Bupati Brebes (kanan) saat berbicara dihadapan Civitas Akademika Universitas Negeri Yogyakarta (Foto: Dok/Humas)
PanturaNews (Yogyakarta) - Civitas Akademika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY,) mendapat pencerahan tentang keberadaan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Mereka mendapatkan penuturan langsung dari Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE saat Bedah Buku Dies Natalis ke-52 UNY.
Bupati menceritakan bagaiamana sepak terjangnya melakukan revolusi sosial yang sangat dasyat, sehingga membawa kemajuan yang signifikan. Idza menyampaikannya secara gamblang dihadapan ratusan mahasiswa di ruang auditorium utama UNY, pada Dies Natalis ke-52 kampus tersebut.
“Saya tidak pribadi, tetapi ada tangan-tangan keikhlasan dari suami, anak-anak, hingga para Kepala SKPD dan institusi di semua tingkatan dalam melakukan revolusi sosial untuk membangun Brebes,” papar Idza dengan rendah hati, Minggu 8 Mei 2016.
Berbagai terobosan telah dilakukannya dari merangkak sebagai Wakil Bupati Pergantian Antar Waktu (PAW), hingga menjadi Bupati Brebes.
Melalui progam 6 pilar pembangunan Kabupaten Brebes, dirinya melakukan Revolusi sosial. Dan peran itu, di motori oleh dirinya sebagai perempuan biasa, namun menjadi Bupati Perempuan Pertama di Kabupaten Brebes.
“Perempuan tidak hanya dibelakang kasur, dapur, maupun sumur. Perempuan bisa bergerak, menjadi revolusioner pembangunan bangsa,” kata Idza tak bermaksud menyombongkan diri.
Idza dimintai kesaksiannya sebagai Kepala Daerah yang menurut penilaian UNY, telah membawa keberhasilan yang signifikan di Kabupaten Brebes agar dicontoh oleh para mahasiswa UNY dalam melakukan revolusi sosial.
Kesaksian terkait dengan sejarah Brebes yang telah di kaji dan tercatat secara intelektual dalam sebuah buku berjudul Revolusi Sosial di Brebes karangan Dr Aman MPd dosen UNY yang kelahiran Salem. Buku tersebut dibedah Ketua PC LP Maarif NU Brebes, KH Syamsul Maarif.
Dalam pembedahannya, Syamsul menangkap ada tiga kekuatan utama di Brebes dalam melakukan revolusi social. Ketiga kekuatan tersebut adalah kaum Agamis, Kaum Kiri dan Kaum Abangan.
“Tiga warna masyarakat ini, sangat dominan dalam melakukan revolusi sosial karena di setiap daerah, kecamatan, desa, hingga RW dan RT,” terang Syamsul yang juga Kepala SMAN 1 Bumiayu.
”Antara Lenggaong (bajingan) dengan Kiai, kadang bertolak belakang, bersahabat, kadang pula saling dukung mendukung bila ada sesuatu hal yang perlu disikapi bersana di Kabupaten Brebes. Termasuk kaum abangan juga tak mau kalah dalam mengomporinya,” tegas Syamsul.
Dengan euforia Proklamasi misalnya, ada tuntutan keadilan, sehingga ada gerakan sama rasa sama rata yang dipantik kaum kiri.
“Namun atas nasehat para kiai, karena tidak proporsional dan professional, maka perlu dipilahkan mana yang hasil dari korupsi dan mana yang dari keringat rakyat sendiri jangan dibagi-bagi seenaknya sendiri,” kata Syamsul.
Budaya Dombreng atau diarak bagi pelaku tindakan asusila, juga merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat Brebes ketika ada tindakan melanggar hukum susila. “Kiai, lagi-lagi menjembatani untuk tidak melakukan penistaan tersebut, karena ada cara-cara yang lebih santun,” ujarnya.
Dari revolusi era dulu, banyak tanah tak bertuan, juga gudang kopi terbesar ada di Brebes serta Pabrik gula terbanyak ada di Brebes. “Dari siklus sosial, mata rantai ekonomi kini dikuasai pribumi, bukan warga keturunan, contoh kecil di Bumiayu, pribumi lebih menguasai ekonomi,” tandasnya.
Sementara Kepala Program Pendidikan S3 Ilmu Pendidikan UNY, Dwi Siswoyo berharap mahasiswa untuk mengetahui secara detail tentang teori-teori sosial Indonesia. “Jangan sampai kita gandrung terhadap teori-teori orang luar negeri, sementara tidak mengetahui potensi diri sendiri,” ujarnya mengingatkan.
Untuk itu, jangan sekali meninggalkan sejarah, karena sama saja menutup masa depan. “Saat di Indonesia telah banjir korupsi. kemarau iman, serta longsor aqidah akankah kita tetap berkiblat pada dunia luar sementara keadaan negeri sendiri membutuhkan solusi?” tanya Dwi.
Dikatakannya, persoalan sosial sangat hebat, susah ditebak, tidak statis dan dinamis. “Pintu masuk mencari solusinya yakni dengan jalan mengembangkan keilmuan tanpa harus melepaskan akar kesejaraharan demi kesejahteraan masyakat banyak,” tandasnya.
Dies Natalis dimeriahkan juga dengan pembacaan puisi oleh Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik dengan judul Kelapa Ijo untuk Nusantara. Juga penampilan Motivator Nasional dari Kediri, Dodo Mahendra.
Acara dibuka oleh Pembantu rektor II UNY, Prof DR Edi Purwanta ditandai dengan pembagian buku kepada para Narasumber. Sedangkan Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti memberikan plakat Brebes sebagai kenang-kenangan atas kunjunganya kepada Purek II, Edi Purwanta.
Bedah buku berlangsung seru karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta. Usai acara, bak artis, Bupati Brebes menjadi rebutan permintaan tanda tangan dan foto selfi.