Minggu, 24/07/2022, 06:23:58
Simplisia Sebagai Awak Pembuatan Obat dan Jamu
Oleh: Dian Cahya Maulidya
--None--

MENURUT Ditjen POM, Simplisia atau herbal yaitu bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 600C. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk.

Jadi simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi tiga golongan yaitu simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral.

Jenis-Jenis Simplisia antara lain simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman ataueksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atauzat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertent dipisahkan dari tanamannya. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh , bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

Simplisia mineral atau pelikan adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

Standarisasi simplisisa yang baik yaitu adanya parameter nonspesifik dan parameter spesifik. Parameter nonspesifik merupakan tolok ukur baku yang dapat berlaku untuk semua jenis simplisia, tidak khusus untuk jenis simplisia dari tanaman tertentu ataupun jenis proses yang telah dilalui. Ada beberapa parameter nonspesifik yang ditetapkan untuk simplisia dalam penelitian ini antara lain penetapan kadar abu, penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam, penetapan kadar abu yang larut dalam air, penetapan kadar air dan penetapan susut pengeringan.

Parameter spesifik merupakan tolok ukur khusus yang dapat dikaitkan dengan jenis tanaman yang digunakan dalam proses standardisasi. Parameter spesifik yang akan ditetapkan pada penelitian ini adalah identitas simplisia, uji organoleptis (pemerian), uji mikroskopik, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, penetapan kandungan minyak atsiri, dan penetapan kadar bahan aktif simplisia.
Metode pembuatan simplisia yaitu dengan cara pengeringan cara ini harus dilakuakn dengan cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi.

Simplisia dengan metode fermentai di lakukan dengan seksama agar proses tersebut tidak berkelanjutan kearah yang tidak di inginkan. Simplisia yang dibuat dengan metode khusus dengan cara penyulingan, pengentalan eksudat nabati, pengerinagn sari air dan proses khusus lainnya dilakukan denan berpengaruah pada prinsip bahwa simplisa yang di hasilkan dengan memiliki mutu yang sesuai dengan persyaratan.

Tujuan dari pembuatan simplisia adalah memperpanjang umur simpan bahan baku tanpa mengurangi kualitasnya sehingga kontinutitas produk terjamin.

Alat yang di gunakan dalam pembuatan simplisa adalah panci perebusan, timbangan analitik (Henrerr), tanur (Branstead Thermolyne), oven (Memmert), rotary vaporator (IKA), tabung reaksi (pyrex), corong, cawan krus, gelas ukur, beaker glass, pipet tetes, batang pengaduk, Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu 1800), kuvet, mikro pipet (Socorex), mortir & stamper, cawan penguap, spatel, kaca arloji, dan lemari pendingin (Polytron ).

Bahan yang di gunakan dalam pembuatn simpisia adalah rimpang jahe, daun singkong daun salam, kunyit dan temulawak.

Menurut Gunawan, Proses pembuatan simplisia yang pertama Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah yang mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah yang tinggi. Oleh karena itu pembersihan simplisia dan tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal.

Tahap ke dua Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dan mata air, air sumur dan PDAM, karena air untuk mencuci sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba. Bahan simplisia yang mengandung zat mudah larut dalam airyang mengalir, pencucian hendaknya dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tahap yang ke tiga Perajangan beberapa jenis simplisia perlu mengalami perajangan untuk memperoleh proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan maka semakin cepat penguapan air, sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi komposisi, bau, rasa yang diinginkan (Melinda, 2014). Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajangan khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.

Tahap yang ke empat Proses pengeringan simplisia, terutama bertujuan sebagai Menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri, Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif, Memudahkan dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya). Proses pengeringan sudah dapat menghentikan proses enzimatik dalam sel bila kadar airnya dapat mencapai kurang dan 10%. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari proses pengeringan adalah suhu pengeringan, lembaban udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Suhu yang terbaik pada pengeringan adalah tidak melebihi 60o, tetapi bahan aktif yang tidak tahan pemanasan atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu 10 serendah mungkin, misalnya 30o sampai 45o.

Terdapat dua cara pengeringan yaitu pengeringan alamiah (dengan sinar matahari langsung atau dengan diangin-anginkan) dan pengeringan buatan dengan menggunakan instrumen. Pada tahap ke lima Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong atau bahan yang rusak. Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan atau pengotoran-pengotoran lainnya yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering.

Pada tahap ke enam Penyimpanan setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia satu dengan lainnya. Untuk persyaratan wadah yang akan digunakan sebagai pembungkus simplisia adalah harus inert, artinya tidak bereaksi dengan bahan lain, tidak beracun, mampu melindungi bahan simplisia dari cemaran mikroba, kotoran, serangga, penguapan bahan aktif serta dari pengaruh cahaya, oksigen dan uap air

Menurut Melinda, manfaat simplisa pada pembuatn Jahe merupakan salah satu tanaman rimpang yang cukup populer untuk digunakan sebagai obat herbal. Jahe sendiri terdiri berbagai jenis seperti jahe kuning dan jahe merah. Tanaman ini bermanfaat sebagai obat rematik, mengurangi mual dan muntah, menurunkan kolesterol, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Jahe dapat dijadikan sebagai serbuk kering dengan dosis 2-4 gram per hari. Kunyit Selain sebagai salah satu bahan masakan, kunyit ternyata juga dapat dijadikan sebagai obat herbal. Tanaman rimpang ini berfungsi untuk mengobati disentri, mengatasi amandel, dan mengobati hepatitis. Tak hanya itu, kunyit juga berkhasiat untuk mengobati diabetes.

Tanaman ini dapat dikonsumsi dari bentuk irisan rimpang kering dengan berat dan dosis 3-9 gram per hari dan serbuk kering sebanyak 1,5-3 gram per hari. Tanaman terakhir dari simplisia nabati yang bisa dimanfaatkan adalah temulawak. Tanaman empon-empon ini sering dijadikan sebagai jamu. Khasiatnya adalah dapat menjadi obat batuk pada anak, meredakan demam, maag, asam urat, dan kolestrol. Temulawak dapat dikonsumsi dari irisan rimpang segar, 25 gram per hari.

(Dian Cahya Maulida adalah mahasiswa Prodi Farmasi Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita