Minggu, 26/11/2023, 08:22:22
Meningkatnya Popularitas E-Commerce, Apa Dampaknya Pada Pasar Tradisional?
Oleh: Nindita Eva Arniati
--None--

SEIRING dengan kemajuan teknologi, banyak aktifitas-aktifitas yang mengalami peralihan atau perubahan dengan mengikuti arus globalisasi yang ada. Salah satu contohnya adalah dalam bidang perekonomian, aktifitas jual beli bisa dilakukan dimanapun bahkan melalui media elektronik.

Dalam hal  ini muncul lah istilah E-Commerce atau Electronic Commerce, yaitu suatu proses terjadinya transaksi jual beli yang dalam prakteknya dilakukan secara online media elektronik.

Tidak disangka, ternyata fenomena maraknya kemunculan E-Commerce telah mengubah lanskap perdagangan global. Banyak pendapat yang mengatakan lebih nyaman berbelanja di E-Commerce karena merasa lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan data Statista Market Insights, jumlah pengguna lokapasar daring atau e-commerce di Indonesia mencapai 178,94 juta orang pada 2022. Jumlah tersebut meningkat 12,79% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 158,65 juta pengguna. Melihat trennya, pengguna E-Commerce di Indonesia terpantau terus meningkat. Jumlahnya pun diproyeksikan mencapai 196,47 juta pengguna hingga akhir 2023.

Lalu apa dampaknya bagi pedagang-pedagang yang masih bertahan di pasar tradisional? Diketahui baru-baru ini terjadi protes besar-besaran yang dilakukan oleh para pedagang di Pasar Tanah Abang. Mereka mengeluhkan sepinya Pasar Tanah Abang karena adanya persaingan dagang dengan pedagang online.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Center of Law and Economic Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, ia menilai banyak produk yang dijual dengan harga sangat murah di toko-toko online yang membuat persaingan pasar menjadi tidak sehat.

Di samping itu, ia menyampaikan ada  banyak faktor lain yang mempengaruhi kondisi pasar yang sepi. Diantaranya fenomena pelemahan konsumsi masyarakat khususnya pakaian hingga kenaikan harga beras hingga BBM nonsubsidi.

Dalam hal ini masyarakat lebih mementingkan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi prioritas, yaitu pangan. Pandemi juga berperan dalam hal ini. Dikarenakan terbatasnya akses untuk bertransaksi secara offline, mau tidak mau masyarakat mencari alternatif lain yaitu E-Commerce.

Setelah pandemi berakhir, masyarakat memiliki pilihan untuk berbelanja langsung di pasar tradisional untuk mengetahui kualitas barang yang akan dibeli secara langsung atau lebih memilih E-Commerce yang menawarkan proses jual beli yang dinilai lebih cepat dan efisien. Sehingga kedua hal tersebut bisa saling berdampingan dan saling melengkapi.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita