Rabu, 28/01/2026, 08:19:15
Dari Salam Menjadi Keluarga: Hari Pertama Kebersamaan Mahasiswa KKN UPB di TPQ Desa Taraban
OLEH: TIM KELOMPOK 16 KKN MAHASISWA UPB
.

DI banyak desa, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia adalah ruang tumbuh, ruang pulang, sekaligus ruang harapan.

Hal itulah yang kami rasakan pada hari pertama kebersamaan kami sebagai mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, ketika menyapa anak-anak TPQ di desa tempat kami mengabdi.

Hari itu tidak dimulai dengan agenda besar. Tidak ada program rumit, tidak pula target yang harus segera dicapai. Kami datang ke Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, membawa salam, senyum, dan niat baik.

Namun justru dari kesederhanaan itulah, kebersamaan mulai terbangun. Anak-anak menyambut dengan mata berbinar, sebagian malu-malu, sebagian lain tanpa ragu langsung duduk di dekat kami. Seolah kehadiran kami bukan sesuatu yang asing.

Di TPQ, kami belajar satu hal penting: kehadiran sering kali lebih bermakna daripada konsep. Anak-anak tidak menuntut metode pengajaran yang sempurna. Mereka hanya ingin ditemani, didengar, dan diperhatikan.

Saat kami duduk bersila bersama, membantu membenarkan bacaan, atau sekadar tertawa ketika ada yang keliru melafalkan huruf hijaiyah, jarak antara “mahasiswa” dan “santri” perlahan menghilang.

Pengalaman hari pertama ini, menyadarkan kami bahwa KKN bukan hanya tentang menjalankan program kerja yang tercantum dalam proposal. KKN adalah proses menyatu dengan kehidupan masyarakat. TPQ menjadi ruang di mana relasi itu terbangun secara alami. Dari salam yang sederhana, tumbuh rasa akrab. Dari pertemuan yang singkat, lahir rasa memiliki.

Menariknya, proses belajar di TPQ berjalan dua arah. Anak-anak belajar mengaji, sementara kami belajar tentang kesabaran dan ketulusan. Mereka mengajarkan kami bagaimana memaknai kebersamaan tanpa sekat status dan peran. Di hadapan anak-anak TPQ, gelar “mahasiswa” tidak lagi penting. Yang dibutuhkan hanyalah kehadiran yang utuh.

Hari pertama kebersamaan di TPQ mungkin tidak tercatat sebagai program unggulan. Namun justru di situlah esensi pengabdian itu hidup. Ketika salam berubah menjadi sapa, sapa menjadi cerita, dan cerita menjelma ikatan layaknya keluarga.

Barangkali, dari TPQ inilah kami belajar bahwa KKN sejatinya bukan tentang apa yang kita ajarkan, melainkan tentang bagaimana kita hadir. Karena pada akhirnya, pengabdian yang paling membekas bukan yang paling terstruktur, tetapi yang paling dirasakan.

Tim Kelompok 16 KKN Mahasiswa Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes, di Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah:

Fadillatul Umamah, Ani Lestari, Iwan Muzaki, Saniatul Khoeriyah, Rindang Cahya Kemilau, Ivan Widodo, Bilqist Ftikhatul Safitri, Ahmad Fozi, Ilham Nur Fajar.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita