ILUSTRASI
PanturaNews (Brebes) - Kemarau panjang bagi sebagian besar warga merupakan bencana, namun bagi petani garam di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, justru mendatangkan berkah. Pasalnya, produksi garam para petani meningkat tajam dibanding biasanya. Sayangnya, peningkatkan produksi tidak diimbangi dengan harga jual garam yang malah merosot.
Menurut Nursori (45), salah seorang petani garam asal Desa Sawojajar, Kecamatan Wansari, Kabupaten Brebes, produksi garam saat ini meningkat sekitar 20 persen. Jika sebelumnya setiap satu hektar lahan garam hanya bisa memproduksi maksimal 8 ton, saat musim kemarau panjang seperti sekarang ini mampu menghasilkan 10 ton.
“Melimpahnya produksi garam ini tentu saja cukup menggembirakan para petani. Namun karena stok berlimpah, maka sesuai hukum ekonomi, harga garam saat ini merosot dari harga sebelumnya sebesar Rp 400 per kilogram menjadi Rp 250 per kilogramnya,” ujar Nursori, Jumat 07 September 2012.
Garam hasil panenan para petani biasanya diambil oleh para pengepul langsung ke tambak. Proses produksi garam ini memakan waktu cukup lama. Awalnya, lahan diberi air laut yang dipompa dengan kincir air. Setelah muncul endapan butiran garam, air dibuang lalu dikeringkan.
Proses selanjutnya, lahan yang telah kering dipadatkan dengan cara digilas menggunakan alat penggilas yang digerakan dengan batang bambu. setelah rata, lahan kembali diberi air. proses ini dilakukan berulang-ulang sekitar dua bulan sampai muncul kristal garam dan cukup untuk dipanen.