Beberapa warga melintasi jalan desa yang terendam banjir. (Foto: Riyanto Jayeng)
PanturaNews (Tegal) - Ribuan rumah warga dan ratusan hektar lahan pertanian di Kecamatan Kramat dan Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terendam banjir. Banjir yang dipicu tingginya curah dan luapan air dari saluran irigasi, Minggu 12 Pebruari 2012 pukul 03:00 WIB, menggenangi pemukiman warga setinggi 1 sampai 1,5 meter.
Dari pantauan di lapangan, dua desa di Kecamatan Suradadi yang tergenang banjir yaitu Desa Sidaharja dan Jatimulya. Sementara di Kecamatan Kramat, banjir melanda Desa Maribaya, Kemuning dan Plumbungan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, banjir telah merusak ratusan hektar lahan pertanian seperti padi, bawang merah, kacang panjang, ketimun, dan cabe rawit. Lahan pertanian lainnya yang berada di masing-masing desa, terancam gagal panen.
Banjir juga menyebabkan aktifitas perekonomian warga yang mayoritas berdagang dan bertani praktis lumpuh total. Ratusan warga memilih mengungsi ke tempat yang aman dari genangan banjir.
Camat Suradadi, Tri Guntoro SH, saat ditemui di lokasi menyebutkan, berdasarkan data sementara yang masuk, ada 600 rumah di Desa Sidaharja yang terendam banjir. Sedangkan yang mengungsi ada 150 jiwa. Mereka mengungsi di lokasi aman seperti masjid dan sekolahan yang tidak terendam banjir.
Sedangkan data sementara di Desa Jatimulya, sedikitnya 150 rumah terendam banjir. Selain itu, dua sekolah dasar (SD) juga terendam, yakni SD Negeri Jatimulya 1 dan 2.
"Kami sudah membentuk Posko untuk pengaduan korban banjir. Posko berada di rumah Kepala Desa," ujarnya.
Banjir ini merupakan luapan dari Sungai Cacaban yang melintas di dua kecamatan tersebut. Korban banjir masih bisa dievakuasi. Ketinggian banjir, mencapai 1 meter hingga 1,5 meter.
Camat mengaku, bencana banjir ini sudah dilaporkan ke Pemkab Tegal dan dinas terkait. Bantuan logistik dan pertolongan pertama, pihaknya berkoordinasi dengan PMI, Satgana, dan relawan dari mahasiswa UPS Tegal.
"Muspika sudah hadir memantau banjir ini sejak pagi. Kami terus mengawasi apabila ada korban jiwa dan korban yang membutuhkan pertolongan," tegasnya.
Secara terpisah, Camat Kramat, Mohamad Natsir S.Sos, mengatakan, jumlah rumah yang terendam banjir di wilayahnya, sekitar 850 rumah lebih. Disebutkan, di Desa Maribaya sebanyak 400 rumah, Desa Plumbungan 450 rumah, dan Desa Kemuning 15 rumah.
Hewan ternak dan unggas bisa diselamatkan. Namun demikian, puluhan hektar lahan pertanian di tiga desa tersebut, terendam banjir. Dipastikan, tanaman itu mengalami gagal panen.
"Sementara ini tidak ada yang mengungsi. Warga masih berdiam diri di rumahnya masing-masing meskipun rumahnya terendam banjir. Ketinggian air mencapai 1 meter. Sedangkan bantuan logistik, baru dari kades setempat. Sementara dari relawan dan Pemkab menyusul. Kami sudah melaporkan atas kejadian ini," paparnya.
Banjir yang menenggelamkan ribuan rumah dan beberapa tempat umum itu, diisukan karena tanggul waduk Cacaban jebol. Namun ketika Kepala UPTD Pariwisata OW Cacaban, Burhanudin di konfirmasi, pihaknya membantah. Dia mengatakan, kondisi air di waduk tersebut terbilang normal.
"Tadi pagi, saya sudah mengecek ke lokasi waduk Cacaban, kondisinya normal dan tidak ada tanggul yang jebol," tegasnya.