Kamis, 01/02/2024, 17:46:58
Peredaran Obat Terlarang Meningkat. Modus Baru Mengatasnamakan Toko Kelontong Marak di Pasaran
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

PanturaNews (Brebes) - Meningkatnya peredaran obat-obatan terlarang type G yang bermodus toko klontong di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kian membuat resah sekaligus kekhawatiran masyarakat setempat.

Hal itu terungkap saat elemen masyarakat Brebes yang tergabung di dalam Aliansi Harapan Rakyat Indonesia Maju menggelar audiensi dengan Komisi IV DPRD Brebes.

Bertempat di gedung paripurna para peserta audiensi diterima oleh Tri Murdiningsih selaku Ketua Komisi IV didampingi anggotanya, Abdullah Syafaat, Kamis 1 Februari 2024.

Dalam audensinya, mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap pertumbuhan jumlah pengguna obat terlarang di Kabupaten Brebes yang semakin meningkat

Salah satu perwakilan audensi, Willy Roimond menjelaskan, audiensi ini bertujuan untuk mencari solusi bersama guna mengatasi permasalahan masifnya obat-obat jenis Tramadol, Eximer dengan modus toko klontong di wilayah Brebes yang semakin meresahkan masyarakat.

“Penyalahgunaan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda kian meningkat di Brebes, penyimpangan perilaku anak muda tersebut dapat membahayakan generasi bangsa ini kedepannya,” kata Willy.

Menyikapi hal itu, Tri Murdiningsih menyambut baik audiensi tersebut, menunjukan partisipasi aktif masyarakat dalam menyuarakan permasalahan ini. 

Pihaknya menyatakan komitmen untuk bekerja sama dengan lembaga terkait guna menemukan solusi yang efektif dalam mengatasi peredaran obat terlarang.

“Kesimpulan dari audiensi saya akan segera mengambil langkah-langkah konkret dan serius dalam rangka menghadapi permasalahan ini dan akan melibatkan semua pihak dengan mengundang komisi terkait juga melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH) dan harus secepatnya diselesaikan insha Allah usai pemilu,” kata politisi dari PDI Perjuangan ini.

Disinggung adanya pertanyaan yang di sampaikan oleh peserta audiensi yang mengatakan ada beberapa warung yang pernah di grebeg masyarakat setempat, tapi setelah itu muncul lagi ditempat lain.

“Tdak menutup kemungkinan pasti ada yang menyokong, karena manusia tidak luput dari kesalahan hal itu bisa juga karena faktor ekonomi dan keuangan,” jawabnya.

“Dinas kesehatan sudah saya arahkan untuk mengkroscek satu persatu warung tersebut untuk mengetahui adanya obat itu di warung-warung tersebut dari mana sumbernya apakah ada kerjasama dengan pihak terkait,” sambungnya.

Pihaknya akan mengadakan audiensi ke 2 setelah pemilu dengan mengundang semua pihak yang terkait untuk mengatasi permasalah tersebut.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita