Masyarakat zaman sekarang sudah tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita zaman dahulu. Dalam disiplim ilmu bahasa Indonesia hal ini masuk ke dalam mitos, hikayat, cerita rakyat dan legenda. Padahal warisan leluhur yang tidak pernah luntur ialah bahwa masyarakat menjaga sastra yang ada di daerah tersebut. Namun, usia memang tidak ada yang tahu. Perlahan orang-orang yang dikenal dapat mengetahui cerita dari daerahnya meninggal, sehingga cerita daerah tersebut menjadi semakin lemah.
Kaum akademis yang bergelut dalam bidang sastra indonesia tentu menjadi pusat pembelajaran yang sangat khusus dalam menangani kasusus tersebut. Nyatanya sastra yang berekmbang di daerah lebih baik dibanding sastra yang kita agungng-agungkan dalam dunia khayalana. Lahirnya cerita-cerita malingkundang, sangkuriang, danau toba merupakan warisa budaya dari daerah tersebut. Sehingga mampu di implementasikan sebagai contoh pendidikan untuk masyarakat lain.
Sastra berkembang selaras dengan budaya yang ada. Sastra sebagai disiplin ilmu yang diterapkan di universitas-universitas ternama. Bahkan pendidikan bahasa indonesia sekarang beleen dengan ilmu sastra. Namun keprihatinan yang terjadi ialah, bahwa sastra daerah atau sastra klasik sangat jarang diperhatikan oleh anak muda zama sekarang, mereka lebih memilih menikmati sastra modern untuk menjadi bahan bacaan. Tersebab itulah yang sangat sastra daerah semakin mengalami kepunahan.
Masyarakat daerah bisa juga disebut dengan masyarakat awam, kurang begitu paham dengan alur ilmu pendidikan tinggi yang diterapkan. Secara harfiah pendidikan mereka banyak yang hanya sebatas SD sehingga mereka tidak mengetahui akan hal tersebut.
Seharusnya perlu disadarkan pula bahwa kaum akademis jangan hanya berkutik pada dunianya sendiri, yang dimaksud dunianya sendiri ialah bahwa kaum akademis hanya mementingkan dirinya sendiri sehingga ilmu yang diperoleh tidak memiliki keberkahan atau kebermanfaatan. Hal itulah yang harus diketahui oleh kaum akademis zaman sekarang.
Untuk merwat perkembangan sastra daerah tentu harus dilakukan dalam proses pembukuan, sehingga sastra tersebut menjadi sebuah karya. Nah permasalahan yang sangat urgent ialah bahwa untuk meningkatkan minat dalam tulis menulis yang difokuskan kepada sastra daerah itu kurang diminati oleh kaum akademis, lantas adakah solusinya?
Prof. Dr Sutomo Rektor IKIP Seamarang memberikan sebuah pemikiran baru untuk meruwat sastra daerah yaitu dengan mengadakan event-evenet yang ditemakan tentang sastra daerah. Selain itu pula sebagai dosesn atau guru sekolah lebih menekankan cerita-cerita yang disajikan cerita yang berasal dari daerah tersebut, sehingga rasa nasionalisme terhadap daerah tersebut ajan tertanam pada diri anak-anak. Pasalnya di zaman milenial ini para kaum akademis lebih suka terhdap sesuatu yang instan. Mereka tidak menginginkan sesuatu yang berjuang serta yang penuh dengan tantangan.
Sebagai generasi muda marilah kita menjadi bagian perubahan untuk desa sendiri.
(Astri adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoensia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)