Sabtu, 14/04/2012, 12:35:14
Produksi Padi Benih MSP, Diatas Jenis Padi Hibrida
GHJay-SL. Gaharu & Riyanto Jayeng

Penemu Benih MSP, Ir. Surono Danu

PanturaNews (Tegal) - Padi jenis Mari Sejahterakan Petani (MSP) yang dikembangkan DPP PDI Perjuangan, bisa menghasilkan 11 sampai 14 ton gabah kering panen per hektar, jauh diatas rata-rata produksi jenis bibit padi lainnya, bahkan diatas padi jenis hibrida sekalipun, dengan usia tanam 105 sampai 110 hari setelah semai (hss) dan usia tanam 90 sampai 95 hss.

Penemunya adalah Ir. Surono Danu, pria yang lahir di Cirebon, Jawa Barat, 11 September 1951 itu, kini tinggal di Desa Nambah Dadi, Kecamatan Terbangi Besar, Lampung Tengah, Sumatera sejak tahun 1983 setelah dia keluar sebagai PNS di Jakarta. Di rumah sederhana itu, Surono memulai penelitian pada beras lokal, sampai lahirnya dua varietas padi baru, yaitu Sertani-1 dan MSP-1.

Pada tahun 1983 itu pula, kader PDI ini terus melakukan penelitian, hingga beberapa tahun berikutnya penemuan Surono ini direspon oleh DPP PDI Perjuangan. Lalu Surono diajak menghadap Megawati Soekarno Putri oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pertanian, Perikanan dan Kelautan, Mindo Sianipar dan Ketua Departemen Pertanian DPP PDI Perjuangan, DR Ir Lukman Hakim Sibuea. Dan pada tahun 2008, tempat yang dijadikan pusat penelitian di Desa Nambah Dadi dikunjungi mantan Presiden RI, Megawati Soekarno Putri dan para petinggi PDI Perjuangan.

“Varietas padi MSP, sudah mulai ditanam sejak tahun 2005 oleh petani melalui program Mari Sejahterakan Petani diantaranya di Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sumatera Utara dan hampir di seluruh Jawa,” kata Lukman.

Sejak itu, padi jenis MSP terus dikembangkan dengan melakukan uji coba di beberapa daerah di pulau Jawa. Hasilnya menggembirakan dan hasil produksinya terus meninggat. Sedangkan pengembangan dan uji coba di wilayah pantura Jawa Tengah, digerakkan oleh Anggota Departemen Pertanian, Damayanti Wisnu Putranti SIP. Uji coba di Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes sudah membuahkan hasil yang spektakuler.

Benih padi hasil temuan Surono ini, sekarang sudah dinikmati hasilnya. Pria tinggi kurus dan berambut panjang nyentrik ini, mengawali petualangannya meneliti tanaman, sejak menjejakan kaki di Lampung pada tahun 1983. “Tujuan saya untuk menambah komoditas yang otomatis akan menambah penghasilan para petani,” ujar Surono yang ditemui PanturaNews.com di Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat 13 April 2012 sore.

Selama bertahun-tahun Surono menjelajahi daerah-daerah pertanian di Lampung., Surono berhasil mengoleksi 181 jenis benih padi hasil perkawinan silang. Untuk benih jantan, Surono memilih padi asal Terbanggibesar yang diberi nama ‘Dayang Rindu’. Sedangkan benih betina dipilih dua jenis padi, yaitu asal Kampung Gunungbatin yang diberi nama ‘Si rendah sekam putih’.

Dari hasil persilangan benih itu, 10 tahun kemudian Surono menemukan benih padi yang berusia tanam 150 hari. Kemudian berkembang, dengan rumus ciptaan dan penelitianya, akhirnya ditemukan jenis padi berusia tanam 105 hari. Benih padi itu diberi nama Sertani-1.

Sambil terus melakukan penelitian, pada tahun 1999, Surono berhasil menemukan padi dengan usia tanam hingga panen hanya 95 hari. “Benih padi itu saya beri nama MSP-1 singkatan dari Mari Sejahterakan Petani, yang saat itu ditanam di Bogor, dan diuji tanam dalam paket analisis,” tutur Surono yang lebih sreg disebut sebagai jebolan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor.

Surono menyebutkan, produktivitas benih padi jenis ini bisa menghasilkan gabah mencapai 13 ton per hektar. Pada uji coba di Sumedang, ada yang menghasilkan 11,8 ton gabah kering panen per hektarnya. “Bagi saya, satu hal yang terpenting dari hasil riset saya berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tegas Surono.

Varietas padi ciptaan Surono, menurut peneliti, mampu mengungguli hasil dari benih padi hibrida. Dari hasil survey dan penelian, varietas milik Surono dari sisi aroma, rasa, tampilan dan tingkat pulennya rata-rata indeksnya delapan. Varietas padi hibrida, banyak ditanam di Cina dan mampu mendongkrak produksi beras di Cina. Dari lahan seluas 15,2 juta hektar padi di Cina sudah menggunakan padi hibrida, sehingga produksinya meningkat hingga 30 persen.

