Senin, 14/02/2011, 20:10:00
Kedelai Hilang, Pengusaha Turunkan Produkdi Tahu
KN-Kuntoro

Pengusaha tahu dan tempe menurunkan produksinya sejak kedelai lokal menghilang. (Foto: Dokumen)

PanturaNews (Brebes) - Hilangnya kedelai lokal di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin 14 Januari 2011, berimbas kepada usaha pembuatan tahu. Produsen tahu di Pedukuhan Anggamaya, Desa Kedungbokor, kini menurunkan produksinya, karena bahan baku kedelai naik dari Rp 5500 menjadi Rp 7000 per kilogram.

Namun demikian, para pengusaha tahu di daerah tersebut tidak berani menaikkan harga, karena dikhawatirkan tidak laku di pasaran. “Semenjak kenaikan harga kedelai dan tidak adanya kedelai lokal, produksi tahu kami menurun, namun kami tidak berani menaikkan harga ataupun mengurangi ukuran tahu karena takut tidak laku,” ujar Nur Asiah, pengusaha tahu asal Anggamaya.

Selain naiknya harga kedelai, produksi tahu juga terbentur oleh hilangnya kedelai lokal. Para pembuat tahu terpaksa menggunakan kedelai impor untuk menjaga kelangsungan produksi tahu. Padahal dengan menggunakan kedelai impor, tepung kedelai yang dibuat untuk produksi tahu berkurang.

“Dengan menggunakan kedelai impor produksi tahu kami berkurang, apalagi kedelai impor sering banyak yang busuk membuat kami merugi,” keluh Nur Asiah.

Naiknya harga kedelai di Brebes menjadi Rp 7000 per kilogram, membuat pengrajin tempe resah. Para pengrajin cemas dengan usaha mereka yang merugi akibat melambungnya harga kedelai. Untuk menekan kerugian, para pengrajin terpaksa mengurangi produksi tempe.

Para pengusaha tahu yang tergolong pengusaha kecil, berharap agar pemerintah kembali mengatur penjualan kedelai agar bisa dikendalikan. Jika harga kedelai tidak dikendalikan, kemungkinan pengusaha akan menghentikan produksi tahu tempe.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita