Senin, 21/07/2025, 22:45:31
Matematika Sebagai Alat Untuk Mengukur Dan Mengurangi Kesenjangan Sosial Dan Ekonomi
OLEH: MAGHFIROTUN NADILA
.

MATEMATIKA bukan hanya sekedar ilmu hitung ataupun rumus-rumus saja, namun matematika juga memiliki peran penting dalam mengelola kehidupan manusia. Misalnya, matematika bisa dijadikan solusi dalam memecahkan masalah baik itu mengenai kesenjangan sosial ekonomi maupun dalam konteks lainnya yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Matematika tidak selalu menjadi sesuatu hal yang menakutkan untuk diselesaikan. Lebih dari itu, matematika juga menawarkan solusi melalui perencanaan yang tepat sasaran. Dengan melakukan pendekatan kuantitatif, matematika memungkinkan kita untuk mengolah data terkait distribusi pendapatan, tingkat kemiskinan, pengangguran, maupun pola-pola yang menjadi dasar dari ketimpangan yang terjadi secara matematis.

Sehingga dapat dilakukan rencana perumusan kebijakan sosial ekonomi yang didasarkan pada bukti yang lebih terukur, bukan hanya asumsi semata.  Dengan ini matematika bukan hanya menjadi sarana pemecahan materi pembelajaran saja, tetapi juga menjadi konsep dalam melakukan pemecahan permasalahan yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat.

Kesenjangan sosial ekonomi sendiri merupakan keadaan dimana ketidakseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pada masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Sebagian golongan masyarakat masih ada yang belum bisa memenuhi kebutuhannya dengan mudah mereka harus melakukan usaha keras terlebih dahulu, dan sebaliknya terdapat golongan yang dengan sangat mudah memenuhi kebutuhannya.

Terjadinya kesenjangan sosial ekonomi masyarakat ini disebabkan karena adanya ketidak seimbangan distribusi sumber daya, kesempatan, dan akses layanan publik di kalangan masyarakat menurut (P.I.M.ARI, 2023). 

Sebagaimana yang kita ketahui di Indonesia bahwa ketidakmerataan masih terjadi terutama diantara kalangan masyarakat yang hidup di perkotaan maupun pedesaan. Akses kesenjangan sosial ekonomi yang mencakup aspek-aspek dalam masyarakat sosial ini diantaranya, kualitas hidup dan peluang individu dalam masyarakat yang berkaitan dengan perbedaan pendapat antara individu maupun kelompok, akses menuju layanan kesehatan serta pendidikan yang lebih berkualitas.

Kesempatan kerja yang adil, dan kemampuan untuk mengakses sumber daya atau infrastruktur yang menjadi pendukung dalam pertumbuhan ekonomi. Polarisasi yang meningkat dapat terjadi karena adanya kesenjangan yang terjadi antara kelompok kaya dengan miskin, sehingga menciptakan masalah sosial dan ekonomi yang lebih kompleks dalam lingkungan masyarakat, serta menjadi penghambat dalam pembangunan yang berkelanjutan menurut (P.I.M.ARI, 2023).

Dari kesenjangan sosial dan ekonomi tersebut, sehingga banyak menimbulkan dampak yang merugikan di lingkungan sosial yang kurang beruntung, yaitu seperti:

-1. Meningkatnya Kemiskinan dan Pengangguran

Terjadinya kekurangan sumber daya dan penghasilan untuk memenuhi berbagai aspek kebutuhan seperti dalam rumah tangga, makanan, pakaian, pendidikan, maupun tingkat kesehatan yang layak merupakan beberapa alasan yang berkaitan dengan masalah kemiskinan.

Kemiskinan juga berkaitan dengan adanya kekurangan potensi dalam pekerjaan, dan orang-orang yang akhirnya berdampak pada stabilitas sosial dan ekonomi. Meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan tersebut belum terjadi secara merata, karena strategi yang digunakan masih lebih mengutamakan percepatan pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan pemerataan, dan masih dikuasai oleh kelompok masyarakat yang kaya, sehingga dapat menimbulkan kesenjangan dan ketimpangan penghasilan dalam masyarakat sosial. Oleh karena itu, tingkat kemiskinan dapat dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pengangguran yang diukur dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

-2. Akses Terbatas Terhadap Pendidikan dan Kesehatan

Ketimpangan sosial juga dikenal ketika terjadi di berbagai bidang masyarakat. Perbedaan yang terjadi antara kelas atas dengan kelas bawah juga bisa dibandingkan dengan masalah ini. Orang-orang dari kelas bawah banyak yang mengalami kesulitan dalam memperoleh akses ke layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih berkualitas tinggi.

Masalah ketimpangan ini dapat diperparah oleh biaya sekolah dan kesehatan yang mahal dan tidak memadai, sehingga menambah tingkat dalam lingkaran kemiskinan yang akan semakin sulit diatasi.

-3. Meningkatnya Ketimpangan Pemukiman

Wilayah yang memiliki infrastruktur yang baik hanya dapat dirasakan oleh masyarakat kelompok atas, sementara itu masyarakat yang kurang mampu tinggal di lingkungan yang kumuh atau bisa dibilang kurang memadai dengan risiko tinggi terhadap bencana lingkungan.

Keberadaan lingkungan kumuh yang di tempati masyarakat miskin di sekitar permukiman kelas atas akan menjadi salah satu bukti adanya masalah ketimpangan pemukiman yang benar-benar terjadi.

-4. Meningkatnya Ketidakpuasan Sosial dan Kemungkinan Konflik

Dampak lain yang akan terjadi dari ketimpangan sosial dan ekonomi ini yaitu meningkatnya rasa ketidakpuasan sosial yang memungkinkan terjadinya konflik. Rasa frustrasi dan kemarahan dapat muncul, jika ketika ada sekelompok individu yang merasa dikucilkan dan tidak memilik akses yang sama mengenai berbagai kemungkinan ekonomi.

Ketidakstabilan politik, protes sosial, dan peningkatan kejahatan ini adalah beberapa contohnya. Hal ini akan menjadi faktor penyebab yang sulit untuk membangun suasana yang damai dan stabil jika masih terjadi ketidakseimbangan kesejahteraan ekonomi di kalangan masyarakat menurut (Alwi et al., 2025).

Kesenjangan ini terlihat dari perbedaan pendapatan, kekayaan, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja di antara berbagai kelompok masyarakat. Untuk memahami dan mengukur kesenjangan ini secara objektif dan ilmiah, diperlukan pendekatan yang dapat diandalkan. Di sinilah konsep dan alat-alat matematika memainkan peran penting.

Pendekatan matematika memberikan cara yang kuantitatif dan lebih terukur untuk menggambarkan, menganalisis, dan memprediksi tingkat ketimpangan sosial dan ekonomi, serta dampak dari kebijakan yang diterapkan.

Alat-alat yang umum digunakan antara lain adalah indeks gini, statistik deskriptif, kurva Lorenz, dan pemodelan matematis seperti (Model Regresi Linier dan Model Geographically Weighted Regression (GWR)) diantaranya sebagai berkut:

-1. Indeks Gini: Indeks Gini berfungsi untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan. Koefisien Gini merupakan ukuran ketimpangan pendapatannya yang hanya berkisaran antara nol sampai satu.

Jika nilai Gini sama dengan nol, berarti pemerataan yang dilakukan atau disparitas rendah. Dan jika nilai Gini adalah 1 maka distribusi pendapatan tidak merata sama sekali atau terdapat disparitas pendapatan yang tinggi menurut (Wardhana, 2021) dalam (Frisnoiry et al., 2024).

Rumus yang digunakan untuk menghitung Indeks Gini adalah:

Keterangan: G = Indeks Gini. Pi = Menunjukan presentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i. Qi = Menunjukan presentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas-i. Qi -1 = Menunjukan presentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i. K = Banyaknya kelas pendapatan.

Apabila: G < 0,3 = Menunjukan ketimpangan rendah. 0,3 ≤ G ≤ 0,5 = Menunjukan ketimpangan sedang. G > 0,5 = Menunjukan ketimpangan tinggi

-2. Statistika Deskriptif: Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata semua penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita merupakan pendapatan dari hasil pembagian pendapatan nasional di suatu negara dengan jumlah penduduk dari negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PRDB per kapita menurut (Wikipedia, 2022)

-3. Kurva Lorenz: Kurva Lorenz juga bisa digunakan untuk melihat tingkat ketimpangan pendapatan, dalam hal ini hanya akan memperlihatkan hubungan-hubungan secara kuantitatif antara persentase penerimaan pendapatan dengan persentase pendapatan total yang diterima selama satu periode tertentu.