Dengan demikian, benih padi MSP ini bisa mengimbangi bahkan melebihi padi jenis hibrida. Kalau hibrida kurang cocok di daerah tropis seperti Indonesia, MSP justru adaptif dan tahan dari serangan hama wereng. “Saat ini yang sedang dalam persiapan dikembangkan ada 66 jenis, yaitu MSP-1 sampai MSP-18 yang memiliki usia tanam 105 sampai 110 hari setelah semai (hss). Dan EMESPE-1 sampai EMESPE-48 dengan usia tanam 90 sampai 95 hss,” papar Surono.

Pada panen hasil uji coba benih MSP di Kota Tegal, benih MSP yang ditanam di sawah seluas 1650 meter persegi, mampu menghasilkan gabah sebanyak 15 kwintal. Dengan ukuran luas yang sama dan menggunakan bibit padi biasa sebanyak 5 Kg, paling-paling hanya menghasilkan gabah sekitar 9 kwintal. Dengan benih padi MSP yang cuma 2 Kg, dapat mengahsilkan gabah sampai 15 kwintal.  

Selain hasil produksinya melimpah, menurut Mindo Sianipar yang hadir pada acara itu, keunggulan lain yang dimiliki padi dari benih MSP adalah bulir gabah yang dihasilkan dalam satu malay, lebih banyak dari bulir padi yang dihasilkan oleh padi dari jenis biasa. Di sisi lain, padi MSP tersebut memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh jenis padi lain, yaitu batang pohon yang kokoh, helai daun yang lebar dan tahan terhadap serangan hama.

“Gabah yang dihasilkan oleh padi jenis MSP benar-benar mampu mensejahterakan petani. Soalnya, gabah yang dihasilkan jumlahnya bisa dua kali lipat dari biasanya,” kata Mindo.

Pada kesempatan penyemprotan pada tanaman padi seluas 1/4 hektar yang ditanam menggunakan bibit padi MSP di Kota Tegal, Lukman Hakim Sibuea mengungkapkan, bahwa padi jenis MSP DPP PDI Perjuangan, tahan dari serangan hama tikus. Itu karena tanaman padi yang menggunakan bibit MSP yang disemprot dengan pupuk organic cair MSP pula, mempunyai batang dan daun yang keras, serta tingginya mencapai rata-rata satu setengah meter. Biaya produksi padi MSP juga rendah, serta hasil panen yang lebih tinggi dari padi jenis lain.

Dijelaskan, pupuk organic cair MSP harganya hanya Rp 30 ribu per liter, bisa digunakan untuk tanaman padi seluas satu hektar. Sementara obat-obatan lainnya harganya antara Rp 45 - 60 ribu per liter. Penggunaan pupuk organic cair MSP dari tanam sampai panen hanya dilakukan 6 sampai 8 kali. Selain itu, masa panen padi jenis MSP bisa lebih cepat 20 hari dari padi jenis lainnya.

“Kalau biasanya biaya produksi mencapai Rp 6 juta per hektar, tapi dengan menggunakan benih padi dan pupuk MSP bisa ditekan hanya sekitar Rp 4 juta. Keuntungan lainnya, panen bisa lebih cepat dan hasilnya 1 hingga 2 ton diatas jenis padi lainnya,” terangnya.

Penggunaan pupuk organic cair dan pengembangan bibit padi MSP di pantura Jawa Tengah, dimotori Anggota Departemen Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan DPP PDI Perjuangan, Damayanti Wisnu Putranti SIP. Uji coba sudah dilakukan di beberapa desa di Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Kabupaten Brebes.

Pada panen perdana padi MSP di Desa Pamengger, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, dari uji coba di lahan seluas 800 meter persegi, menghasilkan gabah sebanyak 692 kilogram. Jika ditanam di lahan seluas satu hektar, maka akan menghasilkan diatas 9 ton gabah.

“Hasil panen padi jenis biasa hanya 6,5 sampai 7 ton per hektar. Itu artinya jenis padi MSP berada diatasnya. Dan hal lain yang menjadi unggulan, usia padi MSP sejak mulai tanam sampai panen hanya 105 hari,” tutur Damayanti.

Dijelaskan Damayanti, selama masa taman uji coba di Desa Pamengger, hanya dilakukan pemupukan sebanyak tiga kali, ditambah penyemprotan dengan pupuk organic cair MSP sebanyak 5 kali. Dengan begitu, tanaman padi MSP yang tumbuh setinggi sekitar 1,5 meter itu, berkembang dengan baik karena tahan terhadap hama dan tahan terhadap serangan tikus.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita