PROSES pembelajaran semestinya menjadi hal yang menyenangkan karena peserta didik sebagai subjek belajar memperoleh pengalaman yang berkesan sesuai dengan skenario yang dirancang oleh guru sebagai pendidik.
Keharusan mengikuti proses pembelajaran yang relatif panjang, acapkali membuat daya konsentrasi menurun termasuk munculnya rasa bosan dan jenuh. Sebagaimana dari asal kata ice breaking yang berarti memecahkan es atau memecahkan kebekuan.
Istilah ice breaking sendiri lebih sering dipakai dalam kegiatan training dengan maksud menghilangkan kebekuan/kekakuan suasana di antara peserta latihan agar mereka saling mengenal, mengerti, dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang lainnya dalam suasana yang cair,karena kekakuan tersebut disebabkan oleh cara penyampaian materi oleh guru yang hanya berfokus pada keterbatasan waktu.
Hal ini dimungkinkan karena perbedaan status, usia, pekerjaan, penghasilan, jabatan dan sebagainya akan menyebabkan terjadinya dinding pemisah antara peserta yang satu dengan yang lainnya. Peserta didik sebagai manusia memiliki keterbatasan dalam hal konsentrasi terhadap satu topik yang sedang dibahas dalam hal ini adalah proses pembelajaran yang sedang mereka alami di kelas. Pemberian ice breaking akan menjadi sumber energi baru yang dapat memberikan semangat belajar.
Pemberian ice breaking dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap minat belajar siswa SD. Minat belajar adalah sebuah sikap dalam pembelajaran, baik menyangkut perencanaan jadwal belajar maupun inisiatif melakukan usaha tersebut dengan sungguh-sungguh. Dengan adanya kegiatan ice breaking di saat pembelajaraan maka siswa bisa membangun suasana belajar yang menyenangkan, serius tapi santai. Ice breaking bisa menjadi salah satu sarana alternatif dalam kesuksesan pencapaian tujuan pembelajaran.
Terciptanya kondisi-kondisi yang setara antara sesama peserta dalam kelas dapat mencakup perlakuan yang adil dan kesempatan yang sama untuk belajar. Kesetaraan juga dapat tercipta melalui pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman, serta penciptaan linkungan yang mendukung partisipasi aktif semua peserta. Kesetaraan dalam kelas dapat terwujud melalui upaya untuk mengurangi ketimpangan dan menciptakan lingkungan inklusi yang mendukung perkembangan semua peserta.
Tujuan di laksanakannya ice breaking antara lain untuk membantu mengatasi ketegangan dan kesulitan dalam komunikasi antara peserta didik serta meningkatkan motivasi belajar; kondisi yang dinamis di antara peserta didik ice breaking dapat memadukan kebekuan di antara peserta, sehingga mereka dapat saling mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan baik satu sama lain; menumbuhkan motivasi antar peserta didik untuk melakukan aktivitas selama pembelajaran berlangsung dapat dicapai melalui berbagai metode yang digunakan dalam ice breaking.
Dilansir dari Naikpangkat.com (12/01/22), ada beberapa metode ice breaking yang dapat dilaksanakan di kelas untuk siswa sekolah dasar, antara lain bernyanyi sambil bergerak, bermain tebak kata secara berkelompok, tebak benda dengan mata tertutup, bermain tempel tangan dengan cara menempelkan tangan dengan cepat pada benda-benda tertentu di kelas sesuai arahan guru, serta brain gym atau senam otak untuk merangsang kecerdasan anak.
Teknik pemberian ice breaking ini dapat dikembangkan oleh guru. Di setiap sesi permainan guru perlu memberikan penghargaan bagi yang berhasil dan punishment bagi yang belum konsentrasi.
Mata pelajaran yang sedang diajarkan atau dialami oleh siswa SD tentu akan memberikan pengaruh terhadap daya konsentrasi dan semangat belajar para peserta didik. Matematika sebagai mata pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi seringkali menghadapi tantangan tersendiri dari sisi guru dengan daya tahan konsentrasi peserta didik yang relatif tidak dapat bertahan lama selama proses pembelajaran di kelas berlangsung.
Pemberian ice breaking dalam pembelajaran terbukti efektif meningkatkan keaktifan siswa SD sebagaimana hasil penelitian Heni Purwa Pamungkas dan Mohamad Arief Rafsanjani (2019) yang menyampaikan bahwa terdapat perbedaan tingkat keaktifan belajar dan hasil belajar antara kelas control dan kelas eksperimen.
Demikian pula hasil penelitian Desmidar, Mahyudin Ritonga, dan Syaflin Halim (2021) yang mengemukakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan ice breaking membuat proses pembelajaran mengalami peningkatan kualitas dan hilangnya kejenuhan peserta didik sebesar 15,39%.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut guru direkomendasikan untuk kreatif menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan, salah satunya dengan menerapkan ice breaking dalam proses pembelajaran.