Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari oleh semua kalangan dan pasti akan…" /> Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari oleh semua kalangan dan pasti akan…" />
Minggu, 11/12/2022, 17:25:19
Peranan Guru dalam Pendidikan Karakter di Era Globalisasi
Oleh: Diah Aribatul Ulum
--None--

Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari oleh semua kalangan dan pasti akan terasa dampaknya. Namun, jika tidak dibarengi dengan filter yang kuat, globalisasi dapat menimbulkan krisis moral yang terjadi hampir di setiap lapisan masyarakat, mulai dari pelajar hingga pejabat pemerintah. Sebagai contoh, pada mahasiswa, hal ini dapat dilihat dari peningkatan kriminalitas yang berkaitan dengan pelanggaran narkoba, pembunuhan, pelecehan seksual, dll. Begitu pula antara warga negara dan pejabat pemerintah. Dan yang paling terlihat adalah meningkatnya angka kejahatan korupsi di negeri ini.

Saat ini kata guru memiliki arti yang luas, biasanya siapa saja yang telah memberikan ilmu atau keahlian tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang dapat disebut guru. Mengajar adalah pekerjaan profesional, fungsional dan profesional, pekerjaan ini membutuhkan pelatihan atau pendidikan guru khusus dan pengalaman bertahun-tahun. guru sebagai energi Pendidik yang tugasnya mendidik anak agar anak mengalami perubahan perilaku menjadi lebih baik. Namun, mendidik anak bukanlah tugas guru semata. Namun orang tua juga berperan penting dalam membentuk perilaku dan kepribadian anak.

Guru, di sisi lain, adalah salah satu yang terlibat dalam pengembangan tugas dan memiliki keterampilan yang sama dengan guru lainnya. Hal ini karena tanggung jawabnya terbatas tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan masyarakat di mana dia berada. Apalagi di era globalisasi yang semakin menarik perhatian akan pentingnya pendidikan karakter yang harapan strategisnya pada akhirnya berada di pundak guru. Toffler (dalam Sonhadji, 2012) menyatakan bahwa sekolah atau lembaga pendidikan masa depan harus membimbing siswanya bagaimana cara belajar (learn to learn). kebutaan di era global Ketidakmampuan belajar bagaimana belajar. Peran guru meliputi penguasaan dan pengembangan mata pelajaran, merencanakan dan menyiapkan pelajaran harian, memantau dan mengevaluasi kegiatan siswa (Brown dalam Sardiman, 1992).

Dalam memenuhi kewajiban guru, guru juga memiliki peran yang dijelaskan oleh Abdurrahman (1994) dalam lima hubungan berikut.

Pertama, sebagai motivator yang mendorong dan menasihati siswa untuk aktif, kreatif dan positif dalam menghadapi lingkungan atau pengalaman baru dalam bentuk proposal kelas. Karena itu, guru dengan seni dan ilmunya sendiri dapat menarik minat dan perhatian siswanya untuk memperoleh pengalaman baru.

Kedua, moderator. Dengan fasilitator, guru berupaya menciptakan suasana dan menyediakan ruang-ruang yang memungkinkan siswa berinteraksi secara positif, aktif, dan kreatif dalam proses belajar mengajar. Partisipasi siswa dalam belajar mengajar harus sukarela, penuh minat dan perhatian.

Tiga peran dalam organisasi. Peran organisasi adalah bagaimana guru mengarahkan, merencanakan, memprogram, dan menyelenggarakan banyak kegiatan belajar mengajar. Mengatur jadwal kegiatan belajar mengajar, kegiatan di luar dan bila perlu memperoleh tugas belajar tambahan di luar kurikulum yang waktunya akan ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan antara guru dan siswa.

Keempat, peran informasi yang dijelaskan pada kemampuan guru untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh siswa, dan untuk kepentingan dan kelancaran kegiatan belajar mengajar, dan untuk kepentingan siswa di masa depan, terutama informasi tentang kontinuitas dan kesinambungan belajar siswa. atau tentang peluang pendidikan, profesional, dan karier yang diambil siswa setelah studi atau pelatihan dan informasi tentang kehidupan dalam keluarga, masyarakat, dan negara.

Yang kelima adalah konsultan. Konselor, yaitu kegiatan guru yang memberikan bimbingan dan konseling atau layanan dan dukungan khusus kepada siswa yang memiliki masalah pendidikan, pendidikan, emosional dan sosial, dan mental-spiritual.

Globalisasi dalam Pendidikan Karakter

Dari perspektif sejarah, bentuk pembangunan ini disebut sebagai "Revolusi Hijau". Di Indonesia, pemerintah Orde Baru menyambut baik konsep revolusi hijau dengan meriah. Saat itu, gerakan Revolusi Hijau dilaksanakan melalui pesanan dan subsidi. Program manajemen massa (bimas) tahun 1970 merupakan salah satu bentuk implementasi Revolusi Hijau. Bimas merupakan salah satu paket program pertanian pemerintah untuk benih hibrida, pestisida dan bantuan pinjaman. Kemudian pada tahun 1979 pemerintah meluncurkan program baru yaitu Insus (intensifikasi massal). Tujuannya adalah untuk mendorong petani bercocok tanam sekaligus mengendalikan hama.

Salah satu ciri globalisasi yang paling dominan adalah pasar bebas (liberalisasi ekonomi). Oleh karena itu globalisasi pada hakekatnya lebih merupakan agenda TNCS (Trans National Corporations) melalui mekanisme RI yang dibuat oleh WTO (World Trade Organization) yang memaksakan kepentingannya melalui kebijakan atau regulasi reformasi negara di berbagai bidang PI seperti perpajakan dan perburuhan. , perdagangan, investasi dan semua aturan untuk memfasilitasi kebutuhan bisnis mereka. Cara tersebut memudahkan TNSCS untuk menggunakan sumber daya manusia atau alam melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas (Azisi, 2004).

Tantowi (2008) menjelaskan lima p-configurations globalisasi, yaitu globalisasi (1) informasi dan komunikasi (2) ekonomi dan perdagangan bebas (3) gaya hidup, kebiasaan konsumsi, budaya dan kesadaran (4) komunikasi massa dan (5) politik dan visi.

(Diah Aria tul Ulum, mahasiswi Semester III Jurusa Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita