PanturaNews (Brebes) - Masalah kesehatan jiwa di Kabupaten Brebes menjadi sorotan tajam. Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) setempat melaporkan sebanyak 3.966 warga kini menyandang status sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Tingginya angka ini memicu pertanyaan mengenai kesiapan daerah dalam menangani kondisi kesehatan mental masyarakat.
Berdasarkan data capaian program kesehatan jiwa sepanjang periode Januari hingga Desember 2025, ribuan pasien tersebut tercatat telah mengakses fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah.
Namun, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait penanganan pasien yang memiliki perilaku agresif.
Kepala Dinkesda Brebes, dr. Heru Padmonobo, mengungkapkan bahwa tren kasus ODGJ di wilayahnya mengalami peningkatan dalam empat tahun terakhir.
Dari hasil pemetaan, mayoritas pasien didominasi oleh penderita Skizofrenia dan Gangguan Psikotik dengan kategori kasus menengah hingga berat.
"Hasil skrining kami menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan pada usia produktif. Untuk kelompok usia 15-59 tahun, tercatat ada 3.779 pasien. Sementara usia anak (0-14 tahun) sebanyak 81 pasien dan lansia sebanyak 106 pasien," jelas dr. Heru saat dikonfirmasi, Senin (13/4/2026).
Mirisnya, meski akses pengobatan sudah tersedia, praktik pemasungan belum sepenuhnya hilang. Tercatat masih ada 33 pasien yang terpaksa dipasung oleh pihak keluarga.
Langkah ini diambil lantaran pasien sering mengamuk dan kondisinya dianggap mengancam keselamatan diri sendiri maupun orang lain di lingkungan sekitar.
Dr. Heru mengatakan bahwa salah satu pemicu utama pasien kembali kambuh atau relaps adalah lemahnya pengawasan minum obat dari pihak keluarga.
"Sinergi antara pemerintah desa, keluarga, dan lingkungan sangat krusial. Kami di Dinkesda, bersama Dinsos dan Dindukcapil, terus berupaya memberikan pelayanan sesuai standar agar tidak ada lagi pasien yang telantar," terangnya.
Senada dengan hal itu, Pengelola Program Kesehatan Jiwa Dinkesda Brebes, Nuke Prasetyani, menjelaskan bahwa faktor psikososial atau pengaruh lingkungan menjadi pemicu dominan gangguan kejiwaan di Brebes.
"Kami fokus pada optimalisasi layanan dari hulu ke hilir. Edukasi kepada keluarga sangat penting untuk memotivasi pasien agar berobat teratur sekaligus mengikis stigma negatif yang selama ini melekat pada penderita ODGJ," tandas Nuke.