Penyair Enthieh Mudakir saat membacakan puisi pada acara “Pembacaan Puisi Multimedia” di Palembang. (Foto: Lanang)
PanturaNews (Tegal) – Penyair Kota Tegal, Jawa Tengah, M. Enthieh Mudakir benar-benar memukau. Dalam acara "Pembacaan Puisi Multimedia", dia membawakan tiga judul puisi dengan diiringi lagu tegalan berjudul "Aja Ngalub" ciptaan Lanang Setiawan dalam iringan musik orkestra.
Itu terjadi pada malam ke dua di hadapan para penyair dunia di ruang Sriwijaya Hotel Swarna Dhiwa, Palembang saat Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V erlangsung di Kota Palembang, Sumatera Selatan tanggal 16 – 19 Juli 2001. Acara tersebut merupakan perhelatan mutakhir bagi penyair yang memiliki video klip pembacaan puisi digabung dengan aransemen musik.
M. Enthieh Mudakir, adalah salah satu peserta yang beruntung tampil dalam agenda tersebut. Saat pembacaan berlangsung, terlihat sosok M.Enthieh muncul di slide layar monitor yang terpampang di panggung pentas berkolaborasi dengan lagu tegalan “Aja Ngalub”.
Dengan mengenakan jaket warna hijau tua, Enthieh berdiri di panggung pertunjukkan dalam guyuran sorot lampu remang-remang. Lagu Tegalan “Aja Ngalub” pun mengalun seirama dentaman pembacaan tiga puisinya berjudul Negri Sumur Tanpa Dasar, Bagi Wijati dan Piek, dilanjutkan sajak Musik Itu Amat Indah.
Tampak harmonis dia menyelaraskan antara pembacaan puisinya dalam tikaman iringan lagu tegalan dengan sosoknya yang terpampang di layar monitor cukup besar, seolah malam itu sedang terjadi tarung pembacaan puisi di antara dua sosok. Itulah yang dimaksudkan dengan “Pembacaan Puisi Multimedia”.
Hal yang sama juga terjadi saat sepuluh para penyair melakukan kunjungan ke SMA Plus Negeri 17 Palembang pada forum Apresiasi Penyair dan Dialog (18/7) pagi, penyair Enthieh membawakan tiga puisi berjudul Puisi Nestapaku, Puisi-puisi, dan Puisi Lugu dalam iringan orekstra lagu tegalan berjudul “Tragedi Jatilawang” ciptaan Lanang Setiawan yang diputar melalui telpon genggam.
Dalam pembacaan di dua tempat itu, respon penonton terhadap pembacaannya mendapat aplaus yang cukup membanggakan. Tampak sekali mereka mengapresiasi pembacaannya dan tenggelam dalam nada iringan lagu tegalan yang dikemas dalam musik berkualitas. Hal itu terbukti saat berlangsungnya pembacaan seluruh penonton terpekur menikmati betul apa yang sedang terjadi di depan panggung pertunjukkan senyampang hamonisasi antara pembacaan dan musik yang mengalir.
Penyair Anwar Putra Bayu, asal Palembang yang juga selaku sekretaris panitia PPN V, mengatakan, cukup berkesan dengan penampilan M. Enthieh Mudkair saat berlangsung acara “Pembacaan Puisi Multimedia”.
“Ternyata lagu tegalan dengan musik orkestra mampu memberikan nuansa pembacaan yang cukup menarik. Meskipun saya tidak seluruhnya memahami bahasa tegalan, tapi dari cengkok lagu yang ada pada syairnya, batin saya cukup tersentuh dengan irama orkestra yang pedih dan menyanyat. Tapi pada intinya saya menyukainya,” terang Anwar panggilan akrabnya.
Senada dengan Anwar Putra Banyu, Persiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri saat dihubungi secara terpisah, mengaku merasa enjoy menikmati Pembacaan Puisi Multimedia yang diusung oleh Enthieh. Meski dia tidak mengenal bahasa tegalan namun eksistensi antara pembacaan dan lagu tegalan dalam iringan musik orkestra patut dikembangkan.
Sutardji menandaskan, pembacaan puisi dengan iringan lagu daerah, menandai sebuah jatidiri seorang penyair di mana dia berasal atau dilahirkan. Hal itu menurutnya akan memperkuat eksistensinya sebagai seorang penyair. “Saya respon sekali pada para penyair yang menggabungkan antara pembacaan dengan lagu atau musik yang berasal dari daerah masih-masing,” katanya. Hal yang sama juga dikatakan Lanang Setiawan, pada saat kunjungan di SMA Plus Negeri 17 Palembang. Dia mengatakan bahwa bahasa lokal dan lagu tegalan menjadi ciri khas dan benteng kebudayaan di masing-masing daerah.
Sementara itu, M. Enthieh Mudakir, dalam sambutan sebelum melakukan pembacaan menuturkan rasa terima kasih pada Lanang Setiawan yang menyimpan klip dirinya dan beberapa lagu tegalan di handphonnya, sehingga pada acara yang cukup bergengsi itu dirinya berkesempatan turut beraksi. “Kalau saja dihandphon Lanang tidak menyimpan klip dan lagu-lagu tegalan ciptaannya dengan musik orkestra garapan Bintoro Tanpo Aran, saya tidak bisa tampil di acara trung Pembaca Puisi Multimedia itu,” katanya.
Menurutnya, acara tersebut menjadi agenda dadakan membuat para penyair tak mampu berkutik untuk bisa beraktion. Karena syarat tampil pada mimbar tersebut harus berkolaborasi antara klip dirinya dengan minus one musik atau lagu dari daerah asal penyair, dan setidak-tidaknya diiringi musik dari ciptaannya sendiri.
Hal yang menarik juga dilakukan oleh pasangan suami istri Dyah Setyowati dan Nurochman Sudibyo YS. Pada malam tarung “Pembacaan Puisi Multimedia”, mereka selain diiringi minus one lagu Cirbonan, dilengkapi juga dengan penampilan wayang golek gaya Cirbonan yang mereka persiapkan.
Perhelatan PPN V yang berlangsung selama empat hari itu, acara di buka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan Ir. H. Alex Noerdin SH di Griya Agung Jalan Demang Lebar Daun, Palembang. Upacara berlangsung meriah namun khidmat dan diisi antara lain penampilan penyair kondong Sutardji Calzoum Bachir, Nana Riskhi Susanti (Tegal), musikalisasi puisi karya JJ Polong dan M Iqbal J Permana serta Rejung Pesirah Group, Palembang.
Acara PPN V ini dihadiri 200 penyair dari lima Negara yaitu Indonesia, Brune Darussalam, Singapura, Malaysia, Thahiland, dan perwakilan dari Negara Srilanka serta Swedia. Sastrawan kondang yang hadir dari Indonesia antara lain Taufiq Ismail, Budi Darma, Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Nanang Suryadi, Bambang Widiatmoko, Arsyad Indradi, dll termasuk dihadiri oleh Anggota Komisi V DPRD Kabupaten Tegal, Wahidin dari bidang Pariwisata dan Budaya. “Karena saya mengampu bidang pariwisata dan budaya, saya berkepentingan untuk hadir pada perhelatan PPN V Palembang ini,” katanya.
Agenda acara selain peluncuran buku antologi puisi “Akulah Musi”, puisi, seminar, apresiasi ke sekolah/perguruan tinggi, pameran buku, dan wisata budaya ke perkampungan pendatang orang pertama di Palembang, Sungai Musi, Musium Sultan Mahmud Badaruddin II, dan komplek pembangunan penyelenggaraan Sea Games.
Laporan langsung Lanang Setiawan dari Palembang