DI era digital yang serba cepat ini, wajah perdagangan telah berubah. Jika dulu perusahaan dagang cukup mengandalkan etalase toko atau sekadar memasang foto produk di media sosial, kini strategi tersebut mulai usang.
Konten bukan lagi sekadar pelengkap promosi, melainkan "komoditas" itu sendiri. Perusahaan dagang masa kini dituntut untuk tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual cerita, edukasi, dan hiburan yang mampu memikat hati calon pembeli sebelum mereka memutuskan untuk bertransaksi.
Menurut Waziri (2021), transformasi bisnis era digital merupakan langkah strategis bagi perusahaan untuk tetap relevan dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Penggunaan teknologi informasi dalam bisnis telah menghadirkan efisiensi baru, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang baru untuk pertumbuhan bisnis.
Banyak pelaku usaha masih terjebak dalam pola lama, yaitu hard selling yang membosankan. Konten yang cuma berupa foto produk dengan caption "Harga Hubungi WA" cenderung dilewati oleh audiens.
Akibatnya, biaya iklan jadi membengkak tanpa hasil sepadan, dan loyalitas pelanggan sulit terbentuk karena interaksi hanya bersifat transaksional tanpa ada kedekatan emosional.
Dapat dipastikan bahwa pentingnya konten dalam penjualan dikatakan oleh Joe Pulizzi, pendiri Content Marketing Institute, yang mengatakan bahwa “Konsumen tidak peduli dengan produk Anda, mereka peduli dengan Masalah-Masalah Mereka sendiri. Jadilah solusi melalui konten."
Data dari laporan "The State of Marketing" tahun 2024 yang dipublish oleh HubSpot menunjukkan bahwa yang paling tinggi diraih oleh video pendek (TikTok, Reels, Shorts).
Untuk mengubah konten menjadi cuan, strategi harus diterapkan oleh sebuah perusahaan dagang. Cuan pertama, dengan konten edukasi yang menyelesaikan masalah penonton. Cara ke dua, dengan demo produks atau testimoni.
Cara ke tiga, dengan Call to Action yang tegas, contohnya adalah kupon diskon spesial hanya bisa diakses para penonton konten. Dengan hal itu, konten berfungsi sebagai tenaga penjual otomatis yang bekerja 24 jam .
Selain itu Langkah inovatif yang bisa dimulai adalah menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mempersonalisasi konten. Di samping itu, agar para pelanggan mengadakan konten tentang produk Anda dengan reward berupa poin atau diskon, itu adalah cara yang paling efektif dalam mendapatkan pemasaran dengan sangat murah dan sangat dipercaya.
Mengubah konten menjadi cuan bukan tentang seberapa mahal alat produksi video, melainkan seberapa relevan cerita yang disampaikan kepada audiens. Perusahaan dagang yang mampu menyajikan konten kreatif, edukatif, dan solutif akan memenangkan pasar di tengah persaingan digital yang ketat.
Di samping itu konten adalah jembatan bahwa semakin kokoh jembatan tersebut dibangun, semakin lancar pula arus cuan mengalir ke kantong perusahaan.
(Sinta Kinanti Larasati adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis (FEB) Program Studi Akuntansi, Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Desa Ciberung, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Email: sintakinlarasati@gmail.com)