Zara Setira dan penyair lainnya membacakan puisi pada Malam “Tadarus Puisi” Peringatan 1 abad penyair Angkatan 45, Chairil Anwar di halaman Balai Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. (Foto: Dok)
PanturaNews (Brebes) - Malam “Tadarus Puisi” Peringatan 1 abad penyair Angkatan 45, Chairil Anwar, Kamis 28 April 2022 lalu, cukup menyedot para penggila sajak-sajak Chairil.
Peristiwa itu terjadi saat mereka hadir di acara itu yang digelar Karang Taruna Samudra dan Komunitas Brebes Membaca. Acara berlangsung di halaman Balai Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.
Pada acara itu menghadirkan para pembaca puisi dan pemusik yakni; Rony Kribo, Zara Setira BeYe, Serly Rostarina, Wahyu Boled Ranggati, Lebe Penyair, Jobo Merdeka, Dany Padmadisastra, Miftahul Aziz, dan Jimmy HC.
Berbagai puisi Chairil Anwar dibacakan mereka secara bergantian. Dari sekian banyak yang dibacakan, ada yang menarik saat penyair Rony Kribo membawakan “Krawang Bekasi” dalam bahasa lokal.
//Enyong sing saiki wis dadi mayid karo kanca-batir/njengkangkang antarané Krawang – Bekasi/ora bisa ndelak, nggembor “Merdeka” kambén manggul senjata/Tapi sapa sing ora weruh maring perjuangané enyong kabéh//Kebayang enyong maju gagah/madep mantep karo kanca-batir?//
//Enyong ngomong maring kowen sajeroné/wayah bengi sing sepi liti//Umpamané nang njero dada langka krasa apa-apa/uga nang témbok jamé ménéhi aban-aban/nyong mati enom//
//Uga kanca-kancané enyong/sing ana mung raga kari balung campur lebu//Éling, élingana maring perjuangané enyong kabéh/sabisané nyong béla pati/tapi kerja durung rampung/tésih adoh méngéh-méngéh//
Itu penggalan dari sajak Chairil Anwar berjudul “Krawang Bekasi” yang diterjemahkan oleh Lanang Setiawan ke dalam bahasa Tegalan, dibawakan oleh penyair Rony Kribo, mendapat appluse pengunjung menggembirakan.
Ia membawakan sajak itu dengan nuansa cukup heroik. Terasa sekali suasana perang pada zaman Indonesia melawan penjajah Hindia Belanda seakan-akan diusung Rony Kribo ke wilayah Sawojajar. Puisi “Krawan Bekasi” ini juga dibacakan oleh penyair Zara Setira BeYe dalam bahasa aslinya.
Yang lebih bersemangat dan menghentak-entak sesuai kandungan dari sajak-sajak Chairil Anwar, saat tampilnya penyair Hendri Yetus Siswoyo. Ia tergolong mampu memberi warna pada beberapa puisi Chairil Anwar yang ia bawakan.
“Membaca puisi Chairil Anwar sulit, mas. Si pembaca harus memahami betul karakter penyairnya,” ujar Hendri usai turun dari panggung.
Hal yang bikin merinding saat Serly Rostarina, tampil membacakan puisi Chairil dengan penuh penjiwaan hingga penonton dibuatnya terhanyut dan merasakan penderitaan para pahlawan yang berjuang membela bangsanya.
Tidak hanya penampilan para penyair, malam itu disuguhi tarian gemulai Wahyu Boled Ranggati beseta pasangannya. Tidak ketinggalan Ki Anton Surono, dalang dari Tegal melambungkan Suluk Tegalan menghangatkan malam itu.
Usai itu tampil musikalisasi oleh Mirza Bakhtiar, Amsar Jitu, dan Chenung Lachek. Lebih menarik lagi, suguhan sebuah pameran lukisan karya dari Yenk Art, Galeri Aksara Sawojajar yakni; perupa Aria Sungsang, Nizar, Rizky Maulana, Arya, Toat, dan peupa Alik S. Berbagai aliran digelar dalam pameran tersebut.
Acara diakhiri dengan diskusi tentang sosok dan kiprah sang penyair Chairil Ancar oleh tiga narasumber yakni; Abu Ma’mur MF, Hendri Yetus Siswoyo, dan Kang Atmo Tan Sidik.