PanturaNews (Tegal) -- Pemerintah Kabupaten Tegal terus mematangkan inovasi sistem tanggap darurat yang ramah disabilitas melalui pengembangan Call Center 112 berbasis video.
Tujuannya adalah untuk memastikan penyandang disabilitas, khususnya tuli dan wicara, dapat mengakses bantuan darurat secara cepat, mudah, dan bermartabat.
Pengembangan teknologi ini dibahas secara intensif dalam Workshop Penyusunan Modul Pelatihan Petugas Layanan Inklusif yang digelar di Kabupaten Tegal, Senin (3/8).
Agenda ini merupakan kelanjutan dari perumusan Standar Operasional Prosedur (SOP) Layanan Inklusif yang disahkan pada 1 Agustus 2026 lalu.
Inovasi tersebut lahir dari riset kolaboratif Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI-Saintek) yang melibatkan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Pancasakti Tegal, Universitas Bhamada Slawi, dan Universitas Muhadi Setiabudi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tegal, Nur Hayati, menyatakan bahwa pemanfaatan layanan berbasis video ini menjadi bukti nyata komitmen daerah dalam menghilangkan hambatan komunikasi pada layanan publik darurat.
"Inovasi layanan publik harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi," ujar Nur Hayati, Rabu 5 Agustus 2026.
Melalui fitur panggilan video, masyarakat penyandang disabilitas dapat berkomunikasi langsung dengan petugas operator menggunakan bahasa isyarat.
Untuk mendukung hal tersebut, modul pelatihan petugas kini tengah dirancang dengan melibatkan akademisi, juru bahasa isyarat, PT Digital Sandi Informasi (DSI), operator Call Center 112, hingga komunitas Difabel Slawi Mandiri.
Director for Asia Tenggara European Disability Forum (EDF), Dr. Arif Zaenudin, M.I.P., yang hadir sebagai narasumber, mengapresiasi terobosan berbasis video ini.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi visual pada layanan darurat selaras dengan standar internasional.
"Transformasi digital pemerintahan tidak hanya berorientasi pada digitalisasi layanan, tetapi juga harus memastikan seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh akses yang setara dan bermartabat," tegas Arif.
Selain interaksi panggilan video, modul pelatihan yang sedang disusun juga mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), standar etika komunikasi, serta mekanisme pemantauan kualitas pelayanan.
Ke depan, Call Center 112 berbasis video ini diharapkan dapat menjadi rujukan nasional bagi daerah lain dalam membangun ekosistem layanan darurat yang aman, responsif, dan inklusif bagi seluruh warga.