Selasa, 24/10/2017, 09:56:14
Ferry: Angka Kemiskinan di Jateng Memprihatinkan
-Laporan SL Gaharu

Ferry foto bersama kader-kader Partai Gerindra Wonosobo setelah konsolidasi dan sosialisasi (Foto: Dok/Tim)

PanturaNews (Wonosobo) - Tingginya angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah (Jateng), sangat memprihatinkan. Dari tahun 2013 hingga 2016, peningkatan angka ini menunjukkan, bahwa kemiskinan semakin parah dan semakin dalam, sehingga orang miskin akan semakin miskin.

Data mengejutkan soal tingkat kemiskinan diungkapkan Bakal Calon (Balon) Gubernur Jawa Tengah 2018-2023 dari Partai Gerindra, Dr. H. Ferry Juliantono saat sosialisasi dihadapan kader DPC dan PAC Partai Gerindra di Rumah Makan Sindoro Sumbing, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Senin 23 Oktober 2017.

“Indeks Kedalaman Kemiskinan atau Proverty Cap Index perangkap kemiskinan (P1) di pedesaan di Jawa Tengah naik  21,85 persen. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan atau Proverty Severity Index (P2) naik 48,21 persen dalam rentang waktu 2013-2016,” jelas Ferry yang berasal dari Jawa Tengah ini.

Menurut Ferry yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Penggalangan Massa DPP Partai Gerindra, angka ini sungguh sangat memprihatinkan. Artinya, kata dia, semakin Tinggi P1 semakin jauh jaraknya, semakin dalam kemiskinannya. Sementara semakin tinggi P2, semakin tinggi ketimpangan atau semakin banyak orang yang sangat miskin di antara mereka yang miskin.

“Peningkatan ini menunjukkan bahwa kemiskinan semakin parah dan semakin dalam di Jawa Tengah, orang miskin akan semakin miskin,” kata Ferry.

Parahnya lagi, lanjut Ferry, semakin lama semakin sulit keluar dari kemiskinan. Bayangkan, apa yang terjadi jika kepemimpinan sekarang diteruskan? Termasuk di Wonosobo ini, aalah satu kabupaten dengan jumlah orang miskin terbanyak.

“Dari data ini, jelas Jawa Tengah butuh pemimpin baru,” tandas Ferry yang setiap hari berkeliling Jawa Tengah, mendengarkan dan mencatat aspirasi warga yang akan dipimpinnya.

Dengan data yang dimiliki, serta aspirasi yang disampaikan warga maupun tokoh masyarakat, Ferry Juliantono berjanji akan memperbaiki kesenjangan kemiskinan yang kian menganga di Jawa Tengah.

“Ini menjadi prioritas utama, memperbaiki ketahanan ekonomi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, dan meningkatkan ekonomi pedesaan yang kian tertinggal,” janjinya.

Diketahui, Ferry lebih dikenal sebagai aktivis yang banyak menyuarakan kepentingan rakyat melalui aksi demonstrasi. Salah satu resiko yang harus dilaluinya sebagai aktivis, adalah mendekam di penjara pada 2008.

Penyebabnya, suami Ir. Sita Komaladewi ini memimpin aksi demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) saat pemerintahan SBY. Ferry mengaku harus membela rakyat, ketika kepentingan mereka diganggu dengan kebijakan pemerintah yang memberatkan mereka.

Bapak dua putra, Jodipati Alif Fitrahillah dan Rendrahadi Nezar Musyaffa,

banyak terlibat dalam organisasi petani, nelayan, buruh dan agraria. Sejak 2005 sampai sekarang, Ferry dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Tani Indonesia. Ia juga masih menjabat sebagai Wakil Direktur Pelaksana Induk Koperasi Tani Nelayan (Inkoptan).


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita