

Penyebab Utama: Gangguan pada proses belajar-mengajar konvensional, penutupan sekolah, minimnya interaksi fisik antara guru dan siswa, serta keterbatasan efektivitas pembelajaran daring.

Dampak Akademik Langsung: Siswa gagal mencapai standar kompetensi yang diharapkan, tertinggal jauh secara materi dibandingkan rekan sebaya, dan mengalami penurunan motivasi belajar yang drastis.

Indikator Kegagalan: Terlihat nyata dari rendahnya kemampuan literasi dasar, menurunnya kecakapan numerasi, hingga meningkatnya risiko angka putus sekolah.

Konsekuensi Jangka Panjang: Rendahnya kompetensi ini berpotensi mengurangi produktivitas dan pendapatan siswa di masa depan, yang pada akhirnya akan melumpuhkan kualitas SDM nasional serta menghambat pertumbuhan ekonomi negara.

Ringkasnya, learning loss adalah kemunduran peradaban dalam skala kelas. Memaksakan sekolah daring tanpa urgensi kesehatan yang jelas hanya akan memperlebar ketertinggalan penguasaan materi pelajaran. 

Jika kebijakan ini tetap dijalankan, bangsa ini akan dipaksa melakukan pemulihan energi yang mahal, sementara generasi mudanya terjebak dalam strategi remedial yang melelahkan hanya untuk mengejar ketertinggalan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kesimpulan

Kebijakan WFA dan Sekolah Online 2026 ini bukanlah langkah progresif menuju masa depan digital, melainkan langkah mundur seorang pengelola negara yang kehabisan ide. Rakyat tidak butuh dirumahkan, rakyat butuh energi yang terjangkau, transportasi publik yang layak, dan kepastian ekonomi.

Jika pemerintah tidak mampu mengelola urusan bensin, jangan lumpuhkan mobilitas bangsa. Jangan jadikan rumah rakyat sebagai "penjara" hanya untuk menutupi borok kegagalan manajemen energi nasional.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita