PENDIDIKAN adalah proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan juga merupakan kegiatan atau proses memanusiakan manusia yang terjadi dalam dan dengan pembudayaan, yang disebut proses hominisasi dan humanisasi.
Pendidikan juga merupakan tema yang tidak akan lekang oleh zaman, karena tema ini akan selalu berubah mengikuti perputaran waktu. Namun dalam bebrapa prinsip dasar, dalam dunia kependidikan yang mungkin akan berlaku sepanjang zaman.
Prinsip seperti proses memanusaikan manusia (prinsip filosofis), transfer nilai moral dan etik untuk mencapai manusia yang susila (prinsip etis), proses pendewasan manusia (prinsip psikologis), proses pembentukan masyarakat yang ideal (prinsip sosiologis), mendidik manusia menjadi warga atau perangkat negara yang baik (prinsip politis), serta pembentukan individu yang religius (prinsip teologis).
Ilmu Pendidikan adalah pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik). Pendidikan modern menerapkan prinsip multiintelegensi, yang menuntut perkembangan anak didik secara harmonis yang mencakupi perkembangan: ranah kognitif (intelektual, rasional, pengetahuan), ranah afektif (emotif-emosional-perasaan,konatif-motivasi, keinginan dan kehendak), dan ranah psikomotorik (keterampilan praktik dalam kehidupan).
Matematika merupakan salah satu mata pelejaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada kurikulum SD, khususnya di kelas-kelas rendah pembelajaran matematika lebih menekankan pada peguasaan keterampilan-keterampilan berhitung dasar. Yang salah satunya adalah keterampilan perkalian.
Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika haruslah memperhatikan beberapa prinsip, antara lain adalah:
-1) belajar matematika harus berarti (meaningful),
-2) anak aktif terlibat dalam belajar matematika (belajar aktif merupakan inti belajar matematika yang memungkinkan anak berkesulitan belajar membentuk pengetahuan mereka),
-3) nak harus mengetahui apa yang akan dipelajari dalam kelas matematika (anak akan lebih bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuan menentu),
-4) menggunakan berbagai bentuk atau model matematika dalam pembelajaran matematika (dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang diajarkan di sekolah adalah abstrak. Pemilihan model, strategi dan alat bantu yang digunakan oleh guru haruslah mampu membahasakan materi-materi yang abstrak menjadi konkret).
Model pembelajaran merupakan cara/teknik penyajian yang digunakan guru dalam proses pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran. Ada beberapa model-model pembelajaran seperti ceramah, diskusi, unjuk rasa, studi kasus, bermain peran ( role play ) dan lain sebagainya. Yang pasti masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Metode/model sangat penting peranannya dalam pembelajaran, karena melalui pemilihan model/metode yang tepat dapat mengarahkan guru pada kualitas pembelajaran yang efektif.
Banyak peserta didik menganggap pembelajaran matematika itu sulit karena masih menggunakan metode Teacher Centered Learning (Pembelajaran Berpusat Pada Guru) sehingga membuat pembelajaran matematika terasa tidak menyenangkan. dari kasus ini diharuskan mengubah metode pembelajaran penyuluhan berbentuk permainan gerak yang di dalamnya terdapat system, tujuan dan juga melibatkan unsur kecerian (Role Playing).
Model adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru, dan penggunaannya pun bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kedudukan metode sebagai alat motivasi sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, sehingga dalam menjalankan fungsinya, metode merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tetapi pelaksanaan sesungguhnya, metode dan teknik memiliki perbedaan.
Model pembelajaran Role Play adalah metode pembelajaran yang di dalamnya terdapat perilaku pura-pura (berakting) dari siswa sesuai dengan peran yang telah ditentukan, dimana siswa menirukan situasi dari tokoh-tokoh sedemikian rupa dengan tujuan mendramatisasikan dan mengekspresikan tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antar manusia.
Metode bermain peran dapat menimbulkan pengalaman belajar, seperti kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, siswa mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah.
Model pembelajaran bermain peran penekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.
Metode role play merupakan salah satu model pembelajaran sosial, yaitu suatu model pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk memerankan suatu tokoh yang ada dalam materi atau peristiwa yang diungkapkan dalam bentuk cerita sederhana.. Metode role play adalah metode penyuluhan berbentuk permainan gerak yang di dalamnya terdapat sistem, tujuan dan juga melibatkan unsur keceriaan.
Model pembelajaran Role Playing meningkatkan aktivitas siswa, sekaligus menyebabkan suasana di kelas menjadi lebih hidup dan aktif. Model pembelajaran Role Playing meningkatkan hasil belajar siswa dari aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa model role playing adalah uatu model pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk memerankan suatu tokoh yang ada dalam materi atau peristiwa yang diungkapkan dalam bentuk cerita sederhana yang telah dirancang oleh guru.
Berikut ini adalah langkah-langkah penerapan model pembelajaran role playing menurut Uno, (2012):
-1. Persiapan atau pemanasan. -2. Memilih pemain/pemeran drama. -3. Mendekorasi panggung (ruang kelas). -4. Menunjuk siswa menjadi pengamat (observer). -5. Memainkan peran. -6. Diskusi dan evaluasi. -7. Bermain peran ulang. -8. Diskusi dan evaluasi.