PanturaNews (Brebes) - Suasana di sekitar Telaga Ranjeng, Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, mendadak riuh pada Rabu (17/6) siang.
Ribuan pasang mata tertuju pada gundukan tumpeng besar dan gunungan hasil bumi yang berdiri megah di tengah kerumunan.
Hanya dalam hitungan detik setelah doa selesai dipanjatkan, ketenangan itu pecah. Warga, tua maupun muda langsung merangsek maju, saling dorong secara komunal, dan berebut sayur-mayur, buah-buahan, hingga bagian dari tumpeng. Tidak ada amarah di sana, yang ada justru gelak tawa dan rona bahagia.
Itulah sepenggal kemeriahan tradisi Ratiban, sebuah ritual tahunan khas Desa Pandansari yang digelar setiap hari Kliwon pada bulan Suro atau Muharam.
Tradisi yang telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada tahun 2025 ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi terdalam dari rasa syukur masyarakat atas segala berkah, keselamatan, dan hasil tani yang melimpah.
Simbol Akulturasi dalam 'Ujud-Ujud'
Sebelum suasana berubah menjadi rebutan yang riuh, rangkaian Ratiban sebenarnya dimulai dengan khidmat. Warga mengawali hari dengan mengarak tumpeng dan hasil bumi (kirab) dari kantor desa menuju telaga purba tersebut.
Sesampainya di tepi Telaga Ranjeng, nuansa sakral begitu terasa saat ribuan warga duduk bersila mengikuti istigasah dan doa bersama. Di momen inilah ritual ujud-ujud dilaksanakan.
Ujud-ujud merupakan tradisi doa dalam kebudayaan Jawa yang dahulu diperkenalkan oleh para wali saat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sebuah bukti nyata bagaimana nilai spiritualitas dan adat lokal mampu berjalan beriringan selama berabad-abad.
Setelah doa, ritual dilanjutkan dengan kepungan makan bersama yang menyimbolkan kesetaraan, sebelum akhirnya gunungan hasil bumi dilepas untuk diperebutkan oleh warga yang mencari berkah.
Harmoni Manusia dan Alam: Ritual Memberi Makan Ikan
Keunikan Ratiban tidak berhenti sampai di situ. Usai keseruan berebut gunungan mereda, warga bergerak menuju bibir Telaga Ranjeng. Tradisi kemudian dilanjutkan dengan ritual memberi makan ribuan ikan penghuni telaga.
Bagi masyarakat Pandansari, ikan-ikan di Telaga Ranjeng adalah bagian dari ekosistem yang keramat dan tidak boleh ditangkap secara sembarangan. Ritual memberi makan ini menjadi simbol kuat mengenai pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam sekitar.
Kepala Desa Pandansari, Irwan Susanto, mengungkapkan bahwa esensi spiritual dan lingkungan inilah yang ingin terus dipertahankan. Tahun ini, pihak desa sengaja mengusung tema "The Ancient Echoes of Pandansari" dengan tajuk "Ngruwat Tirta, Nguri-uri Budaya Leluhur".
"Kami ingin Ratiban tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Pandansari. Karena itu, tradisi ini perlu terus dikenalkan kepada generasi muda," ujar Irwan, Rabu (17/6).
Menjaga Identitas di Tengah Zaman
Kemeriahan pesta rakyat ini kian lengkap dengan gema musik tradisional. Pengunjung disuguhi penampilan Tari Ratiban dari Peradaban Art Club hingga pertunjukan Ronggeng khas Pandansari. Kesenian Ronggeng ini memiliki nilai sejarah kuat karena sudah eksis menghibur para pekerja sejak masa pembangunan Pabrik Teh Kaligua di era kolonial.
Apresiasi tinggi pun datang dari Wakil Bupati Brebes, Wurja, yang turut hadir bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Brebes, Fajar Adi Widiarso.
Menurut Wurja, konsistensi warga Pandansari dalam merawat Ratiban adalah langkah krusial dalam mempertahankan identitas daerah. Di tengah gempuran budaya modern, tradisi seperti Ratiban di Telaga Ranjeng membuktikan bahwa akar budaya lokal di Brebes masih menghujam sangat dalam dan tak lekang oleh waktu.