Sosialisasi 4 Pilar bersama Teguh Juwarno digelar di Gedung Mulya Dana Kota Tegal (Foto: Gaharu)
PanturaNews (Tegal) - Pengamalan Pancasila, Undang-Undang (UU) Dasar, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, itu sangat penting. Pengamalan 4 Pilar Kebangsaan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai 4 Pilar Kebangsaan hanya menjadi jargon.
Hal itu terungkap pada Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara bersama Anggota MPR-DPR RI, Ir. H. Teguh Juwarno, M. Si atas kerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah (PM) Kota Tegal di Gedung Mulya Dana Alun-alun Kota Tegal, Minggu 11 Maret 2018 pukul 10.00 WIB.
Anggota DPR RI Fraksi PAN dari Dapil Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes) ini dalam setiap sosialisasi mengatakan bahwa nilai-nilai pancasila sangat penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Empat Pilar Kebangsaan sangat penting untuk diamalkan,” pesan Teguh Juwarno.
Sosialisasi 4 Pilar dihadiri sekitar 200 undangan dari kader DPD PAN Kota Tegal, Pemuda Muhammadiyah, Aisiyah. Hadir Ketua DPD PAN Kota Tegal, Wardjo Raharjo dan anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi PAN.
Sementara Staf Ahli Ketua Komisi 6 DPR RI, Teguh Juwarno, Rizki Aljupri mengatakan bahwa pengamalan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan para pemuda di Kota Tegal.
“Pengamalan 4 Pilar ini sangat penting, bukan hanya penghafalan saja. Nilai-nilai 4 Pilar jangan hanya menjadi jargon, tapi bisa menjadi nilai-nilai hidup yang diamalkan sehari-hari,” ujar Rizki.
Misalnya pengamalan sila pertama Pancasila, lanjut Rizki, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam kehidupan sehari-hari, jangan sampai menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pendidikan agama, pendidikan formal dan yang sering dilupakan oleh banyak pihak adalah pendidikan keluarga. Padalah pendidikan dalam lingkungan keluarga itu sangat penting.
“Pesan dari Ketua Umum PAN, Bapak Zulkifli Hasan dan Pak Teguh Juwarno bahwa pondasi hidup kita adalah pendidikan agama, pendidikan formal dan pendidikan keluarga,” terang Rizki Aljupri.