Kiswanto (kiri) usai tampil membawakan tarian Gatotkaca (Foto: Dok)
PanturaNews (Semarang) - Kiswanto yang pada era tahu 70-an kondang sebagai seniman panggung wayang orang Ngesti Pandowo Semarang, hingga kini tak pernah berhenti bersemangat memperjuangkan kehidupan seni tradisional untuk tetap hidup di tengah masyarakatnya.
Sanggar Prita Budaya yang didirikannya tahun 1983, dan ketika itu beralamat di Wonodri Kopen, Semarang merupakan bukti semangatnya yang besar untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional Jawa.
Kiprah Prita Budaya yang berarti makna pria dan wanita berbudaya dalam makna pejuang pengembangan budaya ini, berkiprah dalam khasanah penampilan seni budaya wayang kulit, wayang orang, ketoprak, dan ragam seni tari tradisional Jawa.
Sanggar Prita Budaya yang pada tahun 1994 hijrah beralamat di Gombel Lama No 91 Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Semarang tak putus menjadi busur kreatifitas seni tradisional yang menampilkan ragam pagelaran seni tari Jawa, wayang orang, ketoprak, wayang kulit, musik campursari, siteran, bahkan cokekan.
Di rumah sekaligus sanggarnya yang dipenuhi perangkat gamelan besi maupun perungu, pelengkapan wayang kulit serta kostum wayang orang maupun kostum ragam tari itu, Kiswanto mengaku sudah tak terhitung pagelaran seni tari, wayang orang, wayang kulit, dan seni ketoprak yang telah ditampilkannya di wilayah Semarang maupun di daerah lainnya di Jawa Tengah.
“Keberadaan sanggar Prita Budaya bertujuan melestarikan seni tradisional Jawa, agar terus hidup dan bekembang di masyarakat,” kata lelaki kelahiran Pekunden Tengah Semarang 57 tahun lalu ini.
Kiswanto yang penari memang mengawali karir kesenimanannya pada tahun 1970 di panggung wayang orang Ngesti Pandowo Semarang ini, mengungkapkan bahwa kelangsungan seni budaya tradisional harus terus diperjuangkan supaya masyarakat bisa mengapresiasi.
“Misalnya setelah menyaksikan pada perjalanan waktu kemudan ikut mempagelarkannya. Sering terjadi bermula dari perhelatan pernikahan, sedekah bumi yang mana para tamu menyaksikan tarian Gambyong, tarian Karonsih maupun Bambangan Cakil sebagai tontonan seni tradisi menyambut tamu undangan, kemudian tertarik ingin pula mempagelarkannya di kesempatan lain. Ya semacam getok tular apresiasi-lah,” ujar Kiswanto yang pernikahannya dengan Sutiem dikaruniai tiga putra yang mewarisi pula bakat seninya yaitu Muksin, Renaldy Raka Yoga, dan Renaldo Wibisono.
Lebih jauh Kiswanto yang sudah banyak makan asam garam dalam dunia seni tradisional ini, mengungkapkan pentingnya peningkatan perhatian dan pembinaan Pemkot Semarang maupun provinsi Jateng, terhadap kehidupan sanggar-sanggar kesenian tradisional.
Untuk mmbangun negara yang maju dengan masyarakatnya yang kokoh bersatu tidak hanya berdaulat membangun ekonomi dan politik, tapi mutlak memperhatikan pengembangan kehidupan akar budaya di dalam masyarakat yang berarti memerhatikan nasib sdm-nya. Tak ubahnya SDM bidang olah raga, maka SDM kesenian tradisional wajib dipacu sejahtera, sebagai wujud pembangunan manusia dan kebudayaan salah satu benteng bangsa dan negara.
“Penting peningkatan perhatian terhadap pengembangan seni budaya tradisional. Utamanya antara lain harus merata perhatian dan pembinaaannya. Sebab yang terjadi selama ini pemkot Semarang timpang dalam memberikan kesempatan tampil dalam even regional, nasional maupun internasional. Sanggar yang tampil sebagai duta seni pun hanya sanggar yang itu-itu saja karena kedekatan pimpinannya dengan tokoh sentral di lingkungan kedinasan pemda. Semoga ke depan peluang kelompok kesenian untuk diplih sebagai duta daerah dilakukan secara merata dan terbuka,” ungkap Kiswanto yang juga koreografer dan penata rias itu. (Bambang AS)