Sabtu, 26/01/2013, 08:15:28
Dialog Fraksi PDIP: Menakar Komitmen Kebangsaan
JGH-Laporan Riyanto Jayeng & SL Gaharu

Para pembicara dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan Fraksi PDIP DPRD Kota Tegal (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Melunturnya jiwa berbangsa, rasa kebangsaan dan memudarnya komitmen kebangsaan menjadi pokok bahasan utama dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat 25 Januari 2013 pukul 20:00 WIB di ruang paripurna DPRD setempat.

Menurut Ketua panitia penyelenggara acara, Sutari SH, seminar kebangsaan yang dikemas dalam tema “Menakar Komitmen Kebangsaan Kita”, menghadirkan pembicara Walikota Tegal H Ikmal Jaya SE Ak, Ketua DPRD Kota Tegal H Edi Suripno SH, Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal Nurhidayat Poso dan perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), diselenggarakan dalam rangka peringatan HUT PDI Perjuangan yang ke-40.    

“Tujuan mendasar dari gelar seminar ini, adalah mengajak seluruh komponen bangsa untuk menilik kembali komitmen kebangsaan kita. Kita mengajak kepada seluruh masyarakat, tidak memandang basik partai maupun golongan, untuk bersama-sama menyelamatkan NKRI dari gejala-gejala disintegrasi yang hendak memecah belah rasa kesatuan dan persatuan. Itulah sebabnya tema seminar ini menukik kepada persoalan komitmen kebangsaan kita,” tutur Sutari.

Hal senada disampaikan H Edi Suripno. Menurut Edi, komitmen kebangsaan setiap individu warga negara Indonesia sedang diuji. Perubahan peri kehidupan berbangsa dari zaman ke zaman, dari system pemerintahan yang satu ke system pemerintahan yang lain, tidak dipungkiri telah membentuk karakter individu bangsa yang cenderung memprioritaskan ruh atau jiwa kedaerahan atau primordialisme.

“Kondisi demikian akan menjadi persoalan baru di masa kini atau masa yang akan datang. Untuk itu, melalui forum ini, forum terhormat yang dihadiri oleh para wakil masyarakat dari berbagai golongan maupun parpol, kami mencoba menggali apa yang menjadi pemicu kendurnya ikatan kebangsaan kita,” kata Edi

Pertumbuhan sector ekonomi, politik, budaya dan penguatan hak asasi lainnya, tanpa disadari telah menciptakan masyarakat yang terkotak-kotak. Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya instrument kehidupan di abad modern, yang menuntut setiap individu bangsa harus energik dan cerdas dalam bersaing mendapatkan satu harapan yang disebut eksistensi.  

“Tidak jarang kita ini kerap melupakan rasa berbangsa , rasa satu bangsa dengan pihak lain dalam meraih kepentingan,” ujarnya.

Sementara, salah seorang audiens yang mengatas namakan dari Partai Golkar, Drs H Didi Djanuardi berpendapat, bahwa memudarnya rasa kebangsaan yang ada di sanubari para generasi bangsa Indonesia itu, lantaran perubahan besar yang sangat fundamental di system pemerintahan dan negara ini. Sebagai gambaran yang paling mudah adalah pelanggaran sila ke 4 Pancasila.

Di dalam sila ke-4 itu, yang dimaksudkan wakil rakyat adalah orang-orang yang didaulat oleh Negara untuk mewakili rakyat. Akan tetapi pada prakteknya justru berkembang menjadi dipilih langsung, dan ternyata dengan system pilih langsung itu tidak maksimal menghasilkan wakil rakyat yang kwalifite, dibandingkan dengan sistem pemerintahan di era orde baru.

“UUD 45 tidak hanya diubah di beberapa pointer substansinya saja, namun secara utuh UUD 45 yang menjadi landasan konstitusi dari Negara dan pemerintahan Indonesia ini, justru telah mengalami perubahan isi dan bentuk sampai berkali-kali. Hal seperti itulah yang turut mewarnai karakter rakyat Indonesia menjadi berkurang kadar kebangsaannya,” tegas Didi.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita