Mbah Wardi (kanan) menerima hadiah kelapa muda dari Atmo Tan Sidik (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Mbah Wardi: Makin Tua Makin Tertata/ Mbah Wardi, wis wayahe sore/ Batire akeh sing wis pada balik/ Sampeyan esih bregas waras bae/ Wis wayahe maghrib enggal balik/ Tapi sangune wis akeh apa belih?
Sepenggal puisi dalam bahasa Brebesan Karya H Zaenal Arifin itu, dibacakan Drs Atmo Tan Sidik pada ulang tahun ke-80 H. Soewardi Wirjaatmadja SH di rumahnya, Kamis 24 Januari 2013.
Puisi tersebut mengingatkan Mbah Wardi, demikian sapaan akrabnya yang telah lingsir bahwa kehidupan seseorang dalam dunia ini, bagai matahari yang kadang harus menjemput malam. Ada saatnya harus menemani malam, tidur ke peraduan ketika maghrib telah datang. Namun sudahkah memiliki bekal untuk menata kehidupan yang langgeng di alam baqa?
Tepat pukul 10.00 WIB, sebagaimana tertera dalam undangan, teman-teman Mbah Wardi sudah berkumpul di kediamannya jalan Ahmad Yani Brebes. Tampak sederhana sekali perayaan ulang tahun tokoh besar masyarakat Brebes itu. Terlihat hanya terpasang karangan bunga Ucapan Selamat Ulang Tahun dari PO Dedy Jaya, H Muhadi Setia Budi. Kemudian sepotong tumpeng dan kue tart berukuran 20 X 20 centimeter bertuliskan angka 80 dari lilin berwarna merah.
Mbah Wardi di dampingi istrinya meniup lilin dan memotong tumpeng. Layaknya pesta ulang tahun remaja, nyanyian panjang umurnya dan tiup lilinnya pun menyeruak diiringi tepuk tangan yang riuh dan tertawa kecil.
Di ruang tamu yang berukuran sekitar 4 X 6 meter dan kamar belakang dipenuhi sekitar 30 teman-teman Mbah Wardi. Mereka saling bercengkrama, sembari guyon. Meskipun teman itu berasal dari berbagai latar belakang seperti anggota PNI, HIPPRADA, PWRI ataupun Dewan Pendidikan.
“Saya mengundang teman-teman, sebenarnya bukan untuk merayakan ulang tahun tapi ingin mendengarkan penuturan, kritik dan saran mengenai diri saya. Karena saya akan menulis otobiografi saya,” terangnya.
Keterangan teman-teman, lanjutnya, akan membawa bobot tulisan secara jujur. Bukan dibuat-buat. “Insya Allah buku tersebut akan saya selesaikan pada 28 Oktober 2013,” tekadnya.
Mbah Wardi yang lahir di Desa Pagejugan Brebes 24 januari 1933 di mata teman-temannya sebagai sosok yang disiplin sebagaimana diungkapkan teman seperjuangan Soekardi (86) dan Sudarmo (82). Karena kedisiplinannya, terutama dalam memenuhi undangan rapat dan berbagai acara membuat panitia kelabakan dan dibuat malu akibat acara belum dimulai dengan jam yang tertera dalam undangan.
Sehingga ketika mengundang Mbah Wardi secara khusus jam undangannya diundurkan 1 jam dari jadwal umumnya. “Siasat kaum muda, kalau mengundang Mbah Wardi pasti jamnya diubah,” terang Wijanarto.
Dalam kesempatan tersebut, satu persatu teman yang hadir dimintai pendapatnya mengenai sisi lain Mbah Wardi maksimal lima menit. Muljono Djojo Martono BA misalnya, memandang Mbah Wardi sebagai orang yang selalu ingin menolong temannya. Pikiran dan hatinya sehat dan selalu mengatur kegiatan. Dengan harapan ingin berbuat baik untuk orang lain.
Sedang Aminarso Minangkula (83) berharap, Mbah Wardi untuk bisa selalu jujur dalam segala kehidupannya. Sebab dia menjadi contoh bagi warga Brebes,
Bahkan Doparti AT BA, menganugerahkan gelar kepada Mbah Wardi sebagai 'Warga Utama'. Karena kiprahnya begitu nyata yang dilandasi dengan semangat juang yang nasionalis, demokratis dan religius. Doparipun berdoa semoga dia diberi 5 A, Awake waras, Atine seneng, Awet umure, Ana gunane lan Akeh amale.
Acara diakhiri dengan pembacaan doa oleh Imam Besar Masjid Agung Brebes Drs KH Rosyidi. Selanjutnya para undangan mengucapkan selamat sembari memberikan kado. Ada yang memberi jam dinding, sebingkai foto Tempo Doeloe, Toga (Tanaman Obat Keluarga) dan lain-lain. Seperti Kabag Humas Setda Brebes memberikan Kado 4 buah kelapa muda. Sebagai pertanda keprasahajaan, kebijakan, dan kegunaan Mbah Wardi bagi 'Bangsa Brebes'.