Bentuk Kurva Lorenz digambarkan dalam sebuah kotak dimana garis horizontal nya menggambarkan persentase penduduk yang menerima pendapatan dan garis vertikal nya menggambarkan persentase pendapatnya. Ketimpangan wilayah akan menjadi semakin rendah, jika garis pada kurva memiliki bentuk yang semakin mendekat dengan diagonal nya dan jika kurva menjauh dari diagonal maka ketimpangan akan meningkat menurut (Mona Adriana, 2023).

-4. Model Matematis:

-a. Metode Clustering (Pengelompokan Wilayah): Digunakan untuk mengelompokkan provinsi menurut karakteristik tingkat ketimpangan dan pertumbuhan ekonominya. Dengan metode ini bisa menunjukan hasil bahwa tidak semua wilayah di indonesia mengalami pola ketimpangan yang sama.

-b. Model Ekonometrik ARDL (Autoregressive Distributed Lag): Model ini digunakan untuk menganalisis hubungan dinamis antara dua variabel utama: pertumbuhan ekonomi dan Ketimpangan pendapatan (misalnya, rasio Gini). Temuan ini memiliki peran penting dalam menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, namun hubungan tersebut berbeda-beda antar wilayah tergantung karakteristiknya menurut (Kessy & Romadhoni, 2021).

Ternyata matematika bukan hanya sekedar ilmu yang mempelajari perhitungan maupun rumus saja, namun matematika juga bisa digunakan untuk memecah kah sebuah permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam menyelesaikan persoalan kesenjangan sosial ekonomi dengan menggunakan alat-alat matematis.

Lebih dari itu, matematika juga menawarkan solusi melalui perencanaan yang tepat sasaran. Misalnya, dengan memanfaatkan model statistik dan prediksi tren ekonomi, pemerintah atau lembaga terkait dapat merancang program intervensi yang lebih efisien dan berkeadilan.

Dengan memperdalam pemahaman mengenai matematika kita dapat menggunakannya untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupan dengan logika dan secara matematis. Maka dari itu kita tetap mempertahankan ilmu matematika untuk mempermudah manusia dalam memecahkan sebuah permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

(DAFTAR PUSTAKA: Alwi, A., Najamuddin, & Mutmainnah, N. (2025). Dampak Kesenjangan Sosial dan Ekonomi terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kota Makassar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9, 10602–10610. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/26342.

Frisnoiry, S., Febrianti, D. A., Tambunan, E. E. B., & Tarigan, G. H. (2024). Problems of Income Disparity Based on the Gini Ratio in the Indonesian Economy. Indonesian Journal of Banking and Financial Technology, 2(2), 125–138. https://doi.org/10.55927/fintech.v2i2.8851.

Kessy, D. P., & Romadhoni, D. R. (2021). Analisis Hubungan Dinamis Pertumbuhan Ekonomi Dan Ketimpangan Pendapatan Indonesia Menggunakan Clustering Dan Model Ekonometrik. Jurnal MSA ( Matematika Dan Statistika Serta Aplikasinya ), 9(1). https://doi.org/10.24252/msa.v9i1.18548.

Mona Adriana. (2023). Determinasi Ketimpangan Eilayah Kabupaten /Kota Provinsi Jawa Tengah (2010-2020). Jurnal Ekonomi Trisakti, 2(2), 2117–2128. https://doi.org/10.25105/jet.v2i2.17448.

P.I.M.ARI, A. D. A. & K. R. M. & T. F. A. & F. I. S. &. (2023). MENGURAI BENANG KUSUT KESENJANGAN SOSIAL EKONOMI: STRATEGI MENUJU MASYARAKAT YANG ADIL DAN SEJAHTERA (Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomika Dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya). Jurnal Ekonomi, Manajemen Dan Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Enam-Enam Kendari, 1(2), 401–407. https://doi.org/10.572349/neraca.v1i2.163%0Ahttps://jurnal.kolibi.org/index.php/neraca/article/view/163. Wikipedia. (2022). Pendapatan per kapita. Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses pada 17 Juli 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_per_kapita)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita