Kamis, 16/02/2012, 05:09:57
Calon Bupati Boleh Banyak, Asal Tidak Saling Tabrakan
TK-Takwo Heriyanto

KH. Subekhan Makmun

PanturaNews (Brebes) - Banyaknya bakal calon bupati (Cabup) dan calon wakil bupati (Cawabup) yang mendaftar pada partai tertentu agar diusung menjadi untuk maju di Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Brebes 07 Oktober 2012, memberi gairah tersendiri bagi politikus Brebes.

Demikian dikatakan Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, KH. Subekhan Makmun. Menurutnya, banyaknya calon boleh-boleh saja asalkan damai, tidak saling tabrakan.

”Calon boleh saja banyak, asal tidak tabrakan yang ujungnya terjadi perpecahan,” kata KH. Subekhan Makmun saat dikonfirmasi di rumahnya, kompleks pesantren Assalafiyah, Kamis 16 Februari 2012.

Banyaknya calon, lanjut Kiai, menunjukan dinamika demokrasi di tanah Brebes kian hidup. Rakyat diberi kebebasan memilih tanpa harus diintimidasi ataupun diberi janji-janji. Rakyat ingin hidup damai, jangan sampai setiap pemilihan kepala daerah diakhiri dengan perpecahan.

”Brebes itu daerah yang adem ayem tentrem, jangan sampai diusik-usik oleh oknum-oknum dengan mempermainan Pilkada menjadi keruh, kotor. Pilkada, biarlah berjalanlah sesuai dengan koridor Undang-undang yang berlaku, sehingga mendatangkan kemaslahatan rakyat Brebes,” ujarnya.

Hanya rakyatlah yang berdaulat, tidak boleh ada yang ’main-main’ apalagi dengan politik uang. ”Politik uang itu haram, seberapapun besarnya dan dengan dalih apapun,” tandas Kiai.

Begitupun dengan masyarakat, hendaknya ikhlas dalam memilih pemimpin. Jangan sampai membebani para calon yang berakibat fatal dikemudian hari. ”Rakyat jangan memberi beban kepada calon pemimpin, karena nantinya beban itu akan ditimpakan kembali pada rakyat,” tuturnya.

Kiai Subekhan enggan berkomentar siapa calon yang akan didukungnya. Namun Kiai hanya memberi criteria, bahwa pemimpin Brebes yang terbaik adalah orang diantara yang baik. Menurutnya, pemimpin yang terbaik itu akan mendapatkan hidayah dari yang Maha Agung.

Yakni, pemimpin yang pertama, mampu membedakan jalan yang baik dan buruk. Kedua, mampu mengubah sifat jelek menjadi sifat baik, dan ketiga bisa berbuat baik kepada semua manusia tanpa pandang bulu.

Kiai mencontohkan, kadang di suatu desa ketika dalam pandangan umum terlihat orang itu seperti ’bajingan’, tiba-tiba menjadi Kepala Desa. ”Tentu, orang tersebut pada hakekatnya mampu mengubah sifat jeleknya menjadi bersifat baik,” ungkapnya sembari tersenyum.

Terkait, kepemimpinan wanita, Kiai Subekhan tidak mempermasalahkannya. Asalkan mampu mewujudkan tiga kriteria diatas. ”Siapapun masyarakat Brebes yang mampu merealisasikan tiga hal tersebut, pilihlah nanti pada Oktober mendatang,” pesan Kiai.

Disamping itu, dia juga mengingatkan pentingnya perioritas pembangunan pertanian di Brebes. Mengingat Brebes daerah agraris yang nota bene sebagai petani bawang, maka produk unggulan itu jangan sampai ditinggalkan. Dalam artian, keterpurukan bawang akan menjadi indikator rendahnya masyarakat Brebes.

”Pemimpin Brebes, harus pula mampu menjembatani petani bawang dari rongrongan pihak luar. ingat bawang, pasti ingat Brebes,” tegasnya.

Kiai Subekhan berdoa, mudah-mudahan Brebes mendapatkan pemimpin yang amanah, diridloi dan dilindungi yang maha kuasa. ”Pemimpin yang rahmatan lil alamin yang mampu mewujudkan negara baldatun toyibatun warobun gofur,” pungkasnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita