Senin, 07/01/2013, 10:31:55
Dewi: Tak Pantas Jika Soal Energi Masih Disepelekan
REST-Laporan SL Gaharu & Riyanto Jayeng

Anggota Komisi VII DPR RI F-PDIP, DR. Dewi Artani

PanturaNews (Jakarta) - Menjadikan energi sebagai ‘the leading sector’ seharusnya sudah mulai diterapkan. Jadi tidak pantas jika saat ini energi masih saja disepelekan, terutama oleh kalangan pengelola negara. Sudah saatnya Pemerintah Indonesia tidak bisa lagi “bergurau” dengan gaya pengelolaan energi.

Demikian dikatakan Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, DR. Dewi Artani, M.Si kepada Panturanews saat dihubungi melalui telepon, Senin 07 Januari 2012.

“Manusia tak dapat bertahan hidup tanpa oksigen. Begitu pula, tanpa energi sudah dapat dipastikan takkan ada kehidupan di muka bumi. Ini benar kata pepatah: People need oxygen to breathe, but people need energy to live,” kata Doktor Adiministrasi Kebijakan Publik dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) ini.

Karenanya, ditegaskan Dewi, tak pantas rasanya jika saat ini energi masih saja disepelekan, terutama oleh kalangan pengelola negara. Pemerintah Indonesia mestinya tidak bisa lagi “bergurau” dengan gaya pengelolaan energi saat ini, karena sekali lagi, faktanya semua aspek kehidupan bergantung kepada energi. Oleh karenanya, menjadikan energi sebagai ‘the leading sector’ seharusnya sudah mulai diterapkan.

“Model Energy Driven Policy adalah teori yang secara spesifik menggambarkan energi sebagai leading sector, yang kehadirannya memengaruhi kebijakan-kebijakan lain. Teori ini didasarkan pada esensi bahwa energi merupakan masa depan dunia, sehingga komoditas ini harus ditempatkan sebagai sektor yang paling strategis,” tuturnya.

Dijelaskan Dewi, dengan menerapkan model Energy Driven Policy, segala kebijakan akan bergantung pada posisi dan kondisi pengelolaan energi, mulai soal sumber energi, pengelolaan, tekhnologi, ketersediaan, hingga aspek sustainability-nya.

“Sebagai contoh, kebijakan pada aspek transportasi akan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber energi yang menjadi energi final berbagai jenis kendaraan, termasuk energi fosil, salah satunya bahan bakar minyak,” tandas Duta UI untuk Reformasi Birokrasi ini.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita