SEPERTI malam yang menua perlahan dan lampu-lampu kedai kopi yang meredup lembut di Jalan Arjuna, Slerok, Kota Tegal, sejumlah sastrawan Tegal pada Jumat, 28 November 2025 itu berkumpul dalam suasana tenang namun sarat getaran batin.
Udara pesisir yang bergerak pelan membawa aroma asin masa lalu, seakan menyertai bisik-bisik perjalanan 31 tahun sastra Tegalan yang terus mencari bentuk dan arah. Di meja-meja kayu yang sederhana, gagasan tumbuh, saling menyala, seperti bara kecil yang disiapkan menjadi nyala obor bagi masa depan.
Hadir malam itu Ridwan Rumaeny, pemain drama dan pegiat seni; Moh. Ayyub, penyair Tegalan; serta Lanang Setiawan -pelopor berdirinya Sastra Tegalan pada 26 November 1994- yang oleh para seniman disebut sebagai Begawan Sastra Tegal.
Lanang duduk dengan ketenangan seorang yang telah melalui perjalanan panjang kata dan makna. Puluhan novel, cerita rakyat, puisi, serta guyonannya telah bertebaran di buku-buku dan media massa. Di antara karya-karya itu, tampak jejak lintas benua: Laki Pilian yang membawa pembaca mengembara dari Tegal ke Prancis, Jerman, dan Italia.
Pasar Mitos yang berdenyut di Roma dan kanal-kanal Venesia; Pesona Markonah yang menelusuri kawasan Pompeii; serta Jodoh Surgawi yang melintasi Belanda, Prancis, Italia, hingga Jerman. Masih banyak novel lain yang memantulkan gaung Eropa melalui bahasa Tegalan -bahasa pesisir yang ternyata mampu menjangkau benua jauh di seberang laut.
Ridwan Rumaeny membuka percakapan malam itu dengan suara yang lembut, namun mengandung ketegasan arah.
“Sastra Tegalan sudah tiga puluh satu tahun. Kita punya sejarah panjang, punya karya yang kokoh. Sekarang waktunya kita memikirkan langkah baru -melampaui batas daerah, mengetuk pintu pasar global,” ujarnya.
Saya mengangguk, lalu menyampaikan kegelisahan yang sejak lama mengendap dalam benak.
“Anak-anak muda hidup di ruang digital. Jika ingin sastra ini bernafas panjang, kita harus hadir di dunia mereka. Karya Tegalan harus berjalan menuju para pembacanya,” kata saya.
Moh. Ayyub menimpali dengan suara yang berlapis lembut dan keyakinan.
“Bahasa daerah mungkin kecil di peta, tetapi kekuatannya justru ada pada kedekatannya dengan rasa. Sastra Tegalan ini punya arus khas yang tidak dimiliki daerah lain. Tinggal bagaimana kita mengemas dan merawatnya,” ujarnya.
Malam itu mencapai puncak ruhani ketika Lanang Setiawan mulai berbicara. Suaranya pelan, namun tiap kata mengalir seakan berasal dari sumur yang dalam.
“Sastra Tegalan lahir dari tanah pecah, dari riuh pasar, dari angin asin laut. Namun roh sastra tidak boleh berhenti di batas itu. Bahasa kita mungkin berakar di kampung, tetapi imajinasi kita tidak punya dermaga terakhir.”
Ia berhenti sejenak, seolah membiarkan kata-katanya meresap sebelum melanjutkan:
“Italia, Jerman, Prancis, Belanda -tempat-tempat itu pernah singgah dalam cerita yang kutulis. Dan dari situ aku belajar bahwa bahasa kecil pun bisa berjalan jauh, asal dibawa dengan cinta, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap kata mempunyai sayap.”
Kemudian ia menutup dengan pesan yang terasa seperti amanat bagi seluruh generasi penulis Tegalan.
“Kalau kita hanya menjaga, sastra ini akan diam. Tapi kalau kita menulis, menerbitkan, mementaskan, dan mempertemukannya dengan dunia, maka sastra ini akan tumbuh. Tugas kita bukan sekadar menjaga warisan, tetapi memastikan api ini tetap menyala untuk generasi setelah kita.”
Malam Arjuna itu berakhir dengan tekad bersama: memulai gerakan baru bagi sastra Tegalan -digitalisasi, pembinaan penulis muda, penguatan komunitas, hingga membuka jejaring internasional.
Dengan semangat yang lebih hangat daripada kopi yang kami teguk, kami berharap bahasa pesisir ini akan terus melangkah; menyeberangi ruang dan zaman. Tidak sekadar menjadi kebanggaan Tegal, tetapi menjadi suara kecil yang terdengar hingga ke negeri-negeri jauh.