Kurniasih, sudah empat tahun tergeletak akibat lumpuh total setelah mengalami kecelakaan (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - Sudah empat tahun lamanya, Kurniasih (40), warga Desa Jipang RT 01 RW 01 Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tergeletak dalam kondisi lumpuh total. Kurniasih yang telah menjanda dengan satu anak itu mengalami kelumpuhan total akibat kecelakaan ditabrak sepeda motor, empat tahun lalu.
Sehari-sehari Kurniasih hanya dirawat oleh keluarganya, terutama Ikayah (45) kakaknya yang selalu setia, telaten dan sabar merawat serta mengurusnya.
"Kurniasih lumpuh total dan nyaris tak sadar selama empat tahun, tidak ada yang bisa dilakukan hanya matanya saja yang kadang berkedip," kata Ikayah kepada wartawan saat dikunjungi di rumahnya, Jumat 13 Mei 2016.
Ikayah menuturkan, adiknya menderita lumpuh seluruh tubuhnya, setelah mengalami kecelakaan ditabrak sepeda motor saat jalan kaki pulang kerja sebagai karyawati sebuah pabrik di Kecamatan Balaraja, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Saat itu, Kurniasih sedang berjalan di pinggir dan sebuah sepeda motor yang melaju kencang menabraknya. Akibatnya Kurniasih mengalami luka parah pada bagian kepala dan dilarikan ke Rumah Sakit (RS).
"Kejadian pada tanggal 17 Mei 2012 silam, ketika pulang kerja jalan kaki tiba-tiba ditabrak motor," ungkap Ikayah.
Kecelakaan itu mengakibatkan Kurniasih mengalami luka pada bagian kepala di sisi kiri karena benturan keras. Akibat kerasnya benturan itu bagian kanan kepalanya atau tulang pelipisnya terdesak keluar dan membenjol.
"Lukanya di bagian kiri, tapi tulang pelipis kananya menyembul karena bagian dalamnya terdesak keluar," terang Ikayah.
Saat itu Kurniasih menjalani perawatan di RS Husada Insani Serang, untuk mengobati lukanya dan mengembalikan bagian dalam kepalanya yang berisi otak, dilakukan operasi dengan membuat lubang di tempurung kepala bagian pelipis. Untuk pengobatan, Kurniasih sempat dirujuk dan dirawat di RS Rumani Semarang, Jawa Tengah, selama beberapa bulan, sampai akhirnya dibawa pulang ke rumahnya karena tidak ada perubahan.
Kurniasih mengalami luka yang mengakibatkan otaknya terganggu, sehingga seluruh anggota tubuhnya dapat tak berfungsi normal. Untuk makan dan dan minum dilakukan dengan selang melalui hidungnya.
"Makannya susu dan bubur halus yang dimasukkan dengan selang lewat hidung," ujar Ikayah.
Buang air kecil menggunakan selang atau kadang memakai pempes. Sedangkan buang air besar (BAB) juga sangat jarang dilakukan, bahkan seringnya harus dirangsang dengan obat pencahar. Akibat tidak dapat bergerak dan hanya tergeletak, kaki Kurniasih mengecil di bagian telapaknya.
Ikayah menuturkan, tulang tempurung bagian pelipis yang berlubang dapat ditutup kembali dengan tulangnya yang masih tersimpan di RS, jika Kurniasih telah sembuh dan otaknya berfungsi secara normal, meski tidak 100 persen.
"Menurut dokter untuk kembali 100 persen sangat sulit, atau hanya karena keajaiban barangkali," katanya.
Meski kondisi seperti itu, Ikayah dan juga keluarga lainnya tetap sabar merawat Kurniasih. Mereka tinggal di rumah yang sederhana tapi rapi dan bersih, tinggal bersama orang tuanya, yang telah lanjut usia. Bapaknya Umin (71) dan ibunya Sutinah (65), keduanya sudah tidak memiliki pekerjaan tetap lagi. Padahal untuk membiayai perawatan Kurniasih, seperti membeli susu khusus, serta perlengkapan lainnya, tiap bulan menghabiskan biaya tidak kurang dari Rp 2 juta.
Keluarga ini sarat dengan kekurangan secara ekonomi, meski begitu tergolong terpelajar dan cerdas. Bahkan anaknya Kurniasih, saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dengan bantuan biaya dari saudara lainnya.
Kepala Desa (Kades) Jipang, Bahrun SH membenarkan kondisi itu. Menurutnya, Kurniasih dan keluarganya patut mendapatkan perhatian dan bantuan, meski selama ini tidak pernah mengeluh atau meminta bantuan pada orang lain.
"Keluarga itu tabah dan bersahaja, meski kekurangan dan ada anggota keluarganya yang sakit tetap tidak mengeluh, apalagi meminta bantuan orang lain," kata Bahrun yang baru dilantik sebagai Kades Jipang, Kamis 12 Mei 2016 kemarin.
Dikatakan, pihaknya akan mengupayakan bantuan pada keluarga tersebut, terutama pada Ikayah yang selama ini telaten merawat Kurniasih. Perlu ada pekerjaan yang menghasilkan tapi tidak mengganggunya dalam merawat adiknya yang lumpuh itu.
"Kami sedang berpikir memberi bantuan dengan pekerjaan yang ringan," kata Bahrun.
Selain itu diharapkan pula sekiranya ada bantuan dari pemerintah atau para dermawan. Harapan untuk kesembuhan Kurniasih selalu ada, atau setidaknya meringankan beban keluarga tersebut.