PERALATAN rumah tangga dari anyaman bambu perlahan mulai ditinggalkan, seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sebut saja seperti boboko (bakul nasi) yang kini tergantikan dengan wadah berbahan plastic (cepon atau baskom).
Namun di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, terdapat dua dusun yang masih mempertahankan tradisinya dengan membuat beragam peralatan tradisional rumah tangga dari anyaman bambu.
Adalah Desa Ganggawang dan Dusun Beber yang sangat terkenal dengan produk bobokonya. Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kelompok 12 berkesempatan KKN di desa tersebut.
Beragam peralatan rumah tangga dari anyaman bambu dihasilkan dari Ganggawang seperti nyiru (tampah), boboko, aseupan (kukusan), ayakan (saringan), wadah lampu, kursi, wadah parsel, topi petani.
Dusun ini secara garis besar masuk kedalam kategori penghasil boboko terbanyak, selain itu sebagian besar perekonomian masyarakat setempat berasal dari kerajinan anyaman bambu tersebut.
“Saya kan dulu mengajar 3 desa dari mulai Kadu Manis, Tembong Raja dan Gunung Jaya,” papar Bapak Kusno.
Ada berbagai cara pemasarannya, mulai dari pengepul barang, para pedagang pejalan kaki yang menawarkan diri untuk menjualnya, bahkan kerajinan dari bambu ini dijual di berbagai wilayah seperti Bumiayu, Brebes bahkan Cirebon.
Menurutnya kerajinan dari anyaman bambu ini, perlahan mulai ditinggalkan karena para pemuda setempat tidak memiliki minat dalam melestarikan tradisi. Selain itu juga dalam pemasarannya pun masih terbilang belum optimal, dan tidak begitu luas jangkauannya.
Anggota Kelompok 12 KKN Universitas Peradaban Bumiayu di Desa Ganggawang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes: Aditya Budi Nugraha, Iqlima Nisfi Ramadhani Suparno, Lala Lutfiatun Nisa, Muhammad Rifqi Rivaldi, Nindya Susilo, Novia Rakhmasari Romadoni, Putri Alviani Setianingrum, Shahnaz Salsa Bella, Tsasqia Putri Kurnia Dhuha. Dosen Pembimbing Lapangan: Mukhroji, S.E., M.M.