PanturaNews (Pekalongan) - Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga September 2026 mulai memicu ancaman krisis air di Kabupaten Pekalongan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memetakan sedikitnya 39 desa dan kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan parah.
Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto, mengungkapkan bahwa dampak penurunan debit air sudah mulai meluas. Pasokan air untuk sektor pertanian tersendat dan sejumlah embung desa mulai mengering.
"Mitigasi sudah kami lakukan dengan memetakan wilayah rawan. Saat ini ada 10 kecamatan mencakup 39 desa yang menjadi prioritas penanganan," kata Agus, Minggu, 26 Juli 2026.
Sebagai langkah darurat, BPBD menerapkan sistem pendistribusian air bersih secara bergiliran (shifting) serta menyiagakan 18 unit tandon air di titik-titik rawan.
Warga juga diimbau menghemat air dan menghindari aktivitas yang memicu kebakaran lahan, seperti membakar serasah atau jerami sisa panen.
Kondisi kritis salah satunya meluas di Kelurahan Sragi. Lurah Sragi, Teguh, mencatat sekitar 816 jiwa dari 238 kepala keluarga (KK) di tiga dukuh, Ringinpitu, Pesantren, dan Gembyong mulai kesulitan mendapat air bersih sejak dua pekan terakhir.
Meski bantuan pasokan air bergilir dari BPBD sudah masuk selama sepekan terakhir, Teguh menilai volumenya masih belum mencukupi kebutuhan harian warga.
"Kami berharap ada tambahan pasokan bantuan air dari instansi lain maupun lembaga sosial agar kebutuhan dasar warga tetap terjamin," ujar Teguh.