Minggu, 30/11/2025, 20:46:26
Warga Semedo Rayakan Kembalinya Raja Kera: Pentas Seni Kolosal Hidupkan Lagi Sejarah Gigantopithecus
MUSEUM SEMEDO KABUPATEN TEGAL
LAPORAN IWANG NIRWANA

Pentas Seni Kolosal “Kembalinya Sang Raja Kera: Kethek Raksasa Gigantopithecus Balik Maring Semedo” digelar sebagai bentuk perayaan kembalinya situs Gigantopithecus di halaman Museum Semedo. (Foto: Dok/Iwang)

...mereka hadir untuk menyaksikan orang-orang terdekat seperti suami, istri, hingga anak-anak tampil di panggung...

PanturaNews (Tegal) - Museum Semedo yang berlokasi di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, kembali menjadi pusat perhatian pada Minggu pagi pukul 09.00 WIB, 30 November 2025.

Sebuah Pentas Seni Kolosal berdurasi dua jam, digelar sebagai bentuk perayaan kembalinya situs Gigantopithecus figur prasejarah yang menjadi ikon penting bagi masyarakat setempat.

Pertunjukan bertajuk “Kembalinya Sang Raja Kera: Kethek Raksasa Gigantopithecus Balik Maring Semedo” ini menghadirkan rangkaian seni, tradisi, dan eksplorasi budaya yang hidup dalam ingatan kolektif warga Semedo.

Di bawah arahan sutradara Aziz Slamet Makmur, pentas ini melibatkan putra-putri Semedo dari berbagai usia, mulai dari generasi tua hingga anak-anak. Sejumlah pertunjukan khas turut mewarnai agenda tersebut, di antaranya:

Mural Massal Gigantopithecus, Tari Tandur Jagung, Cublak-Cublak Suweng, Teh Poci, Tari Topeng Endel, Tari Kuntulan, Terbang Jawa dan Sintren.

Rangkaian penampilan ini tak hanya memperlihatkan keragaman seni tradisi Semedo, tetapi juga menjadi wadah kreatif warga untuk mengangkat kembali nilai sejarah lokal yang selama ini terjaga.

Berbeda dengan pergelaran bertema serupa yang diadakan di Trasa Slawi dengan aksi panggung megah, pertunjukan di Museum Semedo tampil dengan kesederhanaan yang justru memancarkan kemewahan tersendiri.

Hampir 90 persen pengisi acara merupakan warga Semedo sendiri, sehingga suasana pertunjukan terasa hangat, meriah, dan penuh kedekatan.

Antusiasme penonton pun terlihat jelas mereka hadir untuk menyaksikan orang-orang terdekat seperti suami, istri, hingga anak-anak tampil di panggung yang berada di halaman museum.

Bahkan yang menarik ketika pentas sintren ada 2 warga yang tiba tiba secara spontan masuk ke panggung "nyawer" sintren dan meminta pertunjukan sintren terus berlanjut sementara dalang sintren terlihat kebingungan dalam skenarionya.

Meskipun penonton melihat, bahwa itu bagian dari skenario namun kejadian itu menunjukkan betapa pertunjukan serupa sangat diapresiasi oleh warga sekitar.

Sebagai tambahan, pada malam hari juga digelar Pagelaran Kolosal Babad Semedo di Taman Rakyat Slawi Ayu. Pertunjukan ini menghadirkan 10 dalang, 20 penari, serta 20 pemusik yang menampilkan interpretasi seni mengenai perjalanan budaya Semedo dari masa ke masa.

Kepala Unit Museum Situs Semedo, Gatut Eko Nurcahyo, mengungkapkan apresiasinya terhadap penyelenggaraan pertunjukan ini. Selain menjadi momen menyambut kembalinya beberapa fosil penting ke Museum Semedo, Gatut juga merasa bangga melihat semangat gotong royong warga yang berperan dalam kesuksesan acara tersebut.

"Pentas ini bukan hanya menyambut kembalinya fosil Gigantopithecus, tetapi juga menjadi bukti bahwa masyarakat Semedo memiliki komitmen kuat dalam merawat dan menghidupkan kembali nilai budaya serta sejarah lokal,” ujarnya.

Sementara itu, penulis naskah pertunjukan, Tutut Setiana, tak mampu menyembunyikan rasa harunya

"Saya tidak bisa berkata-kata. Saya sangat senang warga Semedo, terutama anak-anak, mau ikut tampil dan merayakan kegiatan Museum Semedo," tuturnya sambil menahan butiran air mata.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita