Jumat, 19/03/2010, 18:40:00
Fadel Muhammad: Ratusan Hektar Pantai di Jawa Tengah Rusak Parah
AZ-Agus Zahid

Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr Ir H Fadel Muhammad saat kunjungan kerja (Kunker) di Pantai Depok, Siwalan Kabupaten Pekalongan. Menteri memberikan bantuan pohon mangrove, bibit bandeng, nila dan rumput laut kepada para petani tambak. (FT: Agus Zahid)

PanturaNews (Kajen) - Ratusan hektar pantai di Jawa Tengah kondisinya rusak parah. Sepanjang 325 kilometer lebih pantai yang membentang di Pantura Jawa Tengah, 75 persen kondisinya rusak parah, apalagi kondisi pantai di daerah selatan. Karena itu pemerintah saat ini akan memperbaiki ekosistem di lingkungan pantai baik dengan menggalakkan penanaman mangrove dan lainnya.

"Pantai di Jawa Tengah sekitar 700 sampai 800 hektar, 75 persennya rusak parah. Itu yang menjadi tanggung jawab Gubernur Jateng," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr Ir H Fadel Muhammad ketika berkunjung ke Pantai Depok, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Jumat 19 Maret 2010 pukul 11.00 WIB.

Untuk mengantisipasi kerusakan pantai terutama di pantai selatan, pemerintah pusat menggalakan pohon cemara laut, campang dan lain-lain. Sedangkan di pantai utara pemerintah menggalakkan penanaman mangrove secara nasional. Pemerintah melibatkan beberapa unsur untuk menanggulangi masalah tersebut. Jika tidak secepatnya ditangani, tak ayal pantai Depok, Siwalan yang saat ini masih bisa ditempati, lima tahun mendatang sudah tergerus air laut. Berdasarkan penelitian, setiap satu tahun pantai Depok tak kurang dari 10 meter terkena abrasi.

"Saya saat ini membantu 10 juta pohon mangrove untuk Jawa Tengah. Program kita sampai 100 juta pohon yang harus ditanam, kalau berhasil kita tambah lagi," lanjut Fadel.

Sementara Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo menyatakan, kerusakan ekosistem di pantai baik utara maupun selatan sulit diatasi. Selain kondisi alam seperti gelombang yang besar dan kandungan garam yang tinggi di laut selatan, sehingga tak bisa ditanami mangrove, juga karena faktor pencemaran limbah industri di pesisir pantai utara dan lain-lain.

Karena itu, gubernur meminta kepada masyarakat Jawa Tengah untuk komitmen dan berniat baik melakukan penataan dan pemeliharaan lingkungan. Sebab berapa pun banyaknya bantuan dari pusat, kalau masyarakat tidak mempunyai komitmen akan sia-sia. "Kondisinya memang sulit, tapi kalau masyarakatnya berniat baik untuk menjaga lingkungan pantai akan bisa tercapai, tapi kalau tidak, berapapun bantuan mangrove, ikan, rumput laut dan lain-lain akan sia-sia, saya serius untuk kepentingan rakyat," kata Bibit Waluyo.

Sedangkan Bupati Pekalongan, Dra Hj Siti Qomariyah MA mengutarakan, untuk memelihara ekosistem pantai utara terutama di Kabupaten Pekalongan, pihaknya melakukan kerjasama dengan berbahai pihak, termasuk LSM dan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem terutama di pantai. "Kita akan terus menggalakkan pemeliharaan ekosistem pantai dengan melibatkan semua pihak, kita juga akan mendatangkan tim ahli," katanya.

Usai dari Kabupaten Pekalongan, Menteri menyempatkan diri meluncur ke Kota Pekalongan untuk meresmikan 50 unit rumah ramah bencana untuk nelayan. Dalam kesempatan itu, Fadel menyatakan bahwa pemerintah sedang merencanakan program asuransi dan permodalan bagi nelayan. Langkah ini dilakukan melalui bukti kartu tanda anggota nelayan yang sedang diuji coba.

“Ini akan bermanfaat untuk mengajukan permodalan dan asuransi, termasuk ketika musim paceklik dan cuaca buruk,” terang Fadel Muhammad.

Total rumah ramah bencana yang diserahkan pemerintah kepada nelayan miskin sebanyak 196 unit yang tersebar di Kota Pekalongan sebanyak 50 unit, di Kabupaten Pekalongan 25 unit, di Cilacap 41 unit, di Brebes 50 unit dan di Rembang 30 unit rumah.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita