ROKOK merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan dapat mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan orang lain. Berdasarkan PP No.19 tahun 2003, diketahui bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau dibungkus termasuk cerutu ataupun bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum.
Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan ataupun tanpa bahan tambahan. Sedangkan merokok merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan kegiatan yang tidak bisa dihindari bagi orang yang sudah mengalami kecanduan. Saat ini aktivitas merokok bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi sering kita jumpai dikalangan pelajar dari mulai SMA, SMP, bahkan SD.
Pelajar dalam istilah bahasa Indonesia merupakan sinonim dari siswa/murid/ mahasiswa dan peserta didik. Semuanya mengandung makna anak yang sedang berburu (belajar, bersekolah, dan kuliah).
Menurut Kemenkes RI (2014), anak usia sekolah merupakan anak yang memiliki usia lebih dari 6 tahun sampai sebelum 18 tahun. Pelajar memiliki peran penting bagi masa depan negara ini. Namun, saat ini kenakalan di kalangan remaja sering sekali kita jumpai. Salah satunya adalah merokok. Saat ini merokok bukan hanya dilakukan oleh remaja laki-laki saja, tetapi tidak sedikit juga remaja perempuan yang memiliki kebiasaan merokok.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 21 juta remaja berusia 13-15 tahun menjadi perokok pada tahun 2020. Angka tersebut terdiri dari 15 juta remaja perokok laki-laki dan 6 juta remaja perokok perempuan. Walaupun merokok termasuk kenakalan remaja, namun hal tersebut sudah dianggap hal yang lumrah. Padahal merokok merupakan suatu kebiasaan negatif yang dapat menimbulkan dampak buruk.
Dampak buruk merokokok bagi pelajar Ada banyak sekali dampak buruk merokok bagi kalangan pelajar. Khususnya bagi kesehatan. Kesehatan sendiri dapat dibagi menjadi dua, yaitu kesehatan jasmani dan rohani.
-1. Yang pertama yaitu kesehatan jasmani, yaitu kesehatan yang berkaitan dengan fisik. Remaja yang merokok berisiko terkena penyakit yang berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian. Stroke merupakan contoh penyakit yang diderita oleh remaja yang merokok, stroke menyerang otak melalui peredaran darah. Selain itu merokok juga dapat merusak jantung dan mengganggu kesehatan reproduksi remaja.
-2. Yang kedua yaitu kesehatan rohani, yaitu kesehatan yang berkaitan dengan jiwa. Selain mengakibatkan kerusakan pada tubuh, merokok juga berdampak pada psikologi, pola pikir, dan pola hidup remaja.
Pada awalnya merokok memang membuat kita merasa tenang, bahagia, atau menghilangkan stress, tetapi hal tersebut hanya bersifat sementara. Hal ini terjadi karena efek dari peningkatan dopamine berlebih. Setelah itu menyebabkan seseorang menjadi kesulitan menangkap pikirannya sendiri jika tidak menghisap rokok. Selain itu, merokok pada remaja akan menyebabkan remaja lebih mudah emosi dan tidak dapat mengatur emosinya sendiri.
Tentu saja jika sudah seperti ini akan sangat berdampak pada pola pikir dan pola hidup remaja merokok. Faktor yang menyebabkan remaja merokok:
-1. Munculnya Rasa Penasaran Pada Anak: Pada usia remaja, anak-anak cenderung ingin mencoba segala sesuatu yang belum pernah dia jumpai atau coba sebelumnya. Begitu pula rasa penasarannya terhadap rokok, banyak anak yang merokok karena rasa penasaran mereka. Namun hal tersebut berkelanjutan karena rokok memiliki zat nikotin, yaitu zat yang menyebabkan penggunanya merasa kecanduan.
-2. Pergaulan: Pelajar yang merokok cenderung memiliki pergaulan dengan orang-orang yang merokok juga, mulai dari teman sebayanya bahkan orang dewasa. Seringkali pelajar yang tidak merokok ketika bergaul dengan remaja yang merokok akan dianggap remeh atau bahasa zaman sekarangnya yaitu tidak keren. Sehingga remaja yang tidak merokok akan ikut terjerumus. Oleh karena itu pergaulan menjadi faktor yang penting bagi para pelajar. Entah pergaulan di sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.
-3. Merasa Stress: Stress menjadi salah satu faktor bagi pelajar untuk merokok, karena merokok dapat menyebabkan sesorang mengalami peningkatan dopamin. Cukup banyak pelajar yang merasa stress akibat permasalahan yang dialami seperti permasalahan dengan orang tua, teman, atau dengan pacar. Karena dari itu stress dapat menjadi faktor bagi pelajar untuk merokok.
-4. Pengaruh Orang Tua Atau Keluarga: Pelajar yang merokok biasanya berasal dari keluarga perokok juga. Sehingga anak mengikuti keluarganya yang merokok karena rasa ingin tahunya.
Selain itu keluarga atau orang tua yang tidak harmonis juga menjadi faktor yang dapat mengakibatkan anak stress sehingga anak mencari kesenangan. Kurangnya perhatian dan komunikasi orang tua terhadap anak juga dapat menyebabkan anak untuk merokok. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari orang tua sehingga anak merasa bebas.
Peran orang tua bagi remaja Orang tua merupakan sekolah pertama bagi anaknya, anak cenderung mengikuti apa yang orang tuanya lakukan. Maka dari itu orang tua sebisa mungkin mencontohkan hal yang baik kepada anaknya. Salah satunya adalah dengan tidak merokok di depan anak.
Selain berbahaya bagi kesehatan, merokok di depan anak juga dapat menjadi faktor anak untuk merokok. Pada usia remaja orang tua wajib mendampingi dan mengawasi semua kegiatan yang anak lakukan. Hal ini bertujuan agar anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
Beberapa hal yang bisa orang tua lakukan yaitu dengan membangun komunikasi dengan anak, memberikan perhatian dan selalu mendengarkan cerita anak, memperhatikan pergaulan anak, dan membatasi waktu main pada anak. Jika sebagai orang tua sudah melakukan hal tersebut maka anak akan lebih terbuka dan terjaga pergaulannya. Karena salah satu factor merokok yaitu karena salahnya pergaulan pada remaja.