Minggu, 22/01/2023, 07:03:22
Strategi Mengatasi Rendahnya Minat Menulis Puisi
Oleh: Alda Misqola Habah
--None--

SEMAKIN banyak siswa di Indonesia yang kurang minat dalam penulisan karya sastra. Hal ini dilihat dari rendahnya literasi pelajar di Indonesia. Saat Harbuknas 2022, literasi Indonesia peringkat ke-62 dari 70 negara.

Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap penulisan karya sastra di Indonesia. Salah satunya yaitu puisi. Mereka menganggap dalam penulisan puisi sulit dan ribet, karena siswa sangat jarang membaca atau menulis puisi.

Hal ini sangat memperhatikan, siswa menganggap puisi sulit karena harus memakai kata yang sulit dimengerti. Padahal menulis puisi juga bisa seperti mencurahkan isi hati. Puisi adalah media ekspresi diri dari penulisnya. Dengan mengekspresikan diri lewat puisi, kata yang terjalin akan terasa lebih dalam dan sarat makna.

Metode yang dilakukan oleh guru di sekolah terhadap penulisan puisi masih kurang efektif. Ketidak efektifannya disebabkan oleh kurang tepatnya strategi yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. Sebagian besar metode yang ada hanya berorientasi pada hasil bukan pada proses.

Seharusnya guru lebih menekankan pada proses siswa dalam penulisan puisi, misalnya guru memberikan gambar dan menjelaskan bahwa dari gambar tersebut dapat dibuat puisi, selain menjelaskan guru

juga memberi contoh pada siswa. Dengan seperti itu siswa akan lebih tertarik dan akan mudah dalam memunculkan ide. Sebagian guru masih sekadar menerangkan pengertian puisi saja dan menunjukkan contoh yang ada dalam buku tanpa mempraktikkan cara penulisannya. Saat siswa membuat puisi sebagai tugas, guru hanya mendengarkan saja tanpa mengkritik dan memberi saran.

Dari permasalahan strategi tersebut, ada dua strategi yang dapat diterapkan oleh guru dalam materi penulisan puisi yaitu Strategi Pikir Plus dan Penggunaan Media Gambar. Dalam penulisan puisi masalah utama yang sering terjadi pada siswa yaitu kesusahan dalam mencari ide, dengan strategi ini siswa akan lebih mudah mendapatkan ide karena siswa dapat melihat objek yang disenanginya untuk menjadi sebuah puisi.

Strategi Pikir Plus merupakan rangkaian kegiatan dalam belajar menulis puisi yang memberikan kesempatan lebih besar kepada siswa untuk melakukan proses penulisan, sejak proses penemuan objek tulisan sampai pemublikasian puisi yang berhasil ditulis. Istilah Pikir Plus itu sendiri merupakan bentuk akronim dari enam langkah yang dilakukan dalam pembelajaran menulis puisi.

(Prasetiyo 2007: 2) dalam jurnalnya yang berjudul peningkatan pembelajaran menulis puisi dengan strategi pikir plus, menyatakan terdapat enam langkah yang dimaksud antara lain:

(1) pemilihan objek yang diingini atau disenangi, (2) imajinasikan objek tersebut, (3) kreasikan imajinasimu dengan kata-kata, (4) ringkas dan kembangkan kata menjadi sebuah larik, (5) padukan dan olah larik-larik menjadi bait-bait puisi, dan (6) publikasikan puisimu.

Penggunaan media gambar berbagai peristiwa yang terdapat dalam surat kabar akan sangat tepat jika digabungkan dalam pembelajaran menulis puisi dengan strategi Pikir Plus. Penggunaan media gambar berbagai peristiwa yang terdapat dalam surat kabar ini dapat diterapkan pada langkah awal strategi Pikir Plus ketika siswa memilih objek yang disenangi.

Jika dalam sekolah, siswa masih acuh atau tidak tertarik pada penulisan puisi, maka hasil dari pembelajaran penulisan puisi akan rendah dan tidak bisa berkelanjutan untuk masa depan serta siswa mungkin selamanya akan kesusahan dalam menulis puisi.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita