MATEMATIKA adalah suatu pengetahuan yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir anak. Oleh karena itu, matematika dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun kemampuan berpikir anak mulai dari usia dini sampai berada di bangku perkuliahan.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 1 menegaskan bahwa, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yag dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan unruk membantu perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pembelajaran matematika merupakan cabang mata pelajaran yang cakupannya sangat luas dan bukan hanya bisa berhitung, tetapi juga mencakup kompetensi yang menjadikan anak tersebut memahami dan mengerti tentang konsep matematika. Untuk pendidikan matematika dapat diberikan pada anak tingkat usia dini dengan metode learning by playing atau belajar sambil bermain, karena waktu bermain anak akan mendapat kesempatan bereksplorasi, bereksperimen dan dengan bebas mengekspresikan dirinya. Dengan bermain, tanpa sengaja anak akan memahami konsep-konsep matematika tertentu dan melihat adanya hubungan anatara satu benda dan yang lainnya.
Djauhari dalam Wiguna mengemukakan bahwa: “Lemahnya pendidikan matematika di Indonesia merupakan akibat tidak diajarkannya filsafat atau latar belakang ilmu matematika. Dampaknya siswa pandai mengerjakan soal, tetapi tidak bisa memberikan makna dari soal itu. Matematika hanya diartikan sebagai persoalan hitung-hitungan yang siap untuk diselesaikan atau dicari jawabannya”.
Pada usia 3-6 tahun anak sudah diajarkan operasi dasar bilangan matematika, diantaranya operasi penjumlahan dan pengurangan. Untuk dapat memperkenalkan operasi tersebut kepada anak usia dini tidaklah mudah, dibutuhkan banyak metode-metode agar anak dapat dengan mudah untuk menerima dan memahami makna dari operasi yang sedang dilaksanakan. Diantaranya dengan menggunakan benda-benda sekitar, misalnya pengenalan penjumlahan dan pengurangan dengan memakai bola yang berdiameter sama.
Sejalan dengan yang disampaikan oleh Djauhari, Musrikah (2017) berpendapat bahwa anak usia dini harus diberi banyak kesempatan untuk mengoptimalkan perkembangan mereka, termasuk perkembangan kognitifnya. Perkembangan kognitif dapat difasilitasi perkembangannnya melalui pengajaran matematika untuk anak usia dini dengan mempertimbangkan berbagai hal agar matematika tidak memberikan beban yang berat. Beberapa hal yang dapat digunakan untuk membantu anak usia dini dalam memahami matematika adalah dengan mengemas pembelajaran melalui kegiatan bermain, pelibatan obyek langsung atau gambar serta integrasi matematika melalui kegiatan fisik.
Adapun materi yang dapat diajarkan pada anak usia dini meliputi bilangan, geometri, aljabar, pengukuran dan pengumpulan data. Apabila materi tersebut diajarkan sesuai tahap berpikir anak melalui metode yang tepat, maka matematika akan dapat dipahami dengan lebih mudah, stigma yang buruk tentang matematika dapat dihindari, dan anak akan terhindar dari phobia matematika. Sehingga guru, orang tua, dan calon guru harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengajaran ideal matematika pada anak usia dini.
Menurut Sujiono (2011), mempelajari matematika merupakan salah satu cara dalam melatih kemampuan anak untuk dapat berpikir secara logis dan sistematis. Adapun tujuan dari pembelajaran matematika pada anak usia dini menurut Rachmawati; Clement & Samara dalam (Maulana, 2019) yaitu untuk menstimulasi kemampuan berpikir anak agar memiliki kesiapan dalam belajar matematika pada tahap selanjutnya, sehingga anak mampu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan matematika yang memungkinkan mereka unruk mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar matematika juga mempunyai tujuan lain yaitu agar anak mengetahui dasar-dasar pembelajaran berhitung, sehingga pada saat nanti anak akan lebih siap mengikuti pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih komplek.
Banyak yang belum tahu bahwa matematika merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan (mother of science). Dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika merupakan ilmu yang mempelajari bilangan-bilangan, pola hubungan, dan cara penyelesaian masalah dalam bentuk bilangan.
Begitu pula menurut Johnson dan Myklebust dalam Kline (1981), menyebutkan bahwa matematika adalah bahasa simbolik yang fiungsi praktisnya untuk mengekpresikan hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.
Dari kedua pengertian tersebut, menunjukkan bahwa matematika tidak hanya terpaku dengnan angka, tetapi juga memiliki manfaat bagi anak dalam proses perkembangannya. Berikut adalah beberapa manfaat mempelajari matematika sejak dini.
Pertama, memupuk keberanian dalam menyelesaikan masalah. Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu permasalahan, ada yang berani menyelesaikannya dan ada juga yang menghindar dari permasalahan tersebut. Dalam pemecahan soal matematika, anak dilatih untuk mempunyai strategi dalam menyelesaikan permasalahan soal tersebut. Dengan strategi yang tepat, anak tersebut akan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi tanpa harus mennghindarinya.
Kedua, menjadikan anak semakin cerdas, kreatif, dan inovatif. Dalam proses pembelajaran matematika anak akan dilatih untuk fokus dan memahami suatu masalah dalam suatu permasalahan dalam soal. Hal itu dapat mengasah kecerdasan anak dalam memahami masalah, menyusun jalan keluar dan dapat memecahkannya secara logis dan sistematis. Selain itu, kekreatifan anak akan terasah karena keterbiasaan mencari sebuah pola maupun cara baru dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam soal matematika.
Ketiga, melatih kesabaran anak. Dalam memecahkan suatu persoalan dalam soal matematika, adakalanya anak akan menemukan soal yang rumit dan membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama. Saat itulah anak dilatih untuk bersabar dan mencoba rumus-rumus yang seharusnya digunakan dalam penyelesaian soal matematika. Karena anak sudah bersabar mengerjakan permasalahan tersebut, hal itu akan melatih kesabaran anak dalam menghadapi suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, menajamkan penaralan anak. Dalam proses pembelajaran matematika, anak dituntun untuk memahami suatu informasi dari orang lain. Proses pemahaman tersebut merupakan penalaran, dimana penalaran menjadi pennetu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Mengajarkan penalaran bisa dilakukan melalui pembelajaran matematika, seperti mencocokkan banyak gambar manga dengan angka. Hal itu akan menjadikan penalaran anak semakin tajam.
Kelima, menumbuhkan sikap jujur dan disiplin. Dalam pembelajaran matematika, anak dilatih kejujuran dan kedisiplinannya. Dimana, anak akan menyelesaikan permasalahan matematika dengan runtun dan tidak mencontek temannya. Jika menerapkan hal tersebut secara terus menerus, akan menjadikan anak tumbuuh menjadi insan yang jujur dan disiplin (Salis Nurul Hikmah, 2022).
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh North Carolina yang merupakan ahli saraf di Duke Insitute for Brain Sciences pada bayi yang berusia 6 bulan, menunjukkan bahwa sebelum bayi mengembangkan keterampilan berbahasa, bayi memiliki kemampuan luar biasa dalam pemahaman matematika mengenai angka. Dengan menunjukkan kepada mereka dua layar yang memiliki dengan 8 titik beberapa kali, kemudian diganti dua layar yang mempunyai 8 dan 16 titik, bayi-bayi tersebut fokus pada layar dengan angkanya yang berubah setiap kali ditampilkan. Tiga tahun kemudian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa bayi yang lebih menaruh perhatian pada perubahan angka laya dalam percobaan tersebut merasa lebih mudah untuk memahami konsep matematika baru.
Pengenalan angka pada anak usia yang sangat dini tampaknya menjadi indikator keberhasilan akademis di masa depan.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh North Carolina, Dr Elizabeth S. Spelke dari Harvard University juga melakukan penelitian dengan mengukur tingkat pemahaman bayi. Ditemukan bahwa anak-anak yang sangat muda dapat menaksir jumlah dengan evaluasi visual. Ketika orang dewasa memasukkan tangan mereka ke dalam ember berisi 80% bola ping-pong putih dan 20% merah, bayi-bayi itu tampak terkejut ketika orang dewasa tersebut mengeluarkan lebih banyak bola merah daripada bola putih.
Kemampuan untuk memahami jumlah ini berkembang dengan cepat selama tahun pertama. Pada awalnya, anak-anak dapat mengenali perbedaan antara dua kelompok objek:
Dari usia 6 bulan, bayi dapat membedakan antara dua kumpulan besar benda di mana kumpulan benda yang satu dua kali lebih besar dari yang lain.
Dari 9 hingga 12 bulan, kemampuan matematika mereka meningkat dan mereka dapat membedakan antara kumpulan 8 mainan dan 10 mainan (Kurniawan, 2019).
Dari kedua penelitian di atas, kita bisa mengetahui seberapa pentingnya belajar matematika pada anak usia dini. Jadi, ajarkanlah ilmu matematika dengan cara yang menyenangkan agar anak-anak suka dan tertarik untuk mempelajari lebih mendalam mengenai matematika.
(Siti Nur Halimah adalah Mahasiswa program studi Pendidikan Matematika di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Tinggal di Dk. Krajan, Desa Pruwatan, Kec. Bumiayu, Kab. Brebes)