PanturaNews (Batang) - Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menggelar ritual sakral penjamasan (penyucian) puluhan benda pusaka peninggalan leluhur dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah yang bertepatan dengan Malam Satu Suro 1960 Tahun Jawa, Senin (15/6/2026) malam.
Ritual tahunan yang dipusatkan di Pendopo Kabupaten Batang ini menyasar total 62 bilah pusaka, dengan puncaknya mendudukkan pusaka utama daerah, Kyai Tombak Abirawa dan Payung Tunggul Pangayom.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menyatakan bahwa prosesi ini bukan sekadar ritual mistis, melainkan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga dan melestarikan tradisi para pendiri Kabupaten Batang agar tetap dikenal oleh generasi muda.
"Jamasan sebagai tradisi akan terus dilestarikan, termasuk dengan mengikutsertakan pejabat dalam segala prosesinya. Semoga selama setahun ke depan seluruh warga Batang dilancarkan segala kepentingannya," ujar Faiz, Selasa (16/6).
Ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa, Raden Susanto Waluyo, menjelaskan bahwa prosesi jamasan pada Malam Satu Suro berbeda total dari pembersihan rutin bulanan. Mengingat mayoritas pusaka telah berusia di atas 100 hingga 200 tahun, diperlukan ketelitian tinggi dan ritual yang lebih mendalam.
"Malam ini ada 10 tombak dan dua keris pusaka yang akan dijamas. Karena mayoritas berusia lebih dari 200 tahun, tentu memerlukan perlakuan khusus," kata Susanto.
Ia menambahkan, bahan besi kuno pada pusaka tersebut membutuhkan uborampe (perlengkapan) khusus seperti air kelapa, air bunga, kain mori, hingga minyak pusaka agar fisiknya tidak rusak. Susanto juga mengapresiasi Pemkab Batang yang kini telah memfasilitasi ruang penyimpanan khusus untuk menjaga keamanan benda-benda bersejarah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, merinci ada 62 bilah pusaka yang disucikan sejak Senin pagi di komplek Disdikbud Batang.
Daftar Pusaka yang Dijamas:
56 bilah Tombak (termasuk Kyai Tombak Abirawa)
5 bilah Keris
1 bilah Pedang
Untuk memeriahkan suasana, Paguyuban Tosanaji Batang turut mendampingi prosesi dengan menggelar pameran 30 bilah keris legendaris. Beberapa di antaranya merupakan benda berkategori langka dan bernilai sejarah tinggi.
"Kami memamerkan Keris Megantoro era Ken Arok yang dibuat sekitar abad ke-13, Tilam Upih, Jalak, Singo Barong, hingga Nogo Sosro," ungkap Ketua Paguyuban Tosanaji Batang, Ibnu Kharis.
Ibnu memaparkan bahwa dalam filosofi Jawa, tiap pusaka diciptakan oleh seorang empu dengan simbolisme dan doa tertentu. Ia mencontohkan Keris "Brojol" yang dipercaya dibuat untuk melambangkan kemudahan dalam memecahkan masalah kehidupan maupun kelancaran proses melahirkan.
Sebelum ritual penjamasan mencapai puncaknya pada malam hari, rangkaian acara telah dimulai sejak sore dengan mengirab Pusaka Kyai Tombak Abirawa mengelilingi komplek Kantor Bupati Batang. Perayaan Malam Satu Suro ini kemudian ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang membawakan lakon Gatotkaca Winisudha oleh Dalang Ki Beta Ardana.