PanturaNews (Tegal) - Sungguh miris, kelompok Lelaki Suka Lelaki atau LSL ternyata menjadi faktor risiko terbesar dalam temuan kasus HIV/AIDS baru di Kota Tegal sepanjang tahun 2026.
Data terbaru menunjukkan Lelaki Suka Lelaki atau LSL masih mendominasi temuan HIV/AIDS baru dibanding kelompok risiko lainnya di Kota Tegal.
Fenomena Lelaki Suka Lelaki atau LSL yang mendominasi kasus HIV/AIDS bukan hanya terjadi tahun ini, tetapi sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. LSL meski tidak mempunyai keturunan atau beranak pinak namun jumlahnya tiap tahun terus bertambah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal M Zaenal Abidin menyampaikan hingga tahun 2026 ditemukan total 119 Orang Dengan HIV atau ODHIV.
"Dari temuan HIV baru tahun 2026, kelompok LSL menjadi faktor risiko yang paling banyak ditemukan," kata M Zaenal Abidin, Kamis 04 Juni 2026.
Dari total 119 ODHIV tersebut, sebanyak 53 orang berasal dari kategori LSL dan 39 di antaranya berdomisili atau ber-KTP Kota Tegal.
Sementara itu, Koordinator Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kota Tegal sekaligus Pemegang Program HIV, Taryuli, menyampaikan tren tersebut perlu menjadi perhatian bersama.
Tingginya angka HIV/AIDS pada kelompok LSL kata Taryuli menunjukkan perlunya penguatan upaya pencegahan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Tingginya angka HIV pada kelompok LSL menjadi peringatan agar perilaku berisiko dapat dicegah sejak dini," ujar Taryuli.
Ia menjelaskan penanggulangan HIV/AIDS tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan karena membutuhkan dukungan banyak pihak.
"Keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, hingga pemerintah memiliki peran penting dalam mencegah penularan HIV/AIDS,"tandasnya.
Taryuli mengatakan meningkatnya jumlah temuan kasus juga menunjukkan semakin banyak penderita yang berhasil terdeteksi.
"Fenomena HIV/AIDS itu seperti gunung es, yang terlihat masih lebih sedikit dibanding yang belum ditemukan," jelas Taryuli.
Semakin banyak kasus ditemukan maka semakin besar peluang penderita memperoleh pengobatan dan mencegah penularan lebih luas.
Karena itu, upaya skrining dan pemeriksaan HIV/AIDS terus didorong agar kasus yang masih tersembunyi dapat terungkap.
Penemuan kasus sejak dini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan menekan risiko penularan.
"Masyarakat harus menghilangkan diskriminasi terhadap ODHIV dan keluarganya serta memberikan dukungan sosial," tegas Taryuli.
Menurutnya, dukungan lingkungan sangat membantu ODHIV menjalani pengobatan secara rutin dan berkelanjutan.
"Salah satu upaya pencegahan penularan HIV adalah kepatuhan ODHIV dalam menjalani terapi ARV secara teratur," tambah Taryuli.
Saat ini ODHIV yang masih hidup dan terdata di Kota Tegal tengah menjalani terapi antiretroviral atau ARV melalui fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
"Data Dinas Kesehatan Kota Tegal mencatat hingga Mei 2026 terdapat dua ODHIV yang dilaporkan meninggal dunia," pungkasnya.