PanturaNews (Tegal) — Seolah hidup di negeri yang tak terjamah pembangunan, Warno (65), warga Dukuh Karangsari, Desa Wotgalih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, harus ditandu menggunakan bambu dan sarung saat hendak dibawa ke rumah sakit.
Kondisinya yang sakit parah tak cukup menjadi alasan bagi infrastruktur untuk lebih peduli.
Demi menyelamatkan sang ayah, dua orang warga harus menempuh medan ekstrem sejauh 3,5 kilometer, melewati hutan, jalan becek, berlumpur, bahkan menyeberangi sungai hanya untuk bisa mencapai aspal di Desa Gongseng, Kabupaten Pemalang. Dari situ barulah kendaraan bisa digunakan.
“Kami tidak punya pilihan lain. Jalan tidak bisa dilalui motor, apalagi mobil. Harus ditandu,” ujar Aeni, anak Warno, Rabu (6/7/2022).
Dukuh Karangsari, yang berada di utara Kecamatan Jatinegara dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Kedungbanteng dan Warureja, terasa seperti “wilayah terasing” dalam peta Kabupaten Tegal. Selain jalan yang rusak berat, jaringan internet pun nyaris tak terjangkau. Listrik pun terbatas.
“Kalau ada yang sakit, ya begini. Ditandu. Kalau hujan, jangan harap bisa lewat dengan cepat. Kami berharap pemerintah tidak cuma datang saat pemilu,” sindir Aeni.
Tak hanya Karangsari. Akses utama penghubung Dukuh Wanarata ke pusat Kecamatan Jatinegara sepanjang 5 kilometer pun rusak parah. Aspal tinggal nama, selebihnya lubang dan lumpur yang kerap menjatuhkan pengendara.
Kepala Desa Wotgalih, Warji, membenarkan kondisi ini.
“Kami sudah sering mengajukan proposal perbaikan. Tapi entah kemana perginya. Padahal ini jalan satu-satunya warga kami,” ucap Warji.
Pemerintah desa mengaku telah berulang kali menyuarakan aspirasi warga, namun hingga kini belum terlihat aksi nyata dari pemerintah daerah.
Warga hanya berharap, mereka yang duduk di kantor ber-AC bisa sesekali turun menjejak lumpur, agar tahu bahwa ada rakyatnya yang harus memilih, menyelamatkan nyawa atau melawan jalan rusak.