Bupati Brebes foto bersama pengurus NU pada Harlah NU ke-89 di Lapangan Desa Jatirokeh (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Nahdlatul Ulama (NU) diminta membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes, Jawa Tengah dalam memajukan daerah. Terutama dalam peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan pembangunan lainnya. Sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan lahir maupun batin.
Hal tersebut disampaikan Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti SE, saat sambutan peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-89 dan Pelantikan MWC NU Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, di Lapangan Desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Ahad 8 Pebruari 2015.
Harlah ke-89 NU dibarengi dengan pelantikan Pengurus MWC NU Songgom periode 2014/2019, Pengurus Muslimat NU periode 2014-2019, Pengurus IPNU-IPPNU periode 2015/2017. Pelantikan juga dimeriahkan dengan pawai taaruf yang menampilkan berbagai potensi daerah di Kecamatan Songgom. Lebih kurang 200 mobil hias memadati jalan-jalan di Kecamatan Songgom dari pukul 08.00 sd selesai.
Menurut Idza, NU menjadi gerbong terbesar untuk pembangunan daerah. Maka peran sertanya dalam pembangunan daerah sangat dinanti. “ Banyak hal yang bisa dilakukan oleh NU, Muslimat NU, Fatayat NU, Ansor, IPNU-IPPNU dalam menggerakan seluruh potensi daerah,” kata Idza.
Idza percaya, di NU banyak tangan-tangan kreatif yang bisa menorehkan prestasi. Seperti di pelayanan KB terbukti Muslimat NU Brebes menjadi juara 1 tingkat Jawa Tengah. Begitupun dalam penggarapan bidang pendidikan telah banyak dilakukan oleh LP Maarif NU dan kegiatan ekonomi kreatif juga telah digarap oleh para ibu-ibu Muslimat, generasi muda NU dan Lembaga serta badan otonom lainnya.
“Membantu Pemkab, bisa dengan memaksimalkan kegiatan ekonomi kreatif,” tandas Idza yang juga Wakil Ketua PC Fatayat NU Brebes itu.
Ketua PC NU Brebes H Athoillah Syatori MSi menjelaskan, NU hingga sekarang masih menghadapi dua tantangan besar. Yang bila tidak dilawan akan membahayakan kelangsungan hidup NU dan umat. Tantangan tersebut berupa tantangan ideologis dan tantangan ekonomis.
Kalau tantangan ekonomis, kata Atho, Nahdliyin (warga NU) sudah terbiasa. Karena Nahdliyin sudah terbiasa hidup prihatin. Sehingga apapun alasannya, kuat bertahan dengan terus menerus mengupayakan diri keluar dari lilitan ekonomi dengan menciptakan lapangan-lapangan kerja terutama dengan diri sendiri dengan menjadi pelaku ekonomi.
“Pelaku UMKM, mayoritas pada Nahdliyin,” terangnya.
Tantangan ideologis, menurut Atho, bisa dikatakan berat juga ringan. Tantangan ideologys berat yang dihadapi warga Nahdliyin berupa kelahiran aliran trans nasional. Para penganut trans nasional sudah dengan terang-terangan menyerobot ideologis Ahlussunah Wal Jamaah NU dengan cara kekerasan.
“Kita harus teguh pendirian dengan membentengi diri dari aliran-aliran trans nasional,” tandas Athoillah.
Sementara, Ketua MWC NU Songgom Harun SAg bertekad akan mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah di kalangan warga NU. Sebab hal ini telah dilakukan oleh para pendahulu NU yang menggiatkan Nahdlatul Tujar pada zamannya.
“Kita sudah terbiasa dengan kebiasaan mengembangkan usaha ekonomi kreatif,” kata Harun.
Disamping itu, lanjutnya, MWC NU Songgom siap menyesuaikan berbagai kegiatan NU yang disinergikan dengan kegiatan pemerintahan daerah. “NU selalu bersinergi dengan pemerintah, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kemaslahatan umat,” ungkapnya.