Masjid Ceng Ho Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa tengah, yang segera akan diresmikan oleh Ketum Kospin Jasa Pekalongan. (Foto: Firga)
PanturaNews (Pekalongan) - Sedikitnya 350 penghafal Al Qur’an (Hafidz) dari 45 Pondok Pesantren (Ponpes) di Jawa Tengah, Yogyakarta, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat pada 25-26 Juni 2011 akan berkumpul di Pondok Ponpes Modern Al Qur’an, Buaran, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Kehadiran para Hafids pada hari Sabtu dan Minggu tersebut, untuk mengikuti acara silaturahmi yang digelar oleh Lajnah Silaturahim Lihalamalatil Qur’an Pekalongan, yang kali ini mengambil tema “Peranan dan Fungsi Al Qur’an dalam Kehidupan Masyarakat”.
“Acara ini bertujuan untuk menggalang persaudaraan, persatuan dan kesatuan Huffadhul Qur’an, meningkatkan wawasan tentang Al Qur’an melalui kajian ilmiah, meningkatkan sumber daya Huffadhul Qur’an lahir bathin serta membangun citra penghafal Qur’an untuk berhidmah kepada umat lewat sektor pendidikan,” jelas ketua panitia pelaksana, H Mahmud Masykur, dalam jumpa pers di kantor pusat Kospin Jasa Kota Pekalongan, Rabu 22 Juni 2011.
Ketua Umum Kospin Jasa, H Zaky Arslan Djunaid dalam kesempatan itu mengungkapkan, acara silaturahmi para Hafidz se Pulau Jawa ini digagas oleh H Djunaid, salah satu pendiri Kospin Jasa, dan sudah berjalan selama 10 kali. Namun sempat vakum selama beberapa priode, dan kali ini adalah penyelenggaraan kali kedua.
Rencananya, setelah prosesi pembukaan, acara hari pertama akan diawali dengan ceramah ilmiah “Peranan dan Fungsi Al Qur’an dalam kehidupan Masyarakat” oleh Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Prof DR H Nazarudin Umar MA.
Sedang acara utama pada hari kedua sebelum penutupan adalah Samaan Al Qur’an Bil Ghoib 30 juz, dimana tiap Hafidz wajib mengumandangkan 6 juz dan tiap ponpes dilaksanakan oleh 5 orang santri.
Tempat samaan berada di Masjid Jami Umi Salechah Djunaid, Pondok Putera KH Syafii Abdul Majid, Pondok Puteri Umi Salechah Djunaid dan Gedung Pertemuan HA Djunaid. “Tiap pondok satu kali khataman Qu’an. Puncaknya khataman kubro di Masjid Umi Salechah Djunaid,” jelas Mahmud Masykur.
Dulu, ungkap H Zaky, peserta selama mengikuti acara serupa terpaksa “dititipkan” di rumah-rumah warga di Kelurahan Kauman, Pesindon dan lainnya. “Tapi, kini semua peserta bermalam di Ponpes Modern Al Qur’an, Buaran,” ujar Zaky.
Kompleks ponpes di Jalan Pesona III Buaran, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan ini memang terbilang luas dan komplet fasilitasnya.
Dalam kawasan Islami yang di bangun oleh keluarga Djunaid ini, selain Ponpes juga dibangun Rumah Sakit (RS) HA Djunaid, yang rencananya akan dikembangkan menjadi rumah sakit yang tak menolak pasien dengan latar belakang apapun.
“Diharapkan RS membantu warga tak mampu, itu komitmen kami.” ujar Zaky. Tokoh koperasi nasional ini bahkan menyindir pemerintah yang selalu mengembalikan persoalan sosial ke masyarakat sebagai bentuk cuci tangan.
Selain itu, Zaky juga mengungkapkan dalam waktu dekat pihaknya akan meresmikan Masjid Ceng Ho, di Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, hasil kerja sama dengan Persatuan Islam Tauhid Indonesia (PITI),
“Dananya juga kerja sama. 10 persen PITI, 90 persen kita. Masjid ini karena kerja sama dengan PITI bentuknya jadi tak kalah keren dari klenteng,” ujar Zaky yang memang dikenal punya segudang joke menyegarkan.