Menteri Sosial menyalami pengurus PC NU Brebes yang baru dilantik di pendopo bupati (Foto: Takwo Heryanto)
PanturaNews (Brebes) - Generasi emas Indonesia harus disematkan, karena keberlangsungan Negara dan bangsa Indonesia ini terjaga keberadaannya. Penyelematan generasi emas Indonesia tiada lain dengan penguatan akhlakul kharimah, dengan melahirkan anak-anak yang saleh dan saleha.
Demikian dikatakan Ketua Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Hj Khofifah Indar Parawansa saat pelantikan Pengurus Cabang )PC) Muslimat NU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah di Pendopo Bupati, Minggu 13 September 2015.
Menurutnya yang juga Menteri Sosial RI, bagi Muslimat NU mengartikan generasi emas tidak harus menunggu waktu tahun 2045, sebagaimana digagas oleh mantan Menteri Pendidikan, Prof Dr Moh Nuh DEA. Juga tidak seperti yang digagas oleh Pendiri ESQ Leadership Centre, DR H CH Ary Ginanjar Agustian yang menyatakan generasi emas ada pada tahun 2030.
“Bagi Muslimat NU, pemikiran generasi emas ada sejak sekarang dengan ngopeni secara penuh keberadaan generasi sejak dari kandungan,” tuturnya.
Menjadi PR bagi kita, lanjutnya, banyak generasi yang hilang akibat tidak adanya keharmonisan keluarga. Orang tua tidak lagi menjaga keberadaan janin sejak masih dalam kandungan. Menjadi Lelaki Siaga (Siap antar jaga) juga jarang kita lihat, padahal perintah Quran sudah jelas kalau seorang ayah menjadi penentram hati keluarga yang selalu menuntun istri dan anak-anaknya menjadi yang saleh dan saleha.
“Ketika ibu tengah mengandung, seorang ayah haruslah memberikan senyuman terus menerus termasuk mengelus perut istri sembari membaca ayat-ayat Quran,” ucapnya.
Sikap dan perilaku kedua orang tua, akan sangat berpengaruh langsung pada pembentukan akhlak generasi yang akan dilahirkannya. Meskipun demikian, sebagai perempuan, jangan selalu mencurahkan isi hatinya kepada lelaki lain. Karena bisa menimbulkan benih-benih menjadi Wanita Idaman Lain (WIL).
“Perkara keluarga, harus diselesaikan oleh keluarga itu sendiri dengan lebih mengintensifkan harmonisasi, agar stabilitas keluarga terjaga aman,” tegasnya.
Ukuran aman, kata Khofifah, bagi TNI dan Polri sangat berbeda dengan aman dalam penilaian Muslimat NU. Barangkali untuk TNI Polri kalau Negara ini tidak diganggu, tidak ada pencurian bisa dikatakan aman. “Tetapi bagi Muslimat, keamanan diukur pada sejauh mana kemuliaan akhlak generasi bisa terwujud di masyarakat,” ungkapnya.
Penanaman akhlak kepada generasi sejak dini menjadi garapan Muslimat NU lewat pendidikan TK/TPQ harus lebih dimatangkan lagi. Karena lewat pendidikan dini menjadi sumbangan yang tak ternilai. Disamping itu, NU juga untuk menguatkan pendidikan SD/MI/, SMP/MTs, SMA/MA/SMK unggulan. Dalam artian unggul dalam iptek, imtak dan berakhlakul karimah.
Sementara Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE mengapresiasi Ketua PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial yang menyempatkan waktu ke Brebes. Kedatangan Khofifah menjadi daya dorong tersendiri bagi kemajuan pembangunan di Brebes.
Sebagaimana maklum, Brebes memiliki jumlah penduduk terbanyak se Jawa Tengah dan memiliki wilayah terluas kedua setelah Cilacap. Yang tentunya, persoalan sosial kemasyarakatan masih menghinggapi Brebes.
“Mayoritas penduduk kita adalah Nahdliyin, tentunya perlu mendapatkan perhatian khusus dalam penanganan masalalah-masalah sosial, seperti tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi,” terang Idza.
Ketua PC NU Brebes, Drs H Athoillah SE MSi menambahkan, ada peningkatan yang perlu mendapat perhatian khusus untuk menyelamatkan generasi emas. Yakni peningkatan pendidikan baik formal, informal maupun non formal. Yang tidak kalah penting, adalah peningkatan bidang kesehatan.
“Bila dua factor tersebut mendapat perhatian khusus, tentu generasi emas akan terselamatkan,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mensos memberikan bantuan modal kepada 10 kelompok usaha bersama (KUB) An-Nisa Muslimat NU. Masing-masing KUB mendapatkan suntikan dana Rp 20 juta.