Rabu, 13/02/2013, 08:06:27
Upaya Pembangkrutan Para Politisi Korup
Oleh: Yunus Awaludin Zaman
--None--

Anas-Anis dua-duanya diperkirakan akan habis. Sandungan Hambalang dan Jenggot Sapi adalah fenomena gunung es di bawah kedua partai yang mereka pimpin. Apa yang terlihat di permukaan tak persis seperti apa yang terdapat di bawahnya. Dan tentu sudah mafhum bahwa era reformasi hanya merubah sistem korupsi. Yang asalnya sentralistik (baca: korupsi individual) dirubah menjadi otonomistik (baca: korupsi berjama'ah).

Ini adalah musibah besar bangsa ini. Di mana seluruh system ketatanegaraan berdasarkan kendali partai politik yang rusak. Bagaimana ini tidak disebut dengan bencana sistemik? Lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif berada di bawah kendali partai. Meminjam sebuah ungkapan Kwik Kian Gie, "ketika mentalitas partai hancur, maka sebenarnya negara ini sudah tidak ada".

Ketidak amanahan pun tidak hanya berhenti di partai. Para pegawai negeri pun ikut terbawa irama para politisi. Jadilah mereka jongos-jongosnya. Sebagai sampel misalnya lembaga perpajakan yang notabene sebagai penyumbang terbesar APBN yang kemarin-kemarin santer berita tentang Gayus dan Dhana. Berani dengan bos (baca: politisi),

maka taruhannya adalah kesejahteraan. Dan sepertinya mentalitas politisi dan pegawai negeri itu sama: takut lapar dan takut miskin, tidak takut kepada rakyat yang diwakilinya, apalagi Tuhan yang ghaib (tidak kasat mata).

Pada mulanya partai politik adalah lembaga perwakilan dari rakyat. Yang mewakili rasa dari rakyat. Namun karena godaan nyamannya kekuasaan, mereka lupa tujuan awal sehingga yang mereka bangun adalah kendaraan politik, yang mereka perjuangkan adalah infrastruktur politik yang mengembangkan politik, bukan kultur politik yang mengembangkan politik.

Perjuangan menjaga perasaan rakyat melalui partai politik sepertinya juga akan segera habis. Hanya menunggu [bom] waktu saja. Rakyat mulai jengah dengan gombalisasi mereka.

Namun masyarakat tidak seluruhnya faham dengan keadaan ini. Terutama masyarakat yang tak pernah dibekali ilmu untuk melawan kedzoliman. Mereka hanya pasrah dan tak tahu harus berbuat apa-apa. Sedangkan kebutuhan ekonomi terus menuntut. Pada akhirnya, masyarakat pun terkena imbas pragmatisme. Apalagi saat momen-momen Pilkades, Pileg, ataupun Pilpres. Lahirlah apa yang disebut politik transaksional. Siapa yang dapat memberi sesuatu, maka dia akan dipilih. Dan masing-masing calon (pemimpin) berlomba-lomba merebut simpati dengan cara itu.

Dan para intelektual partai sangat paham. Untuk dapat melanggengkan inrastruktur politiknya (baca: partai), rakyat harus dibuat miskin dan awam. Dinasti partai politik akan sia-sia dilawan secara frontal. Mereka memang terlatih lihai bersilat lidah. Basis partai adalah rakyat. Kalau tidak mendapat dukungan, dengan sendirinya partai akan bangkrut. Namun tak mudah. Rakyat sudah didisain secara sistemik baik secara

ekonomi dan pemahaman (baca: pendidikan).

Pergerakan NGO (Non Govermental Organization) menjadi sangat krusial dan sangat dibutuhkan karena tidak berafiliasi dengan kepartaian apalagi kekuasaan. Mereka bergerak secara riil memetakan masalah masyarakat dan memberi solusinya. Dalam hal ini kaitannya dengan pendidikan politik dan membangun ekonomi masyarakat. Adalah mentalitas masyarakat yang perlu dibangun terlebih dahulu dan utama. Lapar dan awam sepertinya menjadi "kuntilanak" yang menurunkan harga diri rakyat, harga diri bangsa. Kalau mental ini kokoh, harga diri tak akan bisa terbeli seonggok uang, sekantong

beras, atau beberapa bungkus mie instant, maka dengan sendirinya para calon pemimpin yang didukung para cukong (baca: modal uang dalam berpolitik) pasti akan kapok dan bangkrut.

Masyarakatlah titik tolak perjuangan memperbaiki bangsa. Jangan salah jika berkali-kali melahirkan pemimpin yang korup karena masyarakatlah yang mendukung. Jika masyarakat berani lapar dan tidak awam (tahu bagaimana memperjuangkan hak-haknya yang didzolimi), insha Allah bangsa ini menjadi bangsa yang "baldatun toyyibah wa Rabbun ghofuur", bangsa yang berkah dan Tuhan selalu memberi ampunan dan memberi rahmat kepada kita. Amin.

(Yunus Awaludin Zaman, Kepala Bidang Pendidikan dan Pengkaderan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) Pusat)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita