Balita yang tidak memiliki kelobak mata sejak lahir, membutuhkan bantuan biaya operasi (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Kendati balita yang dilahirkan dari rahimnya dengan kondisi kelopak mata yang tidak normal, namun bagi Murni, warga Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tidak merasa berkecil hati. Ibu muda yang telah melahirkan anaknya diberi nama Nadia Ulistia Putri dan saat ini berusia 2 tahun, tetap berusaha untuk sabar terhadap kondisi anak pertamanya yang telah dikaruniakan oleh Allah.
Bahkan, apa yang dialami putri satu-satunya hingga menyebabkan susah tidur, karena tidak memiliki kelopak mata yang tidak utuh ini, istri dari buruh serabutan ini hanya pasrah dan berharap ada para dermawan yang bisa membantu biaya pengobatan ke rumah sakit agar bisa normal layaknya balita lainnya.
"Karena tidak memiliki kelopak mata yang utuh, Nadia jadi susah tidur dan takut terkena sinar matahari. Kalau mau tidur ditutup matanya dengan kertas atau solasi hitam. Supaya cahaya tidak masuk ke kornea mata agar bisa memejamkan mata, dan tertidur pulas,” ujar Murni kepada wartawan, Selasa 13 Mei 2014.
Ia berharap atas kondisi putrinya ini, para dermawan, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes bisa membantu untuk memberikan biaya pengobatan ke rumah sakit, agar putri pertamanya yang dilahirkan pada 17 Mei 2012 ini, bisa memiliki kelopak mata yang normal.
Murni mengatakan, putrinya pada saat itu pernah dibawa ke rumah sakit di Bandung, Jawa Barat. “Kata dokter di rumah sakit itu, anak saya mengalami cacat pada kelopak matanya. Itu bisa menyebabkan rabun. Lalu dokter menyarankan agar dilakukan operasi kecantikan untuk menambal kelopak matanya. Biayanya bisa sampai Rp 30 juta. Jelas biaya sebesar itu sangat besar bagi saya, karena suami hanya berprofesi sebagai buruh serabutan," ungkapnya.
Ia mengaku tidak tahu pasti apa yang menyebabkan putrinya itu hingga terlahir dengan kondisi kelopak mata yang tidak utuh. Namun, ia bercerita bahwa saat kehamilam pertama sampai melahirkan sering mengalami sakit-sakitan. Awalnya sering muntah-muntah, kemudian batuk, demam, pilek akut serta mengalami pendarahan hebat pada saat usia hamil 7 bulan.
Akibat sering sakit-sakitan itu, tubuhnya menjadi kurus, bahkan kurang gizi hingga mengakibatkan daya tubuhnya semakin hari semakin lemah. Ia beranggapan, hal tersebut yang menyebabkan bayinya terlahir tidak normal. Saat di dalam perut, janinnya tidak terbentuk sempurna.
Itu diketahui ketika memeriksakan kehamilannya di bidan desa setempat. Saat itu, bidan mengatakan tidak sanggup menanganinya karena kondisi fisiknya lemah. Akhirnya ia dirujuk ke salah satu rumah sakit di Bandung, dengan biaya atas pijaman dari saudaranya. Kartu jaminan sosial (Jamkesmas) saja ia tidak punya.
“Saat itu, mau tidak mau saya harus dirawat di rumah sakit supaya bisa melahirkan dengan selamat. Tapi, ternyata bayi yang selama ini diimpi-impikan terlahir cantik dan sehat, ternyata tidak memiliki kelopak mata yang lengkap seperti halnya bayi normal lainnya.
Saya hanya menangis, meskipun badan saya masih berkeringat dan tenaga sudah lemas, saya peluk bayi saya dan saya pangku,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.