Minggu, 26/04/2026, 12:31:22
Antara Dominasi Ekonomi, Salah Arah Pendekatan, dan Peluang Market-Oriented Global UMKM Banyumas
OLEH: PUJIANTO
.

USAHA Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah lama menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menunjukkan, bahwa jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai lebih dari 65 juta unit usaha pada tahun 2023.

UMKM ini berkontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap hampir 97% tenaga kerja (Kemenkop UKM, 2023). Fakta ini menegaskan bahwa UMKM bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama stabilitas ekonomi Indonesia.

Di tingkat daerah, termasuk di Banyumas, UMKM memainkan peran strategis dalam menjaga perputaran ekonomi lokal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS Kabupaten Banyumas, 2023), sektor perdagangan, industri pengolahan skala kecil, dan kuliner menjadi penyumbang utama aktivitas ekonomi masyarakat.

UMKM di Banyumas banyak bergerak pada produk berbasis lokal seperti makanan olahan, kerajinan tangan, dan produk herbal tradisional yang memiliki potensi nilai tambah tinggi apabila dikelola dengan strategi yang tepat.

Namun demikian, di balik kontribusinya yang besar, UMKM masih menghadapi berbagai tantangan klasik. Permasalahan utama yang sering muncul antara lain keterbatasan akses pasar, rendahnya literasi digital, lemahnya diferensiasi produk, serta ketergantungan pada pola produksi konvensional (OECD, 2022).

Salah satu persoalan yang jarang disorot namun sangat krusial adalah pendekatan pengembangan UMKM yang masih cenderung berorientasi pada produk (product-oriented), bukan pada pasar (market-oriented).

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa berbagai program pelatihan yang diselenggarakan pemerintah daerah -khususnya di tingkat kabupaten- lebih banyak menitikberatkan pada peningkatan kemampuan produksi, seperti pelatihan membuat kemasan, inovasi rasa, hingga teknik produksi yang efisien. Meskipun penting, pendekatan ini seringkali mengabaikan aspek yang jauh lebih menentukan keberhasilan bisnis, yaitu pemahaman terhadap kebutuhan dan perilaku pasar.

Padahal, konsep market orientation yang dikemukakan oleh Narver and Slater (1990) menegaskan bahwa keberhasilan bisnis sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam memahami pelanggan, memantau pesaing, serta merespons perubahan pasar secara adaptif.

Penelitian terbaru dalam jurnal Journal of Business Research (2021) juga menunjukkan bahwa UMKM yang menerapkan pendekatan market-oriented memiliki peluang pertumbuhan dua kali lebih tinggi dibandingkan yang hanya berfokus pada produk. Hal ini diperkuat oleh studi Strategic Management yang menegaskan bahwa orientasi pasar berkontribusi signifikan terhadap keunggulan kompetitif jangka panjang (Kohli & Jaworski, 1990).

Jika pendekatan ini diterapkan secara serius, maka peluang pasar global sebenarnya terbuka sangat lebar, termasuk bagi UMKM di Banyumas. Salah satu pasar potensial yang layak dipertimbangkan adalah Jepang. Negara tersebut dikenal memiliki ketertarikan tinggi terhadap produk natural, autentik, dan bernilai budaya (JETRO, 2023).

Produk-produk seperti makanan sehat berbasis rempah (jahe, kunyit), camilan tradisional rendah gula, serta kerajinan berbasis eco-friendly memiliki peluang besar untuk diterima di pasar Jepang.

Sebagai contoh, tren konsumsi di Jepang saat ini mengarah pada produk functional food dan wellness product, yang sejalan dengan karakter produk UMKM Banyumas seperti olahan jahe, gula kelapa organik, dan herbal tradisional.

Selain itu, pasar Jepang juga menghargai storytelling produk—asal-usul, proses produksi, hingga nilai budaya di baliknya—yang justru menjadi kekuatan alami UMKM Indonesia (JETRO, 2023; Ministry of Economy, Trade and Industry Japan, 2022).

Namun, untuk dapat masuk ke pasar tersebut, UMKM tidak cukup hanya meningkatkan kualitas produk. Diperlukan transformasi pendekatan menjadi market-oriented, yang mencakup riset pasar, pemahaman regulasi ekspor, standardisasi produk, hingga strategi branding internasional. Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat krusial.

Kebijakan pengembangan UMKM ke depan perlu bergeser dari sekadar pelatihan teknis produksi menuju pelatihan berbasis pasar. Program-program yang dapat dikembangkan antara lain pelatihan ekspor berbasis negara tujuan (country-specific market training), pelatihan riset pasar digital, simulasi penetrasi pasar internasional, hingga inkubasi bisnis berbasis ekspor. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga seperti Japan External Trade Organization dapat menjadi jembatan strategis untuk membuka akses pasar Jepang bagi UMKM lokal.

Di tingkat daerah seperti Banyumas, pemerintah dapat mulai dengan memetakan produk unggulan yang memiliki potensi ekspor, kemudian mengarahkan pelatihan dan pendampingan secara lebih terfokus. Pendekatan ini akan jauh lebih efektif dibandingkan pelatihan massal yang tidak berbasis kebutuhan pasar.

Pada akhirnya, kekuatan UMKM Indonesia bukan hanya terletak pada jumlahnya yang besar, tetapi pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan dinamika pasar global. Transformasi dari product-oriented menjadi market-oriented bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Tanpa perubahan ini, UMKM akan terus memproduksi tanpa kepastian pasar. Namun dengan pendekatan yang tepat, UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi pemain global yang diperhitungkan.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita