Selasa, 13/01/2026, 13:01:28
Pengaruh Media Sosial Terhadap Kehidupan Remaja Di Era Digital
OLEH: TUTI LESTARI
.

MEDIA sosial telah berkembang menjadi fenomena global yang mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Di Indonesia, laporan We Are Social (2024) mencatat jumlah pengguna media sosial mencapai lebih dari 167 juta orang, dengan dominasi usia remaja hingga dewasa muda.

Sementara itu, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 93 % remaja berusia 13–19 tahun aktif menggunakan media sosial setiap hari dengan rata-rata durasi penggunaan mencapai 5,8 jam per hari.

Bagi remaja, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang berekspresi, membangun identitas diri, serta memperluas jaringan pertemanan. Media sosial memiliki pengaruh besar karena memungkinkan konektivitas instan tanpa dibatasi jarak, menyediakan akses informasi yang cepat, serta menjadi wadah ekspresi.

Selain itu, media sosial turut mengubah cara individu membangun citra diri dan berinteraksi, sekaligus memengaruhi partisipasi publik dalam berbagai isu sosial. Namun, tingginya intensitas penggunaan media sosial juga menghadirkan tantangan, seperti menurunnya kualitas interaksi tatap muka, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sekitar, serta munculnya fenomena fear of missing out (FOMO). Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana media sosial mampu memperkaya atau justru mengurangi kualitas interaksi sosial remaja.

Penggunaan media sosial telah membawa berbagai dampak terhadap kehidupan remaja, baik dalam aspek positif maupun negatif. Seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari remaja.

-1. Dampak Positif

-a. Memperluas jaringan sosial: Melalui berbagai platform digital, remaja dapat terhubung dengan individu dari latar belakang dan wilayah yang berbeda. Media sosial juga memudahkan remaja untuk memperoleh informasi secara cepat dan aktual, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan peristiwa, tren, serta pengetahuan di berbagai bidang.

-b. Berbisnis secara online: Kemudahan promosi, transaksi digital, dan jangkauan pasar yang luas menjadikan media sosial sebagai ruang yang potensial untuk mengembangkan bisnis. Aktivitas ini tidak hanya memberikan peluang ekonomi, tetapi juga melatih kreativitas, kemandirian, serta kemampuan beradaptasi remaja terhadap teknologi.

-c. Timbulnya body image positif: Melalui konten yang mendorong penerimaan diri dan rasa syukur, sebagian remaja mampu menghargai kondisi fisiknya apa adanya. Citra tubuh yang positif ini berkaitan dengan meningkatnya kepercayaan diri dan sikap menerima perubahan fisik yang dialami selama masa pertumbuhan.

-2. Dampak Negatif

-a. Kecanduan: Ketergantungan ini membuat remaja sulit mengontrol waktu penggunaan media sosial, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

-b. Adanya perbandingan sosial: Media sosial sering mendorong remaja untuk membandingkan diri dengan orang lain, terutama terkait penampilan, gaya hidup, dan pencapaian. Kebiasaan ini dapat memicu rasa tidak puas, menurunkan kepercayaan diri, serta menimbulkan tekanan emosional dan kecemasan.

-c. Berkurangnya interaksi sosial secara langsung: Kondisi ini berdampak pada menurunnya kualitas hubungan sosial dengan keluarga dan lingkungan sekitar, karena perhatian remaja lebih banyak tercurah pada dunia digital.

-d. Cyberbullying: Perundungan dalam bentuk komentar negatif, hinaan, atau penyebaran informasi yang merugikan dapat menimbulkan tekanan psikologis. Dampaknya meliputi menurunnya rasa percaya diri, perasaan terasing, hingga gangguan kesehatan mental.

-e. Mengakses situs dewasa: Kebebasan akses informasi di media sosial juga meningkatkan risiko remaja terpapar konten yang tidak sesuai, termasuk konten pornografi.

-f. Body image negatif:

Paparan standar kecantikan yang tidak realistis di media sosial dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri. Kondisi ini mendorong sebagian remaja, khususnya perempuan, mengalami kecemasan dan penurunan kepercayaan diri akibat tekanan untuk memenuhi standar fisik tertentu.

Darmawan et al. (2019) menekankan bahwa literasi digital menjadi kunci dalam membantu remaja menggunakan media sosial secara bijak. Melalui literasi digital, remaja dapat memaksimalkan manfaat media sosial sekaligus mengurangi dampak negatifnya tanpa mengabaikan nilai sosial dan budaya.

Selain itu, peran orang tua juga penting melalui pengawasan yang wajar dan komunikasi terbuka agar remaja terhindar dari perilaku negatif seperti kecanduan dan perundungan daring. Orang tua diharapkan mampu membimbing anak dalam berinteraksi secara sehat di dunia maya, termasuk menjaga etika, privasi, dan menyaring informasi.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita