Senin, 18/11/2024, 23:14:08
Startegi Penyelesaian Tantangan Dalam Kebijakan Implementasi Kurikulum Merdeka
OLEH: TRI UTAMI
.

KARAKTER seseorang untuk dapat berineteraksi di masyarakat dibentuk dengan adanya pendidikan. Semakin berkembangnya zaman pendidikan semakin menantang khususnya di era revolusi industri 4.0 hingga society 5.0 telah terjadi banyak perubahan di dunia pendidikan. Salah satunya kurikulum, kurikulum semakin mengalami perubahan sesuai dengan zamannya.

Kurikulum merdeka muncul sebagai langkah untuk meningkatkan fleksibilitas dan relevansi pendidikan dengan menitikberatkan pada pengembangan keterampilan serta potensi unik setiap siswa. Kurikulum merdeka bertujuan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan zaman yang terus berkembang serta mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang di perlukan dalam dunia kerja modern.

Menurut Budi (2010) tujuan utama dari kurikulm merdeka adalah untuk memperkuat daya saing bangsa Indonesia di tingkat global dengan mengembangkan kreativitas, keterampilan berpikir kritis dan literasi digital siswa.

Namun tidak dapat dipungkiri walaupun kurikulum merdeka menawarkan berbagi macam keuntungan dalam implementasinya tidaklah mudah.Berbagai macam tantangan muncul, baik dari dalam maupun dari luar dalam pelaksanaanya, terutama bagi guru dan siswa. Dalam menghadapi tantangan ini diperlukan adanya sinergi antara pendidik, siswa, orang tua dan berbagi pihak terkait menjadi sangat penting.

Artikel ini akan membahas tantangan yang dihadapi dalam implementasi kurikulum merdeka dan membahas berbagi strategi penyelesainnya. Penyelesaian tantangan tersebut sangat penting agar kurikulum merdeka dapat terlaksana dengan maksimal dan memberikan efek positif untuk perkembanga pendidikan.

Adapun tantangan implementasi kurikulum merdeka yaitu sebagai berikut:

-1) Keterbatasan SDM (kekurangan buku dan materi ajar yang sesuai dengan kurikulum merdeka. Serta fasilitas teknologi yang belum memadai untuk mendukung pembelajaran digital).

-2) Resistensi terhadap perubahan (sebagaian guru masih merasa nyaman dengan kurikulum lama dan kurang terbiasa dengan pendekatan baru. Dan kurangnya pemahan yang komperehensif mengenai tujuan dan keuntungan kurikulum merdeka (Sinaga, 2024)).

-3) Siswa, lingkungan dan keluarga (mindset seluruh warga sekolah belum terlatih dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kekurang kompakan siswa dalam kelompok projek, ketidak kompakan ini berasal dari ketidak cocokan antar anggota dan selanjutnya menimbulkan ketidak nyamanan dalam menjalankan kegiatannya. Maka perlunya startegi dalam mengkondisikan siswa serta membentuk kelompok yang solid adalah sebuah tantangan besar dalam keberhasilan pembuatan projek (Nisa, 2023)),

-4) Tantangan dalam Perubahan Paradigma Pendidikan (Kurikulum Merdeka membawa perubahan mendalam dalam pola pikir dan cara kerja sistem pendidikan. Pergeseran dari pendekatan yang berpusat pada guru ke pendekatan yang berfokus pada siswa memerlukan perubahan besar dalam budaya pendidikan.

Hal ini tidak hanya melibatkan guru, tetapi juga kepala sekolah, orang tua, dan siswa. Perubahan mindset yang memadai belum tentu terjadi dengan cepat, dan beberapa pihak mungkin masih merasa kesulitan untuk menerima dan melaksanakan perubahan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan waktu dan upaya untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan filosofi Kurikulum Merdeka kepada semua pihak terkait).

Berbagai tantangan yang muncul dalam penerapan kurikulum merdeka membutuhkan perhatian serius, berikut solusi terhadap hambatan implementasi kurikulum merdeka:

-1) Fasilitas/sarana dan prasarana (Memaksimalkan penggunaan bantuan pendanaan dari BOS atau BOSDA. Penambahan dana herregistrasi bagi sekolah swasta. Bekerjasama dengan orang tua dan dinas setempat untuk mendukung terlaksananya projek dan semua pembelajaran berbasis kurikulum merdeka).

-2) SDM guru dan tenaga pendidik (Guru dihimbau mengikuti workshop oleh Lembaga pendidikan maupun swasta. Membentuk komite pembelajar dan mengikuti wosrkshop, mengkonbinasikan contoh modul ajar di platform merdeka mengajar dengan kondisi lingkungan sekolah, mempelajari e-raport sekolah penggerak dan membuat raport proyek penguatan profil pelajar Pancasila secara mandiri. Guru di harap mengerahkan kemandiriannya guna mengatasi problematika yang ada).

-3) Siswa, lingkungan, dan keluarga (Mengadakan sosialisasi kepada tenaga tendik dan orang tua. Mengadakan sesi pertemuan antara siswa, wali kelas, dan guru BK).

-4) Sosialisasi dan sumber daya yang tersedia (Penting untuk menyosilasasikan manfaat dan tujuan kurikulum merdeka kepada semua pihak agar dapat mengatasi resistensi perubahan. Panduan yang jelas dan fleksibel tentang implemantasi kurikkulum dapat membantu sekolah dalam pengembangan dan perencanaan pembelajaram.

Pemanfaatan maksimal sumber daya yang ada, bahkan jika terbatas, denah penjadwalan yang cerdas dan pengguanaan bahan ajar yang sederhana juga merupakan kunci keberhasilan (Startiyaningsih, 2024) ).

Implementasi kurikulum merdeka menawarkan kesempatan besar untuk mentransformasi sistem pendidikan indonesia ke arah yang lebih relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Namun tantangan dalam kesiapan guru, keterbatasan fasilitas, dan perlunya perubahan pola piker harus di atasi dengan solusi yang terintegritas dan berkelanjutan.

Melalui pelatihan guru, peningkatan insfrastuktur, keterlibatan orang tua, serta adanya kemauan dari siswanya sendiri, kurikulum dapat di implementasikan secara efektif dan memberikan manfaat untuk jangka panjang untuk siswa dan masa depan pendidikan indonesia.

(Daftar Pustaka: Budi, S. (2010). Perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka. Sidoarjo: CV Duta sains indonesia. Nisa, S. K. (2023). Hambatan dan solusi dalam implementasi kurikulum merdeka pada jenjang sekolah dasar. Jurnal kependidikan, 12(3), 287-298.

Sinaga, M. S. (2024). Analisis tantangan dan pendekatan strategi dalam penerapan kurikulum merdeka di SDN 10616 laut dendang. Jurnal Sadewa, 2(3), 68-75. Startiyaningsih. (2024). Analisis hambatan dan solusi dalam penerapan kurikulum merdeka. Jurnal penelitian pendidikan dasar, 3(1), 48-55)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita