KTMI dengan panen perdananya yang mencapai 12,3 ton/ hektar di Kaligelang Pemalang
PanturaNews (Pemalang) - Hasil panen Padi Bakterial yang ditanam dan dibudidayakan oleh Komunitas Tani Mandiri Indonesia (KTMI), sangat mengejutkan yaitu mencapai 12,3 ton per hektar. Itu jauh lebih tinggi dari hasil panen padi pada umumnya, yang rata-rata hanya mencapai 5,9 ton per hektar.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang, Ir. Supriantopo saat menghadiri panen raya Padi Bakterial di areal persawahan Kaligelang Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Senin 25 Februari 2013.
Dikatakan, Kabupaten Pemalang pada tahun 2012 untuk produksi padi rata-rata hanya mencapai 5,9 ton per hektare dan hal tersebut sudah dapat mencapai target 5% dari yang ditetapkan pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Jika hasil panen tidak usah memakai angka 12,3 ton tapi cukup 10 ton saja, maka sudah ada peningkatan 4,1 ton per hektare, kata Supri.
Untuk tahun 2013 sendiri Kabupaten Pemalang ditarget 332 ribu ton beras, jika sasaran panen 50%, maka Pemalang sudah surplus beras sekitar 10 juta ton pada tahun 2014, jika sudah seperti itu kesejahteraan dan daya beli masyarakat tani bisa meningkat sehingga kemakmuran petani di Pemalang dapat terwujud.
Sementara itu ketua KTMI, Prof. Dr. Adi menyampaikan, bahwa keberhasilan peningkatan produksi Padi Bakterial ada pada sistem pencegahan hama/ pengganggu tanaman. Petani pada umumnya lebih cenderung ining agar tanaman padinya selnya bertambah tapi sebenarnya bukan bertambah tetapi itu memperbesar sel. Tanaman padi yang besar selnya secara otomatis akan tipis dinding selnya sehingga itu rentan terhadap hama penyakit. Konsep yang ditawarkan KTMI tidak demikian adanya, sambung Adi.
Hama yang ada dalam tanaman padi sebenarnya karena tanaman atau batang padi itu sendiri menyediakan makanan yang cukup lezat bagi mereka. Tanaman padi dibuat hijau tua dengan penggunaan pupuk kimia yang sementara oleh petani dianggap subur, padahal itu justru mengundang serangga menjadi tertarik dan datang untuk menyerangnya.
Dikatakan, hijau tua pada daun padi akan menghasilkan klorofil diatas ambang dan itu mengandung gula sehingga hama akan senang mendekat, jika sudah demikian batang padi akan menjadi sasaran terutama wereng yang menjadi momok petani untuk diserang lebih awal. Daun padi yang baik berwarna hijau muda bukan hijau tua agak kebiru-biruan, dan itu tidak disukai oleh hama.
Dengan konsep yang ditawarkan tadi paling tidak akan menaikkan proktivitas, mempebaiki sifat fisik/ sifat kimia tanah dan batang atau tanaman padi tidak disukai hama dengan demikian hasil panen menjadi meningkat. "Ini sudah dibuktikan oleh teman-teman KTMI di 65 kabupaten", ucapnya